Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Juni 2017 | 17.01 WIB

Slametan Bada, Ritual Lebaran yang Tak Lekang Oleh Zaman

Puluhan jemaah Musala Asy-Syafii tengah berdoa dalam acara - Image

Puluhan jemaah Musala Asy-Syafii tengah berdoa dalam acara


JawaPos.com - Setiap daerah di wilayah Indonesia tentunya punya tradisi khusus dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga dengan daerah di wilayah Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.


Di wilayah pesisir pantai utara ini, tepatnya di Kelurahan Beji, Kecamatan Taman, punya tradisi khusus yang bernama "slametan bada". Slametan bada atau yang dalam bahas nasional berarti syukuran Hari Raya Idul Fitri, sudah dilakukan selama puluhan tahun lamanya.


"Tradisi ini sejak saya kecil sudah ada," kata Mursidin(54), salah satu jemaah yan ikut acara tradisi slametan bada, di Musala Asy-Syafii, Minggu (25/6) pagi.


Hal ini juga dibenarkan oleh Ustaz Casmudi (49)."Ya benar tradisi ini sudah sangat lama. Dari saya kecil juga sudah ada, " imbuh ayah empat anak ini.


Adanya tradisi slametan ini menurut Mursidin, tak serta merta datang begitu saja. Menurutnya, ritual tahunan ini, digelar karena para jemaah secara turun temurun mengikuti ajaran wali songo, penyebar ajaran agama Islam di Indonesia.


"Tradisi ini dilakukan mengikuti ajaran wali songo. Untuk menghormati jasa-jasa penyebar ajaran agama Islam tersebut, ulama kaum Musala Asy-syafii sampai sekarang melestarikannya. Dulu pertama kali dilakukan oleh Almarhum Kyai Mas’ud, pendiri musala ini," terang pria yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di daerah Parung, Bogor, Jabar.



Adanya tradisi ini pun disambut baik oleh para generasi muda yang menjadi jemaah musala."Kegiatan ini positif sekali. Perlu dikembangkan, jangan sampai hilang, " tutur Edi Widodo (37).


Agar tradisi ini tak lekang oleh zaman, ia pun berharap agar generasi muda lain ikut melestarikan tradisi ini.


"Setiap generasi secara turun temurun harus ditularkan kebaikan ini, meskipun sesepuhnya sendiri sekarang berkurang," pinta pria yang berprofesi sebagai montir tersebut.

Senada dengan Edi, harapan lain juga diungkapkan Musafa Zuhri (27). Perantau yang tinggal di kawasan Cakung, Jakarta Timur ini, bahkan rela jauh-jauh pulang kampung menembus kemacetan jalan, demi mengikuti jalannya tradisi ini, selain ingin bertemu keluarganya di hari kemenangan.


''Menurut saya tradisi ini baik sekali untuk menjalan silaturahmi. Ini harus terus dilestarikan agar tidak tergerus oleh zaman, '' tukas Zuhri.


Dalam tradisi ini, usai siraman rohani yang dibawakan Mursidin selesai, selanjutnya diteruskan dengan pembacaan doa yang dipimpin Kyai Nasohi.


Lebih lanjut, usai pembacaan doa selesai, para jemaah yang mengikuti tradisi ini pun langsung berebut memilih hidangan yang hendak dimakan. Para jemaah yang terdiri dari beragam profesi dan usia beragam ini, tampak lahap memakan makanan yang dihidangkan tanpa ada rasa sungkan.



Beberapa menit kemudian, kudapan yang terdiri dari ketupat khas lebaran, lontong, sayuran, dan berbagai buah-buahan ini langsung habis dimakan.


Selain itu, kudapan yang dihidangkan oleh jemaah musala sendiri, juga ada yang dibawa pulang untuk bekal oleh-oleh keluarganya di rumah. Mereka saling bertukar penganan sebagai bentuk tali persaudaraan.(wnd/jpg)

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore