
SUPERTANGGUH: Tampilan lungfish yang sangar mewakili ketangguhannya dalam bertahan hidup. Sejumlah referensi menyebutkan, ikan ini ada sejak 400 tahun lalu. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Ikan purba yang satu ini punya banyak keistimewaan. Dan, setiap keistimewaan itu melahirkan julukan. Ada yang menyebutnya ikan lempung (tanah liat). Ada juga yang menamainya sebagai ikan paru-paru (lungfish). Atau ikan salamander. Sederet kelebihannya yang tidak lazim menarik banyak penghobi ikan hias untuk merawatnya.
---
IKAN itu pernah menjadi perhatian jagat maya pada 2017. Ia dinamai Grandad. Usianya diprediksi sudah melebihi 90 tahun. Beratnya saat itu sekitar 11 kilogram. Karena terlalu tua, Grandad yang hidup di Shedd Aquarium, Chicago, Amerika Serikat, terpaksa disuntik mati.
Australian lungfish itu kehilangan nafsu makan. Juga menunjukkan tanda-tanda kegagalan organ tubuh. Beberapa artikel menyebutkan bahwa Grandad didapat dari sebuah akuarium di Sydney pada 1933 sebelum kemudian dipindahkan ke Chicago.
Shedd Aquarium menyebutkan bahwa ikan itu telah dilihat lebih dari 104 juta orang sepanjang hidupnya di Chicago. The Guardian juga menyatakan, ikan itu dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun. Bahkan, ada yang menyebut ikan itu ada sejak hampir 400 juta tahun lalu. Fosilnya menunjukkan bahwa postur lungfish tidak berubah sejak lebih dari 100 juta tahun.
Hal itu juga yang diceritakan Arifin Rachman, penghobi ikan predator asal Simokerto, Surabaya. Dia mengungkapkan, bentuk tubuh lungfish memang seperti belut. Tapi, sejatinya lungfish tidak masuk keluarga belut. Dia melanjutkan, ikan tersebut memiliki paru-paru primitif tunggal. Dengan begitu, lungfish mampu menghirup udara secara langsung seperti makhluk hidup darat lainnya. ”Kalau di akuarium, mungkin 10 menit sekali dia bakal naik ke atas ambil udara,” ujarnya.
Ketertarikan Arifin memelihara lungfish bermula dari diskusinya bersama para pencinta ikan hias predator. Setelah mempelajari karakternya, akhirnya dia memutuskan merogoh kocek agak dalam demi mendapatkan ikan purba itu. ”Dulu dapatnya sejutaan. Ukurannya masih 25 sentimeter. Sekarang sudah 60-an sentimeter,” ungkapnya.
Jenis yang dia pelihara adalah African lungfish protopterus. Corak tubuhnya sangat eksotis. Tampangnya garang. Menurut dia, yang membedakan postur ikan itu dengan belut adalah siripnya yang mirip dengan kaki. Berjumlah empat buah, depan dan belakang. Sekilas, tampak seperti akar. Fungsinya untuk berjalan di dasar akuarium dan mendorong tubuhnya ke permukaan air saat menghirup udara. African lungfish punya moncong yang menonjol dan matanya kecil.
Sedikitnya ada empat jenis lungfish yang populer. Selain African lungfish, ada Australian lungfish, South American lungfish, dan Devonian lungfish. ”Sebaiknya ikan ini ditaruh sendirian di dalam tank,” ujarnya. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi cedera yang bisa dialami. Sebab, bentuk sirip yang mirip akar rawan dimangsa ikan lainnya.
Pada awalnya Arifin mengira lungfish itu karnivor. Tapi, ternyata tidak. Ikan dengan nama latin Protopterus annectens tersebut ternyata omnivor. Makanannya beragam, mulai ikan kecil, filet udang, hingga kerang. Bahkan, beberapa jenis tanaman pun habis dilahapnya. Pelet juga doyan. Dengan begitu, tidak terlalu sukar memelihara ikan tersebut. ”Kalau makan itu menarik. Dikunyah sampai hancur, dilepeh, baru dimakan lagi,” ungkapnya.
Baca Juga: Si Nyonya Puff, Ikan Buntal yang Menggemaskan
Arifin sepakat dengan beberapa literatur yang menyebut lungfish mampu hidup tanpa air lebih dari tiga tahun di habitatnya. Dari sinilah julukan ikan lempung (lumpur) itu lahir. Saat musim kemarau tiba dan terjadi kekeringan, lungfish akan tinggal di dalam tanah atau lumpur. Ia akan membuat lubang dengan kedalaman tertentu dan mengeluarkan lendir dari dalam tubuhnya untuk melindungi diri. Seperti kepompong. Selama berada di dalam tanah, mulutnya dibiarkan terbuka agar tetap bisa bernapas. Dengan cara itu, paru-parunya difungsikan.
National Geographic menulis, lungfish merupakan hewan prasejarah sehingga sering kali dijuluki sebagai ’’fosil hidup’’. Di beberapa pasar daring, harganya paling murah berkisar Rp 1 jutaan untuk ukuran 20 sentimeter.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=xg9kLCam_xA

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
