Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Mei 2024 | 21.41 WIB

Merawat Bawang Dayak Jadi Peluang Usaha: Rutin Diberi Nutrisi, Tidak Perlu Sering Disiram

Tanaman bawang dayak yang sengaja ditanam untuk dipanen. Butuh 5-6 bulan agar bawang ini bisa dipanen. - Image

Tanaman bawang dayak yang sengaja ditanam untuk dipanen. Butuh 5-6 bulan agar bawang ini bisa dipanen.

Keterbatasan ruang menjadi salah satu problem tersendiri bagi masyarakat perkotaan untuk mengembangkan ruang terbuka hijau. Namun, persoalan tersebut tampaknya tidak berlaku bagi Kampung Sidokumpul Barat alias Siba, Gresik. Berderet jenis tanaman hias, toga, hingga sayuran tampak rimbun dan teduh menghiasi jalanan kampung.

BAWANG dayak menjadi salah satu tanaman yang terpampang pada jalanan masuk kampung. Daunnya lebat dan tinggi menjulur tak seperti jenis bawang-bawangan pada umumnya. Beberapa helai daun bahkan memiliki ukuran panjang hingga 1 meter.

Ketua RT 02 Sidokumpul Saifuddin Efendi mengatakan bahwa pada mulanya warga Siba hanya membeli bawang dayak sebagai tanaman hias. Tanpa memiliki pengetahuan lebih tentang apa manfaat serta bagaimana cara perawatannya. Alhasil, beberapa bibit tanaman bawang dayak kandas karena mendapat penyiraman harian secara rutin sama seperti tanaman lain. ’’Awal-awal itu pada mati karena disiram terus sama warga,” ucapnya.

Upaya perawatan yang keliru terus berlanjut hingga Kampung Siba mendapatkan kunjungan dari mahasiswa. Pria yang akrab disapa Ipung tersebut lantas meminta bantuan para mahasiswa terkait upaya budi daya bawang dayak yang baik. Serta, manfaat apa saja yang bisa dihasilkan dari bawang dayak tersebut. ’’Dari sana saya tahu cara perawatannya. Termasuk nggak perlu sering-sering disiram air,” tuturnya. Pada saat pembibitan, bawang dayak diletakkan pada baskom berair selama seminggu. Hingga kemudian, mulai tumbuh tunas, lantas dipindahkan pada media tanam.

TUMBUH OPTIMAL: Saifuddin Efendi menunjukkan tanaman bawang dayak yang sengaja ditanam untuk dipanen. Butuh 5-6 bulan agar bawang ini bisa dipanen.

Kampung Siba membedakan media tanam menjadi dua jenis. Yaitu, yang dikhususkan untuk dipanen serta yang dibiarkan tumbuh liar sebagai tanaman perindang. Pada jenis tanaman perindang, media tanam yang digunakan hanya tanah dengan intensitas air yang minim. Sementara itu, media tanam yang disiapkan untuk dipanen terdiri atas komposisi tanah, kompos, dan sekam. ’’Kebetulan, kami punya metode kompos sendiri. Jadi, kami berdayakan sampah organik dari warga yang diolah jadi kompos,” ungkapnya.

Pupuk kompos tersebut juga rutin dijadikan sebagai nutrisi tambahan selama masa pertumbuhan. ’’Butuh sekitar 5–6 bulan untuk bisa dipanen,’’ lanjutnya.

Ipung menyampaikan bahwa bawang dayak yang dirawat secara optimal memiliki hasil panen hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan yang tumbuh liar. Pada bawang dayak yang tumbuh liar, umbi bawang jarang muncul. ’’Kalau yang dirawat kayak gini, umbinya bisa rimbun pas dipanen,” sambungnya.

Tanaman bawang dayak.

Bentuk lebih optimal tersebut juga tampak pada panjang dan warna daun bawang dayak. Bawang dayak yang tumbuh liar maksimal hanya memiliki ukuran panjang sekitar setengah meter. Warna daun cenderung kekuningan. Sementara itu, yang dirawat secara optimal memiliki daun berwarna hijau segar. ’’Panjang daunnya bisa semeter gini,” papar Ipung.

Hasil panen dari bawang dayak diolah menjadi serbuk minuman herbal. Pasalnya, menurut Ipung, bawang dayak memiliki sejumlah manfaat. ’’Bisa menurunkan risiko diabetes, kadar kolesterol, dan obat sakit perut,” ucapnya. (leh/c7/ai)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore