alexametrics

Sayuran Siap Panen karena Berkebun dengan Media Tanah dan Hidroponik

Gunakan Cara Media Tanah dan Hidroponik
18 Oktober 2020, 20:00:49 WIB

Berkebun belakangan jadi aktivitas favorit banyak orang. Bukan hanya yang sudah melakukannya sejak lama, melainkan juga yang baru menjajal untuk mengisi waktu di kala pandemi. Salah satunya, yang dilakukan Christine Adni dan keluarga.

DARI depan rumah yang terletak di kawasan Surabaya Barat itu, terlihat deretan pipa-pipa khas hidroponik. Bagian atap pos keamanan rumah dimanfaatkan Christine untuk menanam berbagai jenis sayuran. Di antaranya, kangkung, seledri, beberapa jenis selada, dan bayam. Semuanya diletakkan rapi dalam pipa-pipa.

Christine sengaja menanam bibit dalam waktu yang berbeda-beda. Itu supaya selalu ada sayur yang siap panen tiap harinya. Kalau semua panen dalam minggu yang sama, nanti malah ada sayur yang terbuang. ”Jadi, hari ini menunya bergantung sayur apa yang siap dipanen,” jawabnya, kemudian tertawa.

Selain secara hidroponik, Christine menanam beberapa sayuran dengan medium tanah. Di antaranya, cabai, tomat, dan beberapa jenis jeruk. Tanaman jeruk milik Christine cukup produktif. Ada sekitar 10 pot dan masing-masing setidaknya punya satu buah yang siap panen. Ada jeruk nipis, jeruk lemon, jeruk limau, dan jeruk purut yang siap untuk jadi olahan sambal terasi.

Christine mulai rajin berkebun sejak Juli lalu. Pandemi membuat dia dan keluarga menghabiskan banyak waktu di rumah. Berkebun menjadi hobi baru baginya dan keluarga. Namun, bukan itu satu-satunya alasan. Rasa aman mengolah sayur sendiri di tengah persebaran virus yang tinggi jadi alasan utama.

”Akhirnya kami nggak perlu belanja sayur-sayuran,” ucapnya. Sayur tetap segar tanpa harus 3 hari sekali belanja keluar. Secara pengeluaran, Christine juga menghemat Rp 500 ribu–Rp 600 ribu tiap bulan.

RAWAT SEPENUH HATI: Christine rajin merawat beragam sayur penghuni kebun rumahnya. Ada pula tanaman jeruk lemon yang produktif berbuah. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Proses pembibitan memang paling menguras tenaga. Salah sedikit, bibit tak mau tumbuh. Bibit sama sekali tak boleh kena sinar matahari selama 2 hari. Maka, Christine menyiapkan tempat khusus. ”Ada teras yang beratap, jadi dibibitkan di sana baru dipindah ke instalasi depan rumah,” ucap ibu tiga anak itu.

Perawatannya pada pekan pertama cukup dengan air mengalir. Pupuk baru boleh diberikan pada pekan kedua. Jumlahnya jangan terlalu banyak, sebab bisa memengaruhi rasa sayur. ”Rasanya jadi lebih pahit gitu. Kan sayang,” jawabnya.

Tak lupa, Christine juga harus mengukur PPM tiap tanaman secara rutin. Berbekal tabel panduan hidroponik, Christine harus menjaga level PPM agar tak berlebihan. ”Tiap tanaman beda-beda. Ngukur-nya cukup 3 hari sekali sih, tidak harus tiap hari,” jabarnya. Jika PPM berlebihan, tanaman bisa cepat mati.

Untuk konsumsi harian, panennya cukup rutin. Beberapa memang dibiarkan hingga rimbun, tapi banyak juga yang langsung dipanen saat masuk pekan ketiga. ”Kalau mau langsung dimasak, bisa dipotong dari akarnya langsung,” imbuhnya.


HASIL PANENI: Sayuran dan buah lemon di kebun milik Christine. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

TANAM SAYUR DI RUMAH

  • Pembibitan dilakukan pada waktu yang berbeda-beda sehingga sayur tidak dipanen secara bersamaan dan malah terbuang.
  • Per tiga hari, cek kondisi PPM tiap-tiap sayuran. Sesuaikan dengan tabel PPM tiap jenis sayuran.
  • Jika baru akan dikonsumsi 1–2 hari setelah dipanen, sebaiknya sayur disimpan dengan akarnya supaya tetap segar.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : dya/c12/nor




Close Ads