alexametrics

Branjangan (Mirafra javanica), Burung Pinter Seneng Ngleper-Ngleper

15 November 2020, 17:48:52 WIB

Penampilan boleh biasa-biasa saja. Tapi, kalau sudah berkicau, suaranya bikin orang takluk, lantas jatuh hati. Apalagi ketika skill khususnya dipertontonkan. Hovering, melayang di udara, sambil tetap berkicau.

EMPAT sangkar setinggi 60 sentimeter itu dikeluarkan satu per satu oleh Wisnu Wijaya dari rumah kosnya di daerah Driyorejo, Gresik. Krodong tiap-tiap sangkar kemudian dibuka. Dari dalam anyaman sangkar itulah burung-burung branjangan koleksi Wisnu tampak.

Sekilas keempat ekornya mirip. Namun, ketika dicermati lebih detail, sambil melihat bulu-bulu dan postur tubuhnya, keempat burung tidak semuanya sejenis. ”Yang agak gelap ini aliena, yang hitamnya keputihan ini parva, yang kecokelatan ini javanica,” terang lelaki asal Jember itu menyebut subspesies branjangan koleksinya.

Di Indonesia, burung bernama Latin Mirafra javanica tersebut punya empat subspesies. Yakni Mirafra javanica javanica, Mirafra javanica parva, Mirafra javanica aliena, dan Mirafra javanica timorensis. Dari empat jenis itu, branjangan jawa atau Mirafra javanica javanica yang paling diburu dan harganya paling tinggi. Lantaran suaranya dinilai paling bagus, kencang, dan pintar.

Di pasaran, untuk tangkapan liar, harga branjangan jawa mencapai Rp 6 juta per ekor. Sementara untuk hasil ternakan, harganya bisa lebih tinggi lagi. Di kisaran Rp 8 juta per ekor. Hasil ternakan lebih mahal karena sifat liarnya sudah berkurang. Burung lebih jinak.

Harga branjangan yang tinggi, terutama jenis Mirafra javanica javanica, membuatnya jadi target buruan. Di alam liar, kini populasinya makin menipis dan nyaris punah. Perburuan dilakukan masif sejak 1990-an. Kondisi itu membuat gantangan branjangan makin sepi lantaran jumlah burung terus berkurang. Untung, sekitar sepuluh tahun belakangan peternak berhasil mengembangbiakkan branjangan. Sehingga populasinya di alam bisa sedikit terselamatkan.

Wisnu sendiri total mempunyai 12 ekor branjangan. Dari jumlah itu, empat di antaranya branjangan jawa. Untuk branjangan jawa, dia punya jagoan yang kini sedang dia rawat secara khusus. Namanya Panther. Pejantan berusia 14 bulan. Yang telah mengantongi juara kompetisi di tingkat lokal maupun regional Jatim.

Penampilan Panther, dibandingkan tiga branjangan yang sore kemarin ditampilkan, memang tampak berbeda. Dari segi postur tubuh, perawakannya paling berisi dan besar. Warna-warna bulunya juga lebih cerah. Didominasi warna hitam, dengan corak batik yang bulat-bulat teratur.

Saat diberi makan tiga ekor jangkrik, Panther tampak akrab dengan sang pemilik. Berkali-kali tangan Wisnu dimasukkan ke sangkar. Bukan malah takut, Panther malah tampak menantang. Jambul di atas kepalanya langsung berdiri. Sambil melihat gerakan tangan pria kelahiran 18 Juli 1983 itu.

Setelah kenyang makan jangkrik, Panther naik ke atas ”panggung”. Yang terbuat dari sekeping batu apung. Berada di tengah sangkar. Sambil mengembangkan kedua sayap, Panther lincah naik turun panggung mini tersebut. Ngleper-ngleper.

Meski telah mencaplok jangkrik, sore kemarin Panther enggan berbunyi. Dia hanya naik turun tenggeran. ”Coba saya pindah ke lokasi lebih tinggi,” ujar Wisnu sambil memindah Panther dari pohon kersen (keres) ke sebuah garasi mobil yang di atapnya dipasangi cantolan burung. Tapi, Panther ternyata memang belum mau pamer suara merdu dari paruh mungilnya.

Usaha terakhir Wisnu akhirnya dicoba. Lewat pemutar MP3 di handphone, dia menyetel suara branjangan. Cicicuit suara rekaman burung itu akhirnya direspons Panther. Mulanya ngeriwik, siul-siul kecil. Tapi, tambah lama, suaranya tambah kencang. Kepiawaian menirukan berbagai jenis burung dia pamerkan.

Mulanya kenari dengan rentetan tembakan. Disusul suara love bird dengan speed rapat. Berlanjut suara prenjak gunung dan kolibri wulung. Suara aneka burung itu ditirukan berulang. Panjangnya bervariasi. Berhenti sebentar ngoceh lagi. Sekitar lima menit, alunan ocehan keras itu terdengar.

Kemahiran berkicau dan mental yang kuat membuat Panther dilirik banyak penggemar branjangan. Dia pernah ditawar Rp 35 juta. Namun, Wisnu enggan melepas. Dia masih ingin mendapatkan rentengan gelar dari branjangan yang baru menginjak dewasa itu. ”Masih sayang-sayange,” ucapnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/c9/git



Close Ads