
CINTA PRAMUKA: Djoko Adi Walujo menunjukkan sebagian koleksinya di ruangan B-P House Indonesia, kompleks Universitas PGRI Adi Buana Kampus I Surabaya. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Impian Djoko Adi Walujo merancang museum mini untuk pernak-pernik Pramuka kini terwujud. Museum mini itu memuat sekitar 28 ribu item koleksi.
---
Pigura dan etalase kaca penuh pernak-pernik Pramuka terlihat saat memasuki ruangan B-P House Indonesia di kompleks Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Kampus I Surabaya. Ruangan itu adalah museum mini yang dikelola drs Djoko Adi Walujo ST MM DBA. Djoko menyambut dengan senyum lebar, menunjukkan ribuan koleksi yang terdiri atas emblem, pin, bendera, halsduk, pandu Pramuka, prangko, dan lain-lain. “Itu koleksi terbaru saya. Pernak-pernik Pramuka Tionghoa,” ujar Djoko sembari menunjuk ke arah pandu Pramuka, kotak P3K, dan bendera.
Djoko hobi mengoleksi pernak-pernik Pramuka sejak dirinya berusia 11 tahun. Saat itu dia juga telah menjadi anggota Pramuka. Kecintaannya terhadap Pramuka begitu tinggi. Dia berusaha mengumpulkan pernak-pernik dari berbagai daerah di Indonesia hingga distrik dunia.
Terkadang, Djoko mencari sendiri dengan menghadiri acara-acara Pramuka atau belanja daring. Namun, dia juga sering mendapat penawaran dari berbagai penjual barang bekas. ”Kalau penjual yang menawarkan, biasanya harus ada tawar-menawar dulu sampai harganya pas,” kata sekretaris Komisi Kerja Sama Dalam Negeri Kwartir Nasional I (Kwarnas) Gerakan Pramuka itu.
Photo
KOTAK P3K ini sangat vintage, terbuat dari material kulit pada 1936. Fungsinya, menyimpan beberapa peranti pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan. Di antaranya, verband, spalk, dan plester. Termasuk obat merah, boor water, gunting, dan peniti. Kotak itu selalu dibawa pandu Tionghoa saat melakukan penjelajahan dan berkemah. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Nama B-P House Indonesia untuk museumnya merujuk pada nama Bapak Pramuka Dunia Robert Baden Powell. “B-P itu Baden-Powell. Saya memang mendedikasikan namanya di museum ini,” imbuhnya. Museum itu sejatinya sudah dibuka untuk umum pada Februari lalu. Jika ada yang bertamu akan mendapatkan e-visitor sertificate. Namun, lantaran pandemi merebak, dia harus menutupnya untuk sementara.
Walaupun begitu, naluri untuk mengumpulkan koleksi tetap berjalan. Baru-baru ini, pria yang menjabat rektor Unipa pada 2015–2019 itu mengumpulkan koleksi pandu Pramuka Tionghoa. Yang berasal dari salah satu sekolah untuk murid-murid peranakan Tionghoa di Tegal, Jawa Tengah.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
