alexametrics

Cerita Yanti, Masak Sendiri untuk Belasan Anak Bulu Kesayangan

6 September 2020, 18:48:22 WIB

Sepuluh tahun lampau, Prihyanti Lumbanraja memutuskan merawat seekor persia dan medium nose sebagai anak bulu (anbul) kesayangan. Sekarang belasan anbul sudah memenuhi kediamannya.

’’Zio ini suka dielus-elus sama disisir-sisir,” kata Prihyanti Lumbanraja saat ditemui di kediamannya di Kedurus. Dia membelai lembut kucingnya yang merupakan persilangan jenis mainecoon. Yakni, jenis kucing dengan ukuran badan yang lebih besar daripada umumnya dan memiliki bulu yang lebih panjang.

Selain Zio, ada sekitar lima belas kucing lainnya yang dipelihara di rumahnya. Mulai kucing liar, persia, hingga persilangan mainecoon. Dia merawatnya bersama anak perempuannya, Nasytha Tristie Wardani.

Mereka mulai memelihara kucing sekitar sepuluh tahun lalu. Bermula dari seekor kucing persia bernama Nonik dan kucing medium nose bernama Menik yang sekarang ada di kediaman kerabatnya di Jakarta.

Kucing-kucingnya pun bertambah banyak karena beranak pinak. Ada juga kucing yang diselamatkan di jalanan. Zio merupakan anak Menik dan kucing mainecoon milik rekannya. ’’Jadi, Zio yang kami ambil dan rawat di Surabaya,” kata perempuan yang akrab disapa Yanti itu.

Setiap pagi, Yanti memberi semua kucingnya sarapan. Menunya khusus. Dia memasak ikan lele rebus untuk anbul-anbulnya. Masing-masing mendapat jatah satu ekor lele untuk sarapan. Kecuali untuk Zio, Yanti memberinya tiga ekor lele setiap hari. Dia menilai si Zio membutuhkan makanan yang lebih banyak karena posturnya lebih besar daripada anbul lain.

Lele rebus itu tak hanya diberikan untuk sarapan. Jika ada yang sakit, Yanti memberinya asupan ikan lele ekstra yang sudah diblender sampai halus. Tak hanya lele, dry food, wet food, dan camilan siap saji juga menjadi sajian mereka. ’’Memang harus komitmen punya hewan peliharaan itu. Harus ikhlas merawat dan memberi asupan walau pengeluarannya tidak sedikit,” imbuh perempuan yang berprofesi sebagai make-up artist (MUA) itu.

Kucing-kucingnya dibiarkan berkeliaran bebas di rumah. Jika main di luar, mereka terbiasa tidak pernah jauh dari sekitar halaman rumah. Kecuali jika ada yang sakit, Yanti akan memasukkannya ke kandang. Khusus untuk Zio, kucing itu lebih sering bermain di bagian belakang rumah. Sebab, kucing-kucing lain takut jika melihat Zio. ’’Mungkin karena badannya besar sehingga kucing-kucing lain lari semua kalau lihat dia,” tutur Yanti, lantas tertawa. Namun, tidak ada perawatan kandang khusus untuk Zio. Sebab, menurut Yanti, Zio merupakan kucing persilangan sehingga lebih mudah beradaptasi.

Hampir seluruh kucing-kucingnya juga telah disteril. Tujuannya, memudahkan perawatan dan baik untuk kucing itu sendiri.

’’Kalau enggak disteril, nanti populasinya akan semakin banyak. Sedangkan kemampuan manusia untuk merawat pasti terbatas. Daripada ditelantarkan kalau punya anak banyak, mending disteril saja,” tuturnya. Terlebih, penerapan steril tidak berpengaruh ke kesehatan dan gerak kucing-kucingnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : nas/c7/tia



Close Ads