alexametrics

Begini Syarat Memelihara Satwa Langka yang Dilindungi

Berstatus F2 dan Punya Kandang Layak
6 September 2020, 16:48:33 WIB

Selain hobi, harga dan keuntungan fantastis jadi salah satu alasan masyarakat tertarik memelihara atau menangkar satwa langka yang dilindungi. Mereka tak bisa asal-asalan. Pencinta satwa diwajibkan untuk mengurus izin penangkaran sesuai dengan aturan undang-undang.

Mengacu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, setiap orang yang menangkap atau menangkar tumbuhan atau hewan yang dilindungi tanpa izin akan dipidanakan. Aturan itu jadi pedoman Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) untuk bergerak. Mereka terus mendekati pencinta satwa untuk ikut mengampanyekan aturan.

Saat ini, berdasar data BBKSDA Jatim, ada 35 penangkar tumbuhan dan satwa yang dilindungi di Provinsi Jatim. Ada yang perseorangan, ada pula yang berbentuk badan usaha. Mereka sudah mengantongi izin dan terus mendapat pembinaan dari BBKSDA.

’’Tidak sekadar hobi. Ada pula yang sengaja memelihara untuk mendapatkan finansial,” kata Kasubag Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan BBKSDA Jatim Gatut Panggah Prasetyo saat ditemui Rabu lalu (2/9). Dia menyebutkan, ada 24 jenis tumbuhan dan hewan langka yang dipelihara masyarakat. Sebagian besar jenis mamalia.

’’Contohnya rusa bawean. Ada penangkaran berskala besar di Pulau Putri (Bawean, Red),” tambah Gatut. Pria 40 tahun itu memastikan bahwa penangkaran rusa di Kecamatan Sangkapura sudah mengantongi izin. Ada mekanisme perawatan dan pemanfaatan yang dipantau BBKSDA.

Rusa bawean hanya ditemukan di Pulau Bawean dan masuk kategori satwa dilindungi. Hewan itu memiliki ketinggian 60–70 sentimeter. Sedangkan bobotnya rata-rata mencapai 60 kilogram.

Penangkaran rusa terletak di Desa Pudakit Timur, Kecamatan Sangkapura, Gresik. Lokasinya di kawasan perbukitan. Saat ini, lokasi pemeliharaan terus ditata dan sering dijadikan jujukan wisata.

Gatut menjelaskan bahwa masyarakat memang diperbolehkan memelihara satwa yang dilindungi. Namun, itu harus berdasar persetujuan pemerintah. ’’Penangkar harus mengajukan izin ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta. Bisa perseorangan atau berbentuk badan usaha,” kata Gatut.

Menurut dia, pengajuan izin dikirim dalam bentuk proposal. Sebelum mengirim dokumen ke Jakarta, masyarakat harus meminta rekomendasi dari BBKSDA setempat. Sebab, keluar tidaknya izin sangat bergantung pada rekomendasi.

’’Begitu ada permintaan rekomendasi, kami akan turun ke lokasi dan melakukan verifikasi,” jelas Gatut. Ada beberapa hal yang akan menjadi pertimbangan keluarnya rekomendasi. Bukan hanya pengalaman memelihara dari pemohon.

Persoalan ketersediaan sarana dan prasarana juga akan dicek BBKSDA. Termasuk kondisi kandang satwa. Bentuk dan ukuran kandang disesuaikan dengan jenis hewan yang akan dipelihara.

’’Selama menunggu izin, satwa akan kami amankan terlebih dahulu,” kata Gatut. Dia mengingatkan terkait syarat hewan dilindungi yang bisa dipelihara. Mereka harus masuk kategori F2.

Baca Juga: Transformasi Ikan Cupang: Dulu Recehan, Sekarang Jutaan

Yang dimaksud dengan kategori F2 adalah hewan generasi ketiga yang dihasilkan dari penangkaran. Hewan tersebut tidak langsung diambil dari alam bebas. Atau hasil perburuan di hutan.

Menurut Gatut, keberadaan surat izin penangkaran amat penting. Hal itu erat berkaitan dengan hukum. Pemelihara akan terbebas dari jeratan pidana jika sudah mengantongi izin penangkaran.

SYARAT MEMELIHARA ATAU MENANGKAR SATWA LANGKA YANG DILINDUNGI

  • Satwa harus berstatus F2 (generasi ketiga hasil penangkaran)
  • Memiliki kandang atau sarana yang memadai
  • Mengajukan izin ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
  • Mengantongi surat rekomendasi penangkaran dari BBKSDA
  • Sumber: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hen/c17/nor



Close Ads