alexametrics

Hoax Bom Bunuh Diri Katedral Makassar Dikendalikan dari Jarak Jauh

2 April 2021, 05:48:13 WIB

BEBERAPA hari terakhir, kabar palsu yang menumpang peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Makassar terus bermunculan. Misalnya, kemarin (31/3) muncul kabar bahwa bom tersebut dikendalikan dari jarak jauh. Bahkan, kabar yang menyebar dalam bentuk capture percakapan dari aplikasi WhatsApp itu menuding adanya keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

”Sandiwara rezim PKI dengan mengorbankan orang Islam. Persis yang terjadi di Surabaya tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja. Sebelum masuk gereja, BOM diledakkan lewat remote kendali jarak jauh. PKI ingin mem-framing kepada publik bahwa Islam teroris.” Begitu penggalan narasi yang beredar.

Pesan tersebut juga menuliskan imbauan untuk waspada. Terlebih jika ada seseorang yang menyuruh mengirimkan barang ke gereja. Sebab, bisa jadi barang itu berupa bom dengan kendali jarak jauh (bit.do/LewatRemot).

Menyampaikan pesan agar lebih waspada memang baik. Namun, jika tidak berdasar dan cenderung ngawur, pesan tersebut akan menciptakan informasi yang menyesatkan. Contohnya, keterangan bahwa serangan bom di Surabaya dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control.

Kabar itu jelas ngawur dan tidak sesuai dengan fakta. Polisi telah mengidentifikasi bahwa peledak yang dibawa pelaku bom di Surabaya berbentuk ikat pinggang, bukan paket barang. Jelas praktiknya adalah bom bunuh diri.

Contohnya, saat pelaku meledakkan diri di area parkir GKI Diponegoro pada 13 Mei 2018. Saat itu polisi menemukan satu bom aktif yang masih menempel di paha salah seorang anak. Tim penjinak bahan peledak (jihandak) langsung melepaskan bom tersebut dari paha anak pelaku yang tewas. Anda dapat membacanya di bit.do/IkatPinggang.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : zam/c14/fat




Close Ads