
Suasana perjalanan keluarga Dian Yulia saat melintasi Jembatan Suramadu menuju Madura di momen mudik Lebaran 2026. (Dian for JawaPos.com)
JawaPos.com - Perjalanan mudik Lebaran 2026 tak selalu soal macet dan lelah, setidaknya itu yang dirasakan Dian Yulia saat menyeberang ke Madura melalui Jembatan Suramadu. Guru SMA Terpadu YPP Nurul Huda Surabaya berusia 31 tahun itu justru menikmati perjalanan penuh cerita bersama keluarga besarnya dalam satu mobil yang riuh.
“Alhamdulillah perjalanan pagi tadi (Kamis, 19/3/2026) sekitar pukul 10 dari Surabaya Alhamdulillah berjalan dengan lancar,” ujar Dian Yulia kepada JawaPos.com, Kamis (19/3/2026).
Perjalanan pagi yang dipilihnya terasa lebih santai tanpa tekanan kemacetan yang biasanya mengintai di jam sibuk.
Baca Juga:270 Ribu Kendaraan Lalui Puncak Arus Mudik, Rekayasa Lalu Lintas One Way Jadi Solusi Atasi Kemacetan
Ia mengaku momen melintasi Jembatan Suramadu menjadi bagian paling berkesan selama perjalanan mudik kali ini.
“Di jembatan Suramadu juga longgar, Alhamdulillah anak anak senang melihat kapal kapal besar yang terlihat dan pemandangan yang indah dari dalam mobil,” imbuh perempuan tersebut.
Namun, di balik perjalanan yang terlihat mulus, suasana di dalam mobil justru penuh warna dan tak terduga.
Dian menggambarkan bagaimana “kerandoman” terjadi karena rombongan kecil itu membawa banyak anak dengan usia yang beragam.
Baca Juga:Pasar di Gaza Ramai Jelang Lebaran, Tapi Warga Tak Punya Uang: “Datang Hanya untuk Melihat”
“Banyak sekali kerandoman yg terjadi didalam mobil, karena saya dan keluarga bawa anak anak kecil yang lumayan banyak. Ada tiga balita, ada empat anak anak,” katanya, menggambarkan betapa dinamis suasana perjalanan mereka.
Alih-alih menjadi tantangan, situasi tersebut justru menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar itu. Lagu-lagu anak, camilan, hingga obrolan ringan menjadi cara sederhana untuk menjaga suasana tetap hangat.
“Nyanyi bareng dan makan jajan yg disiapkan dari rumah oleh bude dan tante tantenya. Barang kita juga penuh satu mobil,” lanjutnya, sambil tertawa mengenang momen kebersamaan itu.
Keputusan menggunakan mobil pribadi bukan tanpa alasan, terutama karena jumlah anggota keluarga yang ikut mudik cukup banyak.
Dengan kendaraan sendiri, mereka bisa lebih fleksibel membawa barang sekaligus mengatur kenyamanan anak-anak selama perjalanan.
“Saya tadi bersama saudara ipar saya. Saudara ipar saya yg perempuan ada tiga bareng naik mobil dan anak anaknya ada tujuh yang naik mobil. Sedangkan suami atau yg laki kaki naik motor karena mobil tidak muat,” jelasnya.
