Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Maret 2026 | 17.21 WIB

Masjid Agung Banten: Rahasia Arsitek Tionghoa dan Belanda di Balik Menara Mirip Mercusuar

Masjid Agung Banten.(Wikipedia).

JawaPos.com - Siapa sangka, di sudut Banten Lama, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu kejayaan perdagangan Nusantara. Masjid Agung Banten bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah sisa kemegahan Kota Kuno Banten yang pernah menjadi pusat ekonomi paling makmur di Indonesia setelah runtuhnya Kesultanan Demak.

Dibangun pertama kali pada tahun 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati, masjid ini terus memikat ribuan peziarah dari pelosok Pulau Jawa setiap harinya.

Akulturasi Budaya dalam Satu Bangunan

Satu hal yang paling mencolok dari Masjid Agung Banten adalah wajahnya yang "eklektik". Desainnya tidak kaku pada satu gaya, melainkan hasil perkawinan silang budaya yang harmonis.

Di sini, pengunjung bisa menemukan jejak Islam, Hindu, Buddha, Tiongkok, hingga Eropa yang menyatu sempurna. Pengaruh arsitektur Jawa sangat kental pada struktur utama, namun sentuhan internasional memberi warna berbeda yang tak ditemukan di masjid tradisional lain di Indonesia.

Menara Mercusuar dan Sentuhan Tangan Arsitek Tionghoa

Jika melihat menaranya, Anda mungkin akan teringat pada bentuk mercusuar. Menara setinggi 24 meter ini ditambahkan pada tahun 1632 dan menyimpan cerita unik. Minaret ini dirancang oleh seorang Tionghoa bernama Cek-ban-cut.

Tak hanya itu, pengaruh Belanda pun hadir melalui sosok Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang warga Belanda yang memeluk Islam. Ia merancang Tiyamah, sebuah bangunan dua lantai bergaya Belanda yang berdiri anggun di kompleks masjid. Cardeel menyuntikkan elemen Barok Eropa awal yang bisa kita lihat jelas pada detail dinding dan menara.

Jejak Para Sultan di Serambi Selatan

Bagi pengunjung yang datang untuk berziarah, area serambi adalah pusat perhatian. Serambi sebelah selatan masjid telah diubah menjadi kompleks pemakaman yang sakral. Di sini, bersemayam para tokoh besar Kesultanan Banten.

Ada makam Sultan Maulana Hasanuddin beserta istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, hingga Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara itu, di sisi utara serambi selatan, terdapat peristirahatan terakhir Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin.

Delapan Kali Bersolek demi Melawan Zaman

Mempertahankan bangunan yang berdiri sejak abad ke-16 tentu bukan perkara mudah. Tercatat, Masjid Agung Banten telah mengalami delapan kali pemugaran besar hingga tahun 1987.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore