
Perubahan rutinitas mendadak adalah fenomena yang berkaitan dengan post ramadhan syndrome (freepik)
JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dari bulan lainnya. Ibadah meningkat, kebersamaan terasa hangat dan rutinitas harian berubah secara signifikan.
Namun, setelah Ramadhan berakhir,sebagian orang merasakan kekosongan emosional. Kondisi ini sering disebut sebagai Post Ramadhan Syndrome.
Istilah ini memang bukan diagnosis media resmi. Namun dalam perspektif psikologi, perubahan suasana hati setelah periode spiritual intens adalah hal yang wajar.
Menurut APA, perubahan rutinitas dan kehilangan momen bermakna dapat memicu perasaan sedih ringan atau penurunan motivasi. Fenomena ini serupa dengan perasaan setelah liburan panjang berakhir.
Dalam konteks puasa Ramadhan, pengalaman spiritual yang mendalam membuat seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Ketika suasana itu hilang maka muncul rasa kehilangan yang cukup kuat.
Berikut beberapa perspektif psikologi yang membantu memahami fenomena Post-Ramadhan Syndrome sebagaimana dilansir dari laman Duke University dan Cleveland Clinic,Sabtu (28/2) :
Selama Ramadhan, jadwal hidup berubah total. Mulai dari waktu sahur, tarawih, tadarus dan buka puasa bersama membentuk pola rutinitas yang baru.
Menurut Harvard Medical School, rutinitas yang konsisten memberikan rasa stabilitas psikologis. Karena rutinitas itu hilang,tubuh dan pikiran butuh adaptasi.
Perubahan mendadak setelah Lebaran dapat memicu rasa kosong. Adaptasi ini sering menimbulkan kelelahan mental ringan. Oleh karena itu, penting melakukan transisi secara perlahan. Intinya jangan langsung kembali ke ritme kerja yang terlalu padat.
Ramadhan identik dengan peningkatan ibadah dan refleksi diri. Banyak orang yang merasa lebih damai dan tenang selama puasa.
Penelitian tentang spiritualitas dari Duke University menunjukkan bahwa praktik keagamaan berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Saat intensitas ibadah menurun,efek emosional positif juga bisa berkurang.
Menjaga sebagian kebiasaan Ramadhan setelah Idul Fitri dapat membantu menjaga stabilitas emosi. Misalnya tetap membaca Al-Qur’an setiap hari meski tidak sebanyak saat puasa.
Setelah Ramadhan, aktivitas sosial meningkat drastis. Silaturahmi, acara keluarga dan berbagai pertemuan membuat jadwal kembali padat. Menurut WHO, perubahan pola tidur dan makan dapat memengaruhi kesehatan mental.
Setelah puasa, pola makan sering berubah drastis. Konsumsi makanan manis, bersantan dan berlemak khas Lebaran seperti opor ayam dan rendang bisa memengaruhi energi tubuh. Lonjakan gula darah ini dapat berdampak pada suasana hati.
Dalam psikologi, ada istilah “after event blues” atau kesedihan setelah momen besar berakhir. Kondisi ini sering terjadi setelah pernikahan,liburan panjang atau perayaan besar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022