Podcast JawaPos.com bersama Aan Rukmana, dosen Universitas Paramadina, Jakarta. (Abdul Rahman/JawaPos.com)
JawaPos.com - Media sosial sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun di bulan Ramadhan, kebiasaan scrolling berlebihan tanpa sadar kerap menyita waktu ibadah dan juga momen untuk melakukan refleksi diri.
Lantas, bagaimana seharusnya umat muslim bersikap bijak dalam menggunakan media sosial selama bulan Ramadhan?
Dosen Universitas Paramadina, Jakarta, Aan Rukmana, menilai bahwa penggunaan media sosial di bulan puasa adalah hal yang manusiawi dan dialami oleh banyak orang, termasuk oleh para tokoh agama.
"Wah, ini bagus nih pertanyaannya karena itu memang yang dialami oleh siapa pun. Ustaz juga mengalami hal yang sama sebetulnya. Habis ceramah di masjid pulang, lihat TikTok dan segala macam. Itu kan peristiwa duniawi belaka ya, itu biasa terjadi," kata Aan Rukmana dalam podcast bersama JawaPos.com.
Dia menyatakan, penggunaan media sosial menjadi tak terhindarkan dan tidak harus dilarang selama bulan Ramadhan. Hanya saja, dia meminta umat Islam untuk memilih dan memilah konten yang akan ditonton atau dilihat.
"Kita pertanyakan pada diri sendiri, kira-kira apakah kegiatan saya itu (konten media sosial yang diakses) membantu saya dalam pertumbuhan secara rohaniah atau tidak," ujar Aan Rukmana.
Menurutnya, tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan bagian dari proses penyaringan diri terhadap aktivitas sehari-hari, termasuk dalam mengonsumsi konten digital.
"Sebenarnya tujuan utama puasa itu kan begitu. Sehingga ketika kita menonton TikTok, menonton YouTube, menonton apa pun itu media sosial, maka sesungguhnya pertanyaannya, apakah secara rohaniah, kita bertumbuh atau tidak? Tapi kalau misalnya ternyata sebaliknya, mungkin kegiatan semacam itu perlu kita review kembali," ujar Aan Rukmana.
Ia juga menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam melakukan scrolling media sosial terhadap konten yang mengarah ke godaan visual yang justru bisa mengurangi pahala ibadah puasa yang dilaksanakan.
Lebih jauh, Aan Rukmana mengaitkan kebiasaan bermedia sosial dengan ungkapan bijak dari seorang sufi ternama dalam Islam bernama Jalaluddin Rumi.
"What you seek is seeking you. Apa yang engkau cari, ia mencarimu. Ungkapan Rumi tersebut relevan dengan cara kerja algoritma media sosial saat ini. Apa yang sering dicari pengguna akan kembali muncul di linimasa mereka," papar Aan Rukmana.
Dengan demikian, di momen bulan Ramadhan, kita tidak harus meninggalkan media sosial karena di sana juga banyak konten bermanfaat yang dapat diakses.
"Di media sosial ada yang namanya algoritma. Kita lebih sering mencari apa, itu yang akan muncul, kan begitu. Kalau kita mencarinya belanjaan-belanjaan baju, makanan atau sirup atau apapun itu, maka nanti yang sering muncul berita-berita itu kepada kita. Mengikuti apa yang disampaikan oleh Rumi, what you seek is seeking you. Rasanya kita yang memilih," ungkap Aan Rukmana.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
