
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombespol Johnny Eddizon Isir menemui relawan Surabaya Memanggil. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Jauh sebelum umat muslim menggunakan jam sebagai penanda masuknya waktu salat, Raden Rahmat atau yang juga dikenal sebagai Sunan Ampel membuat jam matahari. Jam yang dinamai Bentjet (Bencet) itu diletakkan di bagian depan Masjid Peneleh.
Bentuk Bentjet tidak jauh berbeda seperti hiasan fasad atau bagian depan masjid umumnya. Tingginya sekitar 130 cm, dengan bentuk prisma berwarna kuning di bagian atasnya. Sepintas, Bentjet malah terlihat seperti hiasan pagar.
Achmad Malih, cucu keponakan KH Dahlan Basuni, pendiri Pesantren Nurul Qurani Al Basuni (di depan Masjid Peneleh) menjelaskan, cara kerja Bentjet seperti kompas. Namun, bergerak berdasar arah sinar matahari.
”Jadi ada tombak di tengah untuk menentukan waktu salat. Terakhir dipakai KH Thohir Syamsuddin (salah satu takmir masjid),” papar Achmad Malih pada Jumat (16/4).
Dia mengatakan, Bentjet tersebut menunjukkan waktu salat berdasar arah sinar matahari di bayangan benda. ”Misalnya, waktu masuk jam duhur, sinar matahari sejajar sama benda tersebut,” tutur Achmad Malih.
Namun sayang, kini Bentjet tidak lagi digunakan. Menurut cerita yang didapatkan Malih dari keluarga dan kerabatnya, sudah lama Bentjet tidak digunakan. Sebab terhalang gedung-gedung tinggi.
”Harusnya bisa tahu dari bayangan dan sinar matahari. Tapi di Surabaya sudah banyak gedung tinggi. Jadi bayangan dan sinar matahari makin sulit terdeteksi,” ujar Achmad Malih.
Hal serupa diungkapkan Sofyan, ketua takmir masjid. Dia menerangkan, kini Bentjet tidak lagi digunakan. Pihaknya memutuskan untuk mengunci Bentjet. Sebab, banyak pihak tidak bertanggung jawab yang memperlakukan Bentjet dengan tidak baik.
”Pernah ada yang buka Bentjet, terus dibuat mainan. Itu kan nggak bener. Jadi kami putuskan untuk menutup dan mengunci. Cuma dibuka di saat-saat tertentu,” terang Sofyan.
Ketika JawaPos.com bermaksud melihat isi Bentjet, pihak takmir tergopoh-gopoh mencari kunci. Begitu mereka mendapatkan segepok kunci, pihak takmir tampak kebingungan. Satu per satu kunci dicoba. Begitu kunci bisa dimasukkan ke lubang gembok, ternyata macet. Sehingga Bentjet hanya dilihat dari luar saja.
Sofyan menambahkan, Bentjet sempat berpindah-pindah tempat. Bila kini berada di bagian fasad masjid, dulu sempat berada di belakang masjid.
”Dulu juga sempat di belakang supaya sinar matahari dan bayangannya terlihat. Terus dipindah ke depan sampai sekarang. Dipindahnya kapan? Saya juga tidak tahu. Itu cerita lama,” ucap Sofyan.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=rupzLT1RpHU

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
