alexametrics
Kelana Ramadan

Santri Piawai Ternak Lele hingga Bikin Roti

21 Mei 2019, 20:57:46 WIB

JawaPos.com – Di bawah terik matahari, lima remaja perempuan bahu-membahu membuat adonan roti. Ada yang menyiapkan perkakas, terigu, mengupas telur, menuang susu, hingga menyerut cokelat. Semuanya bekerja cekatan. Seolah menandakan kegiatan tersebut sudah biasa mereka lakoni. Namun, jangan salah, aktivitas tersebut tidak dilakukan buruh pabrik roti.

Tetapi, dikerjakan para santriwati Pondok Pesantren An-Nawawi Al-Bantani, Tanara, Serang, Banten. Setiap hari para santriwati memiliki tugas membuat roti secara bergiliran.

Murni, santriwati, mengaku hampir dua tahun ini terlibat dalam pembuatan roti cokelat. Tidak hanya tahu cara memasaknya, dia juga menguasai hitung-hitungan takarannya. “Satu kilo terigu bisa menghasilkan 47 roti,” ujarnya kepada Jawa Pos Minggu (19/5).

Jadi, selain memahami ilmu agama, Murni mampu membuat roti. Sebuah kemampuan yang kelak bisa digunakan setelah lulus dari pesantren.

Santri melayani nasabah Bank Wakaf Mikro di Ponpes An-Nawawi Al-Bantani Tanara, Serang, Banten. (Imam Husein/Jawa Pos)

Sejak dua tahun terakhir, Ponpes An-Nawawi memang melakukan “revolusi” kegiatan belajar mengajar. Selain mengajarkan ilmu agama yang merupakan pelajaran pokok, ponpes milik calon wakil presiden Ma’ruf Amin itu gencar menularkan jiwa wirausaha kepada para santri.

Selain pembuatan roti, ada sejumlah kegiatan lain yang diajarkan sekaligus dipraktikkan langsung oleh para santri. Mulai koperasi, ternak lele, pom bensin mini, hingga bank wakaf mikro dengan sistem ekonomi syariah.

Yayan, salah seorang pengurus, mengatakan bahwa berbagai kegiatan di luar mengaji sengaja diajarkan untuk menambah kemampuan santri. Harapannya, setelah menuntaskan pendidikan agama dan keluar dari pondok, para santri memiliki bekal untuk mencari penghidupan. “Kan bisa berwirausaha,” ujarnya.

Sejumlah santri membaca Alquran usai salat duhur di Ponpes An-Nawawi Al-Bantani Tanara, Serang, Banten. (Imam Husein/Jawa Pos)

Untuk menularkan skill wirausaha yang jempolan, pihak pesantren pun tidak main-main dalam mencari guru. Untuk kegiatan pembuatan roti, misalnya, pesantren mendatangkan instruktur dari perusahaan ternama Bogasari.

Hal yang sama dilakukan terhadap program ternak lele yang sudah berlangsung beberapa bulan ini. Pengelola pondok menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memberikan bimbingan kepada para santri. Saat ini ada 10 kolam yang masing-masing berisi 3.500 lele. “Perawatan dilakukan para santri,” kata dia.

Meski belum berjalan lama, sejumlah kegiatan itu mulai menunjukkan hasil positif. Program pembuatan roti, misalnya, setiap hari bisa menghasilkan hampir 100 potong roti. “Dipasarkan di sekitar pondok saja,” tuturnya. Uang hasil penjualan itu digunakan untuk modal membuat ulang roti tersebut.

Santri sedang membuat roti yang akan dijual ke sesama santri di Ponpes An-Nawawi Al-Bantani Tanara, Serang, Banten. (Imam Husein/Jawa Pos)

Program bank wakaf mikro juga berkembang pesat. Saat ini sudah ada 300-an nasabah. Semuanya berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar pondok.

Sementara itu, meski giat melaksanakan program wirausaha, tugas utama santri untuk belajar agama tidak dilupakan. Maghfiroh, salah seorang pengasuh pesantren, menjelaskan bahwa kegiatan wirausaha tetap hanya bersifat penunjang. Selain bergantian, kegiatan itu dilakukan di luar jadwal sekolah dan mengaji. “Biasanya siang setelah sekolah, terus kalau hari libur,” kata dia.

Maghfiroh menjelaskan, ilmu-ilmu keagamaan menjadi kewajiban yang terus diajarkan. Di Ponpes An-Nawawi, banyak kitab yang diajarkan. Mulai kitab Awamil, Jurumiyah, Safinatun Najah, Tafsir Jalalain, Ta’lim Muta’alim, hingga yang khas seperti kitab fikih karangan Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan leluhur pesantren.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (far/c10/oni)