
Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya menjadi simbol penghormatan dan pengingat bagi seluruh pemeluk agama agar senantiasa hidup bertoleransi. Izzatun Najibah/JawaPos.com
JawaPos.com–Layaknya sebuah kelenteng, lengkap dengan nuansa hijau, merah, dan tiang yang berdiri kokoh. Memiliki gaya arsitektur khas bangunan di negeri Ginseng, Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jalan Gading No 2 Kecamatan Genteng, Surabaya, menjadi simbol keberagaman muslim Tionghoa.
Azan zuhur telah berkumandang. Puluhan orang belalu-lalang mulai memasuki wilayah masjid yang berukuran luas 3.070 meter persegi tersebut.
”Awalnya terinsipirasi dari Masjid Niujie di Beijing, usianya 1.000 tahun lebih. Masjid ini pernah hancur dan dibangun lagi oleh Cheng Hoo. Pendiri masjid ini memberikan penghargaan dan penghormatan kepada Laksamana Cheng Hoo. Kebanyakan orang mengira bahwa Cheng Hoo bukan beragama Islam. Dengan berdirinya masjid ini, bisa mengenalkan bahwa Cheng Hoo merupakan seorang muslim yang taat,” ungkap Hasan Basri, ketua Pelaksana Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia atau YHMCHI.
Laksamana Cheng Hoo merupakan seorang muslim yang taat. Hidup sekitar 600 tahun yang lalu. Ditugaskan Raja Dinasti Ming untuk menjelajah Asia dan melakukan syiar perdamaian. Menurut catatan sejarah, dia juga pernah mengunjungi Kerajaan Majapahit guna membangun relasi.
Hasan Basri menjelaskan, pembangunan masjid itu awalnya atas inisiatif Bambang Sujanto. Peletakan batu pertama dimulai pada 15 Oktober 2001 hingga peresmian pada 13 Oktober 2002.
Masjid yang memiliki halaman luas itu mampu menampung 1.750 jamaah. Namun, pada masa musim pandemi sekarang ini, protokol kesehatan harus dijalankan. Sehingga, pihak pengurus memutuskan untuk mengurangi jumlah jamaah. Saat ini, masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya hanya mampu menampung 450 jamaah.
Menurut Hasan Basri, bangunan utama memiliki ukuran 11 x 9 meter. Penentuan ukuran itu bukan asal-asalan. Terdapat makna di dalamnya. Sebelas memiliki makna, Kakbah pertama kali dibangun Nabi Ibrahim AS dengan ukuran 11 x 11 meter. Kemudian angka 9 berasal dari jumlah Wali Songo yang melakukan syiar Islam di tanah Jawa.
Jika berjalan-jalan, lanjut Hasan Basri, di sisi kanan masjid terdapat sebuah relief yang memiliki banyak pesan tersirat di dalamnya. Tergambar sebuah wajah dengan pemandangan alam Indonesia di belakangnya. Terdapat kapal yang besar dan sebuah kolam, lengkap dengan air terjun mininya.
”Kapal ini diibaratkan dengan kapal yang digunakan Laksama Cheng Hoo semasa berlayar mengarungi lautan Samudera Hindia. Relief ini mengingatkan kita, agar jangan jadi orang yang sombong dan tidak risih terhadap orang Islam,” ucap Hasan Basri, pria asal Palembang tersebut.
Dia menambahkan, halaman masjid digunakan sebagai lapangan basket untuk anak-anak sekolah. Di sisi kiri masjid, terdapat sebuah sekolah untuk anak-anak PAUD, TK, dan SD.
”Sekolah ini rangkaiannya di bawah naungan yayasan, agar kita bisa mengembangkan syiar dan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan,” tutur Hasan Basri.
Di masjid Muhammad Cheng Hoo , menurut Hasan Basri, sering mengadakan acara keagamaan maupun sosial. Seperti buka puasa bersama anak yatim, santunan duafa, dan bakti sosial. Bahkan tak jarang melibatkan tokoh agama lain dalam kegiatan sosial.
Namun, kata dia, pada masa pandemi, lagi-lagi segala kegiatan lebih dibatasi, ”Buka puasa sekarang ini lebih terbatas. Sebagian ada di sini, sisanya kita kirim ke rumah-rumah. Kita mendahulukan para lansia yang berpuasa,” terang Hasan Basri.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=QqxiIN9pJMM

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
