
Pejalan kaki saat melintas di terowongan silaturahim yang menghubungkan antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Jakarta tak hanya menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia saat ini, tetapi juga simbol keberagaman dan toleransi umat beragama.
Salah satu bukti nyata dari harmoni tersebut adalah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara, yang berdiri megah berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta.
Kedekatan kedua tempat ibadah ini semakin dipertegas dengan hadirnya Terowongan Silaturahmi, sebuah jalur bawah tanah yang menghubungkan keduanya sebagai simbol persatuan dan kerukunan antarumat beragama.
Dilansir melalui laman Wonderful Indonesia, Jumat (21/2), Masjid Istiqlal kali pertama dibuka untuk umum oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada 22 Februari 1978.
Masjid ini mampu menampung hingga 120.000 jamaah dan menjadi pusat perayaan berbagai hari besar Islam, termasuk salat Idul Fitri yang sering disiarkan secara nasional.
Masjid ini berlokasi di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, tepat di sisi timur laut Lapangan Merdeka dan hampir berhadapan langsung dengan Gereja Katedral Jakarta.
Keberadaan dua tempat ibadah besar ini menunjukkan bahwa Indonesia menjunjung tinggi keberagaman dan kebersamaan.
Sejarah pembangunan Masjid Istiqlal
Gagasan pendirian Masjid Istiqlal kali pertama dicetuskan oleh KH Wahid Hasyim. Nama "Istiqlal" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti "kemerdekaan," sebagai pengingat perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajah.
Masjid ini dirancang pada tahun 1954 oleh Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen asal Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Pembangunannya memakan waktu 17 tahun di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, yang mengawasi langsung proses konstruksi.
Keindahan arsitektur yang mengagumkan
Masjid Istiqlal tidak hanya dikenal karena ukurannya yang megah, tetapi juga karena desain arsitekturnya yang menakjubkan.
Dibangun di atas lahan seluas sekitar sembilan hektare, masjid ini memiliki lima lantai dengan marmer yang didatangkan langsung dari Jawa Timur.
Ruang utama masjid memiliki kubah berdiameter 45 meter yang ditopang oleh 12 pilar besar, mencerminkan kemewahan dan kesederhanaan dalam satu kesatuan. Di bagian dalam, kaligrafi indah bertuliskan nama Allah dan Nabi Muhammad menghiasi mihrab, semakin memperkuat nuansa sakral dalam tempat ibadah ini.
Selain ruang utama, terdapat serangkaian lorong yang menghubungkan area shalat dengan halaman terbuka. Menara masjid yang menjulang tinggi juga menjadi ikon tersendiri, dari mana suara azan berkumandang lima kali sehari.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
