Di bawah langit pagi tersebut, nampak begitu banyak perempuan-perempuan cantik hilir mudik. Mereka datang dengan wajah yang telah disolek membuat pipinya kemerahan, belum lagi gincu yang mengoles di bibir manisnya semakin menambah cetar penampilan. Ditambah balutan pakaian kaftan membuat mereka semakin menarik perhatian.
Tak mau kalah, kaum adam yang juga banyak jumlahnya berpenampilan begitu gagah, berbalut baju koko dan peci yang beraneka ragam model dan motifnya. Asap kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan di sepanjang Jalan Medan Merdeka Timur hingga Jalan Veteran, Jakarta Pusat tak bisa membuat dekil para warga ini.
Para pria dan perempuan ini berkumpul menjadi satu untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1444 di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (22/4). Ya, apapun kondisinya, masjid terbesar di Asia Tenggara ini memang tak pernah sepi peminat. Sekalipun saat pandemi Covid-19 masih melanda tahun lalu, umat islam yang melaksanakn salat id tetap banyak, apalagi saat ini setelah pemerintah perlahan tengah beralih ke endemi, jamaah tentu semakin antusias.
Entah dari mana saja para jamaah ini. Yang pasti banyak warga yang memang tinggal di ibu kota, dan mungkin banyak juga warga dari luar Jakarta. Mereka berdatangan terus menerus sejak pagi buta, bahkan ada yang itikaf sejak malam hari karena Istiqlal beroperasi 24 jam khusus malam takbir.
Intinya, puluhan ribu umat islam ini telah memenuhi seisi ruangan masjid dari lantai 1 sampai 5, hingga ke pelataran masjid disaat lantunan salawat terus berkumandang dari pengeras suara. Celah kosong untuk jamaah membuat shaf pun semakin tak nampak, kemudian habis tak tersisa saat waktu salat id tiba.
Saking padatnya jamaah, baris jamaah di halaman sudah tak beraturan lagi. Perempuan dan laki-laki berbaur begitu saja, karena untuk mengatur agar teratur menyamai baris di dalam masjid sangat sulit. Tapi kondisi ini tidak membuat kekhusukan jamaah hilang.
"Kurang pagi kayaknya datangnya, sudah nggak bisa masuk (ke dalam masjid). Kebagian seadanya saja," kata Siti Fatimah, 22, sambil duduk-duduk di ubin dekat pusat informasi dan keamanan.
Sambil menunggu waktu salat tiba, perempuan asal Salemba, Jakarta Pusat itu berungkali menjentikan jempol tangan kanannya memainkan gawai pintarnya. "Memang sengaja kesini (buat salat id), soalnya nggak setiap tahun juga, biasanya kan di dekat rumah saja, masjid ini kan terkenal banget, jadi pengen ikut ngerasai salat di sini," kata perempuan berambut hitam panjang itu sambil tangan kanannya memegangi kacamata yang dikenakannya.
Banyaknya jamaah yang melaksanakan salat id di Istiqlal juga membawa berkah tersendiri untuk pengais rupiah. Banyak warga yang menawarkan barang dagangan, mulai dari air mineral, teh tarik, hingga mainan anak.
Yang tidak ketinggalan juga ada anak-anak kecil, seumuran anak kelas 2 Sekolah Dasar (SD) menawarkan koran-koran bekas untuk alas salat bagi yang tidak membawa sajadah. Tangan-tangan mungilnya menggenggam setumpuk koran untuk ditawarkan kepada orang-orang.
"Korannya pak, bu, koran," kata seorang anak berbaju koko abu-abu.
Anak berambut cepak dan berkulit kuning langsat itu sejak pagi hari berdiri di dekat gerbang Istiqlal yang letaknya di seberang Gereja Katedral. Dia menjajakan koran bekas seharga Rp 2000 untuk 4 lembar halaman. Memang mahal jika dibandingkan dengan harga koran pada aslinya, apalagi ini koran bekas yang nilai materilnya diukur per kilogram di pengempul sampah. Namun, dalam kondisi mendesak, daripada harus bersujud di atas ubin yang banyak diinjak-injak oleh alas kaki jamaah, harga tersebut tidak menjadi masalah.
Meski barang dagangannya masih banyak, sampai tidak sepenuhnya tergengbang oleh jari-jari, anak penjual koran bekas ini sudah mendapat cukup banyak cuan. Setidaknya sudah hampir Rp 100 ribu masuk ke dalam kantong. Pundi-pundinya cukup besar karena banyak jamaah yang membayar lebih dari Rp 2000, bisa Rp 5000 atau Rp 10.000, mungkin sekalian sebagai sedekah.