Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 April 2023 | 21.23 WIB

Mudik di Momen Lebaran Boleh Tidak Puasa, Ini Syaratnya

 
JawaPos.com - Islam memberikan rukhshah atau keringanan pada sejumlah kelompok untuk tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Salah satunya adalah orang yang sedang bepergian jarak jauh saat sedang melaksanakan ibadah puasa.
 

Ilustrasi Ramadan 1444H.(Dimas Pradipta/JawaPos.com)

 
Gelombang mudik ke kampung halaman yang mulai terjadi sejak akhir pekan lalu dan akan terus membesar dalam beberapa hari ke depan di momen Lebaran 2023, sebenarnya boleh boleh saja untuk tidak melaksanakan ibadah puasa. Kendati demikian, terdapat sejumlah syarat bagi mereka yang mudik agar mendapatkan toleransi atau dispensasi tidak berpuasa.
 
Sejumlah syarat tersebut antara lain; niat untuk bepergian, tujuan dari perjalanan harus lah baik, perjalanan jaraknya minimal 80 kilometer, perjalanan harus terus menerus atau tidak boleh berhenti di suatu tempat lebih dari 4 hari, dan perjalanan dilakukan sebelum terbit fajar atau sebelum salat Subuh.
 
Dikutip dari NU Online, karena ayat Alqur'an tidak menyertakan waktu bepergian, maka terkait syarat yang terakhir di atas ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan tidak berpuasa ketika perjalanan mulai dilakukan setelah Subuh tapi ada juga pendapat yang tidak membolehkannya. 
 
 
Pendapat yang tidak membolehkan untuk membatalkan puasa ketika perjalanan dilakukan pada pagi atau siang hari berdasarkan pada pernyataan Imam Nawawi:
 
 ومن أصبح في الحضر صائما ثم سافر لم يجز له ان يفطر في ذلك اليوم  
 
Artinya:“Barangsiapa yang memasuki waktu Subuh masih di rumah dalam keadaan berpuasa, baru kemudian pergi, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya pada hari itu.” (Al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Darul Fikr], juz 6, halaman 260)
 
Sedangkan Al-Muzani berbeda  pendapat. Dia tetap membolehkan seseorang untuk membatalkan puasa Ramadan dan menggantinya di hari lain bagi yang sedang bepergian di bulan Ramadan pada pagi atau siang hari. Dalam kasus ini, dia menyamakannya dengan orang sakit. Menurut Al-Muzani, orang yang sehat pagi harinya dan di tengah hari mendadak sakit, maka dia boleh membatalkan puasanya. 
 
 وقال المزني له أن يفطر كما لو أصبح الصحيح صائما ثم مرض فله أن يفطر 
 
 
Artinya : “Al-Muzani berkata. ‘Bagi orang yang pergi setelah Subuh boleh membatalkan puasa sebagaimana orang yang masuk pada waktu subuh dalam keadaan sehat, kemudian mendadak sakit, boleh membatalkan puasa.” 
 
 
Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore