Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 April 2023 | 23.41 WIB

Ahli Gizi UGM Sarankan Masyarakat Tidak Olahraga Pagi saat Berpuasa

Ilustrasi warga berolahraga pagi. - Image

Ilustrasi warga berolahraga pagi.

JawaPos.com–Ahli Gizi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta menyarankan masyarakat tidak berolahraga pagi selama menjalankan ibadah puasa.

”Tidak ideal berolahraga pagi hari saat puasa karena ketahanan tubuh lebih lemah karena badan jauh lebih lemas dari biasanya ketika tidak puasa,” ujar Ahli Gizi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Arjuna seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta.

Berolahraga pada pagi hari ketika berpuasa menurut dia, tidak ideal dilakukan. Bahkan cenderung berisiko bagi yang tidak terbiasa.

Saat berolahraga, kata dia, penggunaan kalori lebih banyak yang akan membuat gula darah lebih cepat turun. Sehingga, tubuh merasa lemas dan akan terasa lapar sepanjang hari.

Kondisi tersebut akan berisiko tinggi terutama bagi penderita diabetes. Sebab, bisa terkena serangan hipoglikemia yang membahayakan nyawa.

”Saat berolahraga, tubuh akan mencari sumber alternatif pembakaran. Yang seharusnya glikogen bisa dibakar dalam delapan jam, tapi karena dipakai ketika olahraga tadi dan tidak ada makanan yang masuk otomatis dia habisnya lebih cepat. Ya, otomatis sisa hari jadi jauh lebih berat untuk dilewati,” terang Tony Arjuna.

Dia menjelaskan, aktivitas olahraga bagi yang berpuasa idealnya dilakukan saat mendekati waktu berbuka. ”Dilakukan 30 menit sampai satu jam sebelum berbuka atau setelah tarawih,” ujar Tony Arjuna.

Menurut dia, pentingnya pengelolaan waktu berolahraga saat berpuasa karena tubuh melewati fase adaptasi ketika berolahraga saat berpuasa. Olahraga pun tidak bisa dilakukan sama halnya saat sebelum berpuasa.

”Karena tubuh memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian,” tutur Tony Arjuna.

Saat seseorang tidak berolahraga sama sekali di hari pertama dan kedua puasa, menurut dia, lapar yang dirasakan akan berbeda dengan hari setelahnya. Sebab, itu menjadi fase awal tubuh mengalami defisit kalori yang cukup signifikan.

”Otomatis akan berbeda kondisinya ketika di awal puasa. Setelah bertahap menyesuaikan baru kita mulai meningkatkan intensitasnya di tengah-tengah,” ucap Tony.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore