Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 April 2024 | 18.18 WIB

Tradisi Ketupat, Berawal dari Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa hingga Identik dengan Perayaan Idul Fitri

Kulit ketupat dari daun kelapa yang masih muda atau janur. - Image

Kulit ketupat dari daun kelapa yang masih muda atau janur.

JawaPos.com – Idul Fitri merupakan suatu hari besar nan istimewa bagi seluruh umat Islam. Negara mayoritas penduduk muslim terbesar dunia dengan ratusan etnisnya, memiliki ragam tradisi perayaan Idul Fitri atau lebaran yang amat bervariasi.

Perayaan Idul Fitri identik dengan ketupat, makanan yang disajikan pada hari istimewa tersebut dan perayaan yang mengiringinya. Ketupat merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar beras yang dimasak dengan cara direbus di dalam anyaman janur.

Ketupat menjadi hidangan istimewa yang melekat saat disajikan di Hari Raya Idul Fitri khususnya di Indonesia. Dalam bahasa Jawa, ketupat diistilahkan dengan kupat. Menurutnya, istilah itu merupakan akronim dari ngaku lepat.

Lantas, bagaimana Ketupat bisa menjadi hal yang identik dengan Idul Fitri? Dilansir dari Diskominfo Kaltimprov, Rabu (10/4) Berikut penjelasan tentang ketupat yang sangat berhubungan erat dengan Idul Fitri.

Tradisi ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Sunan Kalijaga menjadikan Ketupat sebagai budaya dan filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Dimana membaurkan pengaruh budaya Hindu pada nilai keislaman, sehingga ada percampuran antara kedua budaya.

Sunan Kalijaga memperkenalkan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Sebagai informasi, Bakda Kupat merupakan budaya yang dimulai satu minggu setelah lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan Ketupat. Biasanya Ketupat diantarkan kepada kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan.

Sunan Kalijaga membagikan Ketupat sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Ini menjadi pendekatan budaya oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak orang Jawa untuk memeluk agama Islam pada kala itu.

Secara perlahan, tradisi Ketupat ini menjadi melekat di Indonesia sebagai hidangan Lebaran.

Ketupat berasal dari kata “Kupat” dan memiliki arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar) dan laburan (menyucikan diri).

Selanjutnya, isian beras pada Ketupat dilambangkan sebagai hawa nafsu. Daun kelapa muda atau Janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani). Jika digabungkan, Ketupat memiliki arti manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nurani.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore