
Kulit ketupat dari daun kelapa yang masih muda atau janur.
JawaPos.com – Idul Fitri merupakan suatu hari besar nan istimewa bagi seluruh umat Islam. Negara mayoritas penduduk muslim terbesar dunia dengan ratusan etnisnya, memiliki ragam tradisi perayaan Idul Fitri atau lebaran yang amat bervariasi.
Perayaan Idul Fitri identik dengan ketupat, makanan yang disajikan pada hari istimewa tersebut dan perayaan yang mengiringinya. Ketupat merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar beras yang dimasak dengan cara direbus di dalam anyaman janur.
Ketupat menjadi hidangan istimewa yang melekat saat disajikan di Hari Raya Idul Fitri khususnya di Indonesia. Dalam bahasa Jawa, ketupat diistilahkan dengan kupat. Menurutnya, istilah itu merupakan akronim dari ngaku lepat.
Lantas, bagaimana Ketupat bisa menjadi hal yang identik dengan Idul Fitri? Dilansir dari Diskominfo Kaltimprov, Rabu (10/4) Berikut penjelasan tentang ketupat yang sangat berhubungan erat dengan Idul Fitri.
Tradisi ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.
Sunan Kalijaga menjadikan Ketupat sebagai budaya dan filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Dimana membaurkan pengaruh budaya Hindu pada nilai keislaman, sehingga ada percampuran antara kedua budaya.
Sunan Kalijaga memperkenalkan Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Sebagai informasi, Bakda Kupat merupakan budaya yang dimulai satu minggu setelah lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan Ketupat. Biasanya Ketupat diantarkan kepada kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan.
Sunan Kalijaga membagikan Ketupat sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Ini menjadi pendekatan budaya oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak orang Jawa untuk memeluk agama Islam pada kala itu.
Secara perlahan, tradisi Ketupat ini menjadi melekat di Indonesia sebagai hidangan Lebaran.
Ketupat berasal dari kata “Kupat” dan memiliki arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar) dan laburan (menyucikan diri).
Selanjutnya, isian beras pada Ketupat dilambangkan sebagai hawa nafsu. Daun kelapa muda atau Janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani). Jika digabungkan, Ketupat memiliki arti manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nurani.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
