
Suasana buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Kamis (23/3) (Foto Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, bulan suci Ramadhan menyimpan beberapa momen kultural yang khas dan menjadi tanda keistimewaan bulan suci ini.
Ya, mungkin masih banyak yang tidak mengetahui asal-usul tradisi Takjil di Indonesia yang padahal nampak umum di negara kita.
Untuk lebih lengkapnya, berikut penjelasan dan sejarah ringkas mengenai asal-usul tradisi Takjil di Indonesia, yang ternyata dipopulerkan oleh Muhammadiyah.
Mengutip informasi dari laman Muhammadiyah.or.id, Jumat (29/3), istilah Takjil diambil dari Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriiwayatkan Imam Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan (Ajjalu) berbuka”.
Istilah ‘menyegerakan’ dalam hadis tersebut (Ajjalu), dalam bahasa Arab memiliki medan semantik yaitu ajjala–yu’ajjilu–ta’
Dalam tataran Budaya, Takjil dimiliki oleh setiap bangsa muslim di seluruh dunia dan Indonesia jauh sebelum Muhammadiyah lahir. Sn
Dalam catatan lain yang belum terkonfirmasi kebenarannya, takjil bahkan menjadi medium dakwah Wali Songo untuk melakukan dakwah dan Islamisasi di bumi Nusantara. Meskipun Takjil dikenal sebagai bagian dari perintah Nabi dan diadopsi dalam berbagai budaya yang berbeda, nyatanya pada masa-masa itu Takjil hanya menjadi kebudayaan lokal, dan bukan kebudayaan populer.
Profesor Munir Mulkhan dalam bukunya yang berjudul Kiai Ahmad Dahlan – Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010) mencatat bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dalam mempopulerkan Takjil beserta seremoni kultural lain di dalam Ramadhan seperti mengakhirkan sahur maupun kegiatan kultural pada momen hari besar keagamaan Islam lainnya.
Munir mencatat bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid mempopulerkan tradisi mengakhirkan makan sahur menjelang waktu subuh tiba dan menggelar takjil untuk menyegerakan kaum muslimin untuk berbuka.
Sebagaimana usaha Kiai Ahmad Dahlan membawa ajaran Islam Muhammadiyah yang ditentang oleh kelompok tradisional hingga Kiai Dahlan pernah dituduh sebagai ‘Kiai Kafir’, usaha Muhammadiyah dalam mempopulerkan Takjil dan mengakhirkan sahur pun mendapatkan tuduhan dan persepsi miring.
“Cara Muhammadiyah memenuhi ibadah puasa di atas waktu itu menyebabkan pengikut Muhammadiyah dicap tidak tahan lapar, tapi saat ini cara pengikut Muhammadiyah itu sudah menjadi tradisi puasa semua warga muslim di Indonesia,” catat Munir dalam bukunya tersebut.
Untuk menarik minat jamaah Muhammadiyah, tradisi berbagi takjil dan berbuka puasa bersama di masjid dijadikan sebagai media dakwah.
Itulah penjelasan singkat mengenai tradisi Takjil yang populer pada momen bulan Ramadhan.
Deskripsi singkat: Artikel ini memberikan informasi mengenai sejarah singkat asal-usul tradisi Takjil di Indonesia. Artikel ini disadur dari website Muhammadiyah.or.id yang menjelaskan bahwa organisasi Muhammadiyah yang mempopulerkan tradisi ini di Indonesia.
***
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
