Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 19.14 WIB

Ponpes Salafiyah Biba’a Fadlrah, Malang, yang Terus Membangun untuk Membahagiakan

RAMAI DIKUNJUNGI: Ponpes Salafiyah Biba - Image

RAMAI DIKUNJUNGI: Ponpes Salafiyah Biba

Selesaikan Masalah dengan Bangunan yang Bawa Manfaat

KE bangunan yang terletak di Desa Sananrejo, Kabupaten Malang, itu adalah lawatan yang menjanjikan banyak hal. Dari kesempatan beribadah sampai tamasya yang memanjakan mata.

Dari lantai 9 dan 10 bangunan Ponpes Salafiyah Biba’a Fadlrah itu, misalnya, menawarkan apa yang mungkin tidak bisa didapat di sembarang tempat: lanskap banyak sudut di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Jejak sejarah juga bisa langsung ditemukan di dekat pintu masuk bangunan yang memadukan cita rasa arsitektur Timur Tengah, India, Eropa, dan Tiongkok tersebut. ”Dari pintu masuk, di sebelah kiri ada aula. Di sana itu tempat lahirnya Romo Kiai Ahmad,” ujar Fadlrah Kisyanto, salah satu panitia Ponpes Salafiyah Biba’a, kepada Jawa Pos Radar Malang Jumat (31/3) lalu.

Sebagian orang mengenal bangunan ponpes tersebut sebagai Masjid Tiban. Ponpes itu bernama lengkap Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah atau dalam keseharian disingkat dengan Ponpes Salafiyah Biba’a Fadlrah.

Bangunan tersebut awalnya rumah tinggal milik perintis, pendiri, pemilik, sekaligus pengasuh ponpes Hadlratus Syaich Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam. Orang-orang biasa memanggilnya Romo Kiai Ahmad.

Karena banyak dijadikan jujukan mempelajari Islam, pada 1978 bangunan tersebut diresmikan sebagai ponpes. Sejak saat itu pula mulai ada pembangunan sedikit demi sedikit.

Namun, terang Kisyanto, konstruksinya hanya menggunakan batu bata merah dan tanah liat. Pada 1998, ketika Indonesia diterpa krisis moneter, dimulailah pembangunan menggunakan konstruksi permanen.

Secara logika, lanjut Kisyanto, memang tidak lazim. ”Hati saja juga setengah protes. Kondisi krisis kok malah diminta membangun pondok. Namun, mulai saat itu, pembangunan justru tidak pernah berhenti sampai sekarang,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan. Pembangunan itu memang berdasar hasil istikharah Romo Kiai Ahmad ketika menemui permasalahan. ”Setelah istikharah, beliau akan diberi petunjuk untuk melaksanakan pembangunan. Sehingga tidak ada gambarnya sama sekali,” kata Kisyanto.

Biasanya, Romo Kiai Ahmad hanya akan menyampaikan gambaran umum. Seperti perintah membangun lantai berapa beserta ukurannya. Petunjuk itu akan disampaikan kepada Kisyanto dan rekan-rekannya. ”Saya biasanya menerjemahkan sendiri melalui diskusi bersama beliau. Kalau dalam proses pembangunan ada yang tidak tepat, ya kami akan konsultasi,” lanjutnya.

Proses seperti itu terus berlanjut hingga kini mencapai sebelas lantai. Meski memang belum semuanya 100 persen terselesaikan. Sebab, pembangunan dilakukan secara bertahap dan diutamakan dasar bangunannya saja. ”Kalau harus finis semua sebelas lantai, ya tidak mungkin. Lantai pertama saja masih ada yang belum selesai,” kata alumnus Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Di beberapa ruangan pun masih banyak dinding yang belum dicat atau bahkan belum diberi ornamen. Untuk lantai 1, tampak pajangan akuarium cukup besar dan tempat penjualan cenderamata. Berbagai jenis makanan ringan pun dijual dengan harga murah, sekitar Rp 1.000–20.000.

RAMAI DIKUNJUNGI: Salah satu sudut bagian dalam ponpes yang bangunannya terdiri atas sebelas lantai tersebut. Ponpes Salafiyah Biba

Di lantai 2 sampai 6, terdapat ukiran yang terpahat indah. Kemudian, di lantai 7 dan 8, terdapat pusat perbelanjaan atau oleh-oleh yang dikelola para santri. Sementara pembangunan di lantai 11 masih bertahap.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore