Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 15.21 WIB

Waspadai! Separuh Konten Mental Health di TikTok Mengandung Misinformasi

Seorang remaja menatap layar ponsel sambil duduk di kamar gelap, mencerminkan kecemasan yang dipicu oleh konsumsi konten kesehatan mental di media sosial. (Dok. Canva) - Image

Seorang remaja menatap layar ponsel sambil duduk di kamar gelap, mencerminkan kecemasan yang dipicu oleh konsumsi konten kesehatan mental di media sosial. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Di tengah maraknya konten kesehatan mental di TikTok, muncul sebuah fakta yang mengejutkan, yakni lebih dari setengah video populer bertema mental health di platform ini mengandung informasi yang salah. Temuan ini diungkap melalui investigasi mendalam oleh The Guardian, yang menggandeng para ahli dari berbagai bidang kesehatan jiwa.

Menurut laporan dari The Guardian, sebanyak 52 dari 100 video dengan tagar #mentalhealthtips di TikTok terbukti menyebarkan misinformasi. Video-video ini mencakup topik seperti trauma, neurodivergensi, kecemasan, depresi, hingga gangguan mental berat. Namun sayangnya, banyak dari konten tersebut justru menawarkan solusi instan yang menyesatkan atau mendefinisikan pengalaman emosional umum sebagai gangguan serius.

Misalnya, terdapat video yang mengklaim bahwa makan jeruk di kamar mandi dapat mengurangi kecemasan. Ada pula yang mempromosikan suplemen seperti saffron dan magnesium glycinate sebagai obat ampuh untuk gangguan cemas, padahal bukti ilmiahnya masih terbatas. Beberapa video bahkan menyederhanakan penyembuhan trauma menjadi proses satu jam saja, sesuatu yang jelas jauh dari kenyataan.

David Okai, pakar neuropsikiatri dari King’s College London, menyebut bahwa banyak video menyalahgunakan istilah-istilah terapeutik.

"Istilah seperti wellbeing, anxiety, dan mental disorder sering dipakai secara bergantian, padahal maknanya berbeda. Hal ini bisa membuat publik bingung soal apa itu gangguan mental sebenarnya," ujarnya, dikutip dari The Guardian.

Senada dengan itu, Dan Poulter, psikiater dan mantan menteri kesehatan Inggris, menyebut bahwa konten-konten tersebut sering "memediskan" emosi harian.

"Ini bisa menyesatkan orang-orang yang rentan dan juga meremehkan pengalaman nyata para penderita gangguan mental berat," tegasnya.

Amber Johnston, psikolog dari British Psychological Society, mengkritik video-video seputar trauma yang dianggap terlalu menyederhanakan gejala PTSD.

"Trauma itu sangat individual dan kompleks. Tidak bisa dijelaskan tuntas dalam video berdurasi 30 detik," ungkapnya.

Meski TikTok menyatakan bahwa mereka telah menghapus konten berbahaya dan bekerja sama dengan WHO serta NHS untuk menyebarkan informasi terpercaya, para pakar tetap khawatir.

"Sistem rekomendasi algoritma justru memperkuat penyebaran konten yang menyesatkan," ujar Chi Onwurah, anggota parlemen Inggris, yang kini tengah menyelidiki efektivitas Undang-Undang Keamanan Online (Online Safety Act).

Victoria Collins, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat, bahkan menyebut temuan ini sebagai "sangat memprihatinkan". Sementara itu, Paulette Hamilton, Ketua Komite Kesehatan dan Layanan Sosial, mengingatkan, "Tips di media sosial tidak bisa menggantikan peran tenaga profesional."

Profesor Bernadka Dubicka dari Royal College of Psychiatrists juga menekankan pentingnya informasi berbasis bukti.

"Diagnosis gangguan mental hanya dapat dilakukan melalui asesmen menyeluruh oleh profesional kesehatan jiwa yang berkualifikasi," katanya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa meski media sosial bisa menjadi ruang berbagi dan mencari dukungan, kita tetap harus berhati-hati dalam menerima informasi. Apalagi bila menyangkut kesehatan mental, akurasi dan keandalan sumber informasi adalah hal mutlak.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore