
Ilustrasi daging olahan.
JawaPos.com - Kanker payudara adalah benjolan yang muncul di payudara ataupun ketiak.
Kanker payudara sendiri merupakan salah satu penyakit mematikan yang mengancam kesehatan perempuan di seluruh dunia terutama di Indonesia.
Menurut data Global Cancer Statistics (Globocan) 2022, di Indonesia terdapat 408.661 kasus kanker baru dengan 22.598 kematian yang disebabkan oleh kanker payudara.
Dikutip dari herscan.com, ada banyak faktor pemicu yang bisa meningkatnya risiko kanker payudara, seperti usia, genetika, riwayat keluarga, dan jenis kelamin bisa meningkatkan risiko kanker payudara, begitu juga dengan pola hidup seperti merokok, kurang bergerak, berat badan, dan pola makan.
Perlu diketahui, bahwa kanker payudara lebih jarang terjadi di negara-negara yang biasa mengonsumsi makanan nabati yang rendah lemak tak jenuh ganda dan lemak jenuh.
Dari hal ini bisa kita simpulkan, bahwa pola makan sangat mempengaruhi risiko serangan kanker payudara.
Lantas apa saja makanan pemicu kanker yang perlu diwaspadai? Berikut adalah deretan makanan yang perlu dihindari:
1. Daging olahan
Daging olahan merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, karena makanan tersebut lebih praktis dibanding dengan daging segar. Daging olahan meliputi produk daging yang diawetkan dengan cara diasapi, diasinkan, diawetkan dengan minyak, atau ditambahkan bahan kimia tambahan. Adapun produk daging olahan seperti ham, dendeng, sosis, dan nugget.
Lalu mengapa daging olahan bisa berbahaya bagi tubuh kita? Karena dalam proses memasak daging biasanya menggunakan suhu tinggi. Suhu tinggi tersebutlah membuat zat kimia baru yaitu zat amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatic polisiklik (PAH) yang dapat membantu perkembangan kanker.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membatasi atau menghindari jenis makanan ini. Namun jika belum sanggup untuk lepas dari bahan makanan yang satu ini, kita bisa memasak daging olahan dengan suhu rendah guna mencegah pembentukan zat kimia HCA dan PAH.
2. Makanan Non-Organik
Banyak penelitian dan bukti mengenai bagaimana bahan kimia yang digunakan untuk menanam dapat bereaksi dengan tubuh kita. Penggunaan pestisida dan herbisida selama proses penanaman mungkin saja terdapat residu yang membahayakan bagi tubuh jika terkonsumsi.
Selama bertahun-tahun, telah ada sejumlah penelitian yang mengaitkan pestisida tertentu dengan kanker, termasuk asam diklorofenoksiasetat, yang masih sering digunakan hingga saat ini. Pestisida ini merupakan pengganggu endokrin yang sebenarnya dapat meniru estrogen, kadar hormon estrogen yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker.
Hal ini membuat kita harus selalu mencuci makanan sebelum kita olah. Bahkan jika memungkinkan, konsumsilah makanan organik yang tidak menggunakan pestisida atau herbisida penyebab kanker.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
