Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Mei 2017 | 04.52 WIB

Penasaran Tentang Keloid? Baca Ini Yuk...

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com - Keloid menjadi permasalahan tersendiri. Sebab tidak hanya secara estetika, namun orang dengan keloid juga mempunyai keluhan fisik. Spesialis bedah plastik RSUD dr Soetomo dr Agus Santoso Budi SpBP menuturkan, hal itu adalah wajar. Sebab keloid yang merupakan hasil dari produksi kolagen atau jaringan parut berlebih tersebut akan terus tumbuh.



Semakin digaruk, akan merangsang pertumbuhan kolagen, akhirnya pertumbuhannya makin besar. Selain itu, tidak hanya merasa gatal, penderita keloid juga akan merasa nyeri di bagian keloid. Rasanya seperti tertarik dan tertusuk-tusuk. Secara medis, hal itu terkait dengan faktor dari dalam dan luar tubuh.



Dari dalam, dipengaruhi oleh genetik. Bila ibu atau ayah mempunyai keloid, kemungkinannya lebih dari 50 persen sang anak terhadap keloid. Selain itu, orang asia seperti kita mempunyai potensi lebih tinggi daripada orang Eropa. Ini terkait dengan melanin atau zat warna kulit orang eropa yang sedikit.


’’Kalau faktor dari luar tubuh bisa dari pola makan, yang suka makan yang mengandung protein hewani risikonya lebih besar, sebab protein hewani mempunyai sifat menumbuhkan keloid,’’ ulasnya.



Biasanya, lanjut Agus, pasien datang bila keloid sudah mengganggu aktivitas mereka. misalnya keloid terjadi di dekat lubang hidung. Karena sifatnya sebagai tumor jinak yang terus tumbuh, keloid tumbuh hingga menutupi lubang hidup. Jelas mengganggu pernapasan pasien.



Namun untuk masalah estetika, bergantung pasien. Ada kalanya dokter mengatakan tidak diperlukan tindakan, namun pasien merasa keloid tersebut mengganggu penampilannya.



Untuk tindakan yang bisa menghilangkan keloid, terdapat banyak tindakan yang bisa dilakukan. Mulai dari non operatif sampai dengan tindakan operasi. ’’Untuk penyembuhan keloid lebih baik dilakukan secara kombinasi,’’ ulasnya.


Misalnya dalam tindakan-tindakan operatif, bisa dilakukan injeksi yang dikombinasi dengan pemberian obat-obatan lain. Karena dengan satu pengobatan, efektivitas hanya sekitar 10 sampai 50 persen. Sedangkan bila dikombinasi, kemungkinan keberhasilan lebih dari 50 persen. (ina/tia)




Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore