Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 April 2017 | 20.15 WIB

Tiga Bulan, Tujuh Pasien DBD di Sidoarjo Meninggal

Kasus DBD Triwulan Pertama - Image

Kasus DBD Triwulan Pertama

JawaPos.com – Kota Delta kerap diguyur hujan hingga saat ini. Cuaca itu berpotensi membuat daya tahan tubuh makin lemah. Berbagai penyakit pun mudah menyerang. Tidak terkecuali demam berdarah dengue (DBD). Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, hingga triwulan pertama, DBD mencapai 237 kasus. Tujuh orang di antaranya meninggal.


Meski demikian, kasus DBD pada triwulan pertama (Januari–Maret) tersebut menurun jika dibanding dengan tahun lalu. ”Tahun lalu rata-rata sebulan ditemukan 200 kasus,” kata Plt Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Sidoarjo dr Idong Djuanda.


Menurut dia, puncak musim hujan memang telah lewat. Namun, masyarakat harus tetap waspada terhadap penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Sebab, penyakit itu tetap berpotensi menyerang siapa saja tanpa mengenal status sosial. ”Semua bergantung lingkungan,” ujarnya.


Idong berharap masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk menggalakkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah masing-masing. Sebab, telur-telur nyamuk Aedes aegypti mampu bertahan hingga enam bulan. Ketika terkena air, telur-telur itu bisa langsung menetas. ”PSN ini yang bisa membersihkan jentik-jentik nyamuk,” ucapnya.


Selama ini kesadaran masyarakat terhadap bahaya DBD dan melakukan PSN kurang. Karena itu, dinkes melalui puskesmas terus melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan PSN bersama. Salah satunya, membentuk juru pemantau jentik (jumantik). ”Yang harus dilihat adalah angka bebas jentik (ABJ, Red)-nya seberapa,” terangnya.


Idong menuturkan, selama ini RSUD maupun puskesmas di Sidoarjo terus meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap pasien. Jadi, ketika ada pasien yang suspect DBD, puskesmas harus melakukan observasi terhadap pasien. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan. ”Sekaligus supaya tidak kecolongan,” lanjutnya.


Selama ini kasus kematian karena DBD disebabkan keterlambatan penanganan. Menurut dia, banyak masyarakat yang kurang tahu terhadap tanda-tanda DBD. Dengan begitu, kondisi pasien saat dibawa ke puskesmas sudah parah. Trombositnya sudah sedikit sekali. ”Kalau ada pasien suspect DBD, puskesmas atau RSUD langsung melakukan observasi. Sebab, trombosit pasien DBD cepat naik turun,” ujarnya.



Idong menyatakan, tanda-tanda DBD adalah demam tinggi, nyeri sendi dan otot, serta pusing. Selain itu, muncul ruam di sebagian tubuh dan pendarahan ringan di hidung. ”Kalau sudah sampai pendarahan, berarti kondisi sudah parah,” tandasnya. (ayu/c25/hud/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore