
Ilustrasi orang yang mengidap kanker usus besar. (Pexels/cottonbro studio)
JawaPos.com - Ilmuwan Korea Selatan dilaporkan berhasil menemukan metode untuk mengembalikan sel kanker usus besar menjadi sel normal tanpa menghancurkannya. Temuan yang dikembangkan peneliti Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) ini dinilai menjanjikan, meski masih berada pada tahap awal penelitian dan belum bisa diterapkan pada manusia.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam subspesialis Hematologi-Onkologi Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM menjelaskan, penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science dan berfokus pada upaya memprogram ulang sel kanker kolon agar kembali menjadi sel normal.
“Peneliti-peneliti di KAIST yang dipimpin oleh Profesor Kwang-Hyun Cho menyampaikan bahwa mereka telah menemukan suatu cara yang istimewa untuk penelitian pengobatan kanker, khususnya kanker kolorektal,” ujar Prof. Zubairi saat dihubungi JawaPos.com, Senin (9/2).
Menurutnya, pendekatan yang digunakan ini berbeda dari terapi kanker pada umumnya yang bertujuan menghancurkan sel kanker. Dalam riset ini, sel kanker justru dikembalikan ke kondisi normal.
“Jadi tanpa menghancurkan sel kanker, namun sel kankernya dipulihkan kembali ke sel normal. Kan sel kanker tadinya asalnya dari sel normal yang salah tumbuh,” jelasnya.
Prof. Zubairi memaparkan, metode tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi tiga gen regulator utama dalam jejaring sel kanker kolon, yakni MYB1, HDAC2, dan FOXA2. Ketiga gen ini berperan penting dalam proses perubahan sel normal menjadi sel kanker.
“Bila dihambat ketiga gen ini akan menyebabkan proses menjadi terbalik: proses perubahan dari normal ke kanker, kemudian kembali ke normal lagi,” katanya.
Hasil pendekatan ini disebut berhasil memulihkan kondisi kanker tanpa merusak sel, berdasarkan simulasi komputer dan uji pada hewan percobaan.
“Tidak menghancurkan sel kanker, namun mengembalikan kembali ke sel normal. Dan ini diteliti pada binatang percobaan, dalam hal ini tikus,” lanjut Prof. Zubairi.
Meski dinilai revolusioner, ia menegaskan bahwa temuan tersebut masih berada pada fase pre-klinik sehingga belum dapat digunakan sebagai terapi pada manusia.
“Walaupun amat sangat promising, namun peneliti ini masih ada pada tahap pre-klinik, fase laboratorium dan penelitian pada tikus, jadi belum terbukti pada manusia,” tegasnya.
Prof. Zubairi menambahkan, hingga saat ini pengobatan standar kanker kolorektal stadium lanjut masih mengandalkan kemoterapi dan terapi target.
“Pengobatan standar untuk kanker kolorektal yang lanjut masih berdasarkan kemoterapi dan terapi target,” pungkasnya

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
