Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Mei 2025 | 22.56 WIB

Benarkah Stres Bisa Sebabkan Sakit Kepala dan Migrain? Ini Penjelasan Medis yang Perlu Anda Tahu

Seseorang yang sakit kepala karena stres. (Pexels/Photo by Edward Jenner) - Image

Seseorang yang sakit kepala karena stres. (Pexels/Photo by Edward Jenner)

JawaPos.com - Stres bukan sekadar tekanan emosional semata. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini bisa berdampak langsung pada kesehatan fisik, salah satunya menimbulkan rasa sakit di kepala. Banyak orang mengaku mengalami pusing, kepala tegang, hingga rasa tidak nyaman di leher dan bahu saat sedang tertekan. Namun, apakah benar stres dapat menyebabkan sakit kepala atau bahkan migrain?

Dilansir dari Healthline pada Senin (26/05), ada sejumlah penjelasan medis mengenai hubungan stres dengan sakit kepala dan migrain. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang penyebabnya, gejala yang muncul, perbedaan antara sakit kepala karena stres dan migrain, serta bagaimana cara meredakannya secara alami maupun medis.

Kenapa Stres Bisa Picu Sakit Kepala?

Stres sering kali memicu ketegangan otot, terutama di area leher, bahu, dan kepala. Ketegangan ini bisa terjadi akibat kontraksi otot yang berulang, misalnya karena postur tubuh yang buruk saat bekerja atau kurang tidur. Akibatnya, tubuh mencoba mengompensasi dengan cara yang justru menambah beban pada area kepala dan leher.

Selain itu, kondisi seperti kecemasan dan depresi juga berperan dalam memunculkan sakit kepala jenis ini. Inilah yang disebut sebagai tension-type headache atau sakit kepala karena stres. Para ahli menduga bahwa gangguan pada sistem saraf otonom akibat stres kronis turut memperparah kondisi tersebut.

Cedera kepala ringan juga bisa memperbesar risiko terjadinya sakit kepala karena stres, terutama jika tidak ditangani dengan baik. Jadi, meskipun terlihat sepele, stres bisa jadi penyebab utama rasa sakit yang terasa menekan di kepala Anda.

Ciri-Ciri Sakit Kepala karena Stres

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), sakit kepala akibat stres biasanya ditandai dengan rasa nyeri tumpul yang terasa seperti tekanan di kepala. Rasa sakit ini sering kali menyebar ke bagian pelipis, kulit kepala, bahkan leher bagian belakang.

Beberapa orang juga mengeluhkan rasa kaku di bahu, sulit tidur, dan nyeri yang terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama. Rasa sakit ini bisa berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari, namun rata-rata muncul selama 4–6 jam.

Tidak seperti migrain, sakit kepala karena stres umumnya tidak disertai dengan mual atau muntah. Jadi, kalau Anda merasa kepala terasa seperti ditekan tanpa disertai gangguan lambung, besar kemungkinan itu adalah gejala dari sakit kepala akibat stres.

Sakit Kepala dan Migrain, Apa Bedanya?

Meski sama-sama dipicu oleh stres, migrain dan sakit kepala jenis tension-type memiliki perbedaan yang signifikan. Migrain biasanya menimbulkan rasa nyeri yang berdenyut kuat di salah satu sisi kepala, disertai gangguan penglihatan seperti melihat bintang atau mengalami penglihatan terowongan.

Beberapa gejala lain dari migrain termasuk nyeri di belakang mata, mual, muntah, mudah menguap, kesulitan berkonsentrasi, hingga mati rasa dan kesemutan. Menurut Healthline, stres adalah pemicu migrain yang paling umum dilaporkan oleh pasien, meski belum ada bukti ilmiah yang mengonfirmasi bahwa stres secara langsung menyebabkan migrain.

Perbedaan utamanya terletak pada intensitas dan gejala penyerta. Migrain bisa bertahan antara 4 hingga 72 jam dan sering kali membuat penderitanya harus menghentikan aktivitas sepenuhnya.

Cara Alami Meredakan Sakit Kepala karena Stres

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore