Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juli 2024 | 16.38 WIB

Alami Gawat Darurat Jantung Saat Olahraga? Cardiac Emergency Mayapada Hospital Solusinya!

Ilustrasi orang terkena serangan jantung./Sumber Foto: Kemenkes RI - Image

Ilustrasi orang terkena serangan jantung./Sumber Foto: Kemenkes RI

JawaPos.com - Jantung adalah organ vital dan kompleks yang tanpa henti memompa darah ke seluruh tubuh untuk mengantarkan oksigen serta nutrisi yang esensial bagi kehidupan. Namun bagaikan mesin yang dapat mengalami gangguan, jantung pun dapat mengalami kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa seperti serangan jantung dan henti jantung mendadak.

Serangan jantung dapat terjadi karena adanya penyumbatan total pada aliran darah ke otot jantung, sedangkan henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest terjadi saat aktivitas listrik jantung terhenti secara tiba-tiba dan menghentikan aliran darah ke seluruh tubuh, di mana salah satu penyebab henti jantung mendadak adalah aritmia (gangguan irama jantung).

Kondisi gawat darurat ini juga berpotensi terjadi ketika berolahraga sebagai aktivitas yang membutuhkan banyak energi. Lantas, Anda perlu mengantisipasi kondisi gawat darurat jantung, terutama jika Anda rutin berolahraga.

Nah, siapa yang tak panik bila kasus gawat darurat jantung ini terjadi pada Anda, keluarga, atau orang sekitar Anda? Gawat darurat jantung merupakan kondisi medis serius yang memerlukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah kerusakan permanen atau kematian.

Saat kondisi ini terjadi, Anda perlu ingat bahwa ada layanan 24 jam Cardiac Emergency di Mayapada Hospital yang dapat menjadi jalan keluar dalam menangani kasus kegawatdaruratan jantung.

Pada kasus serangan jantung, sumbatan harus segera dibuka dengan melakukan tindakan Primary Percutaneous Coronary Intervention (Primary PCI), suatu tindakan minimal invasif untuk pemasangan stent/ring jantung.

“Dalam penanganan kasus serangan jantung, golden period memang faktor yang sangat penting, karena sel otot jantung akan mulai mati dalam 80 – 90 menit setelah terhenti mendapatkan supply darah akibat sumbatan total pada pembuluh darah," kata Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Mayapada Hospital Tangerang, dr. Aron Husink, Sp,JP (K), FIHA dalam keterangannya, dikutip Senin (22/7).

Lebih lanjut, dr. Bimo Bintoro, SpJP (K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Mayapada Hospital Bogor menjelaskan, periode emas (golden period) pada serangan jantung adalah waktu 90 menit pertama periode kritis yang sangat penting.

"Ini adalah periode waktu terbaik untuk membuka sumbatan jantung koroner, sebelum terjadi kematian sel otot jantung dan memberi harapan pemulihan jantung yang optimal,” ungkapnya.

Setelah terdiagnosis serangan jantung, Primary PCI harus segera dilakukan dalam waktu kurang dari 60 menit sejak gejala awal muncul. Kemudian apabila saat serangan jantung terjadi dan pasien dibawa ke rumah sakit yang tidak bisa melakukan Primary PCI, pasien pun harus segera ditransfer ke rumah sakit yang memiliki fasilitas cath lab dalam waktu 90-120 menit.

Namun, Dokter Vireza Pratama, SpJP, Subsp.IKKv(K), FIHA, FAsCC, FSCAI, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menekankan, pada prinsipnya, penanganan secepat mungkin memberikan manfaat paling besar dan meningkatkan survival rate yang lebih baik. "Sebaliknya, semakin lama tindakan dilakukan, akan semakin banyak jaringan otot jantung yang mengalami kematian, karena time is muscle,” tutur dokter Vireza.

Oleh karena itu, penting untuk memastikan rumah sakit mana yang memiliki fasilitas cath lab supaya dapat menangani serangan jantung dengan cepat dan tepat. Mayapada Hospital, tempat Dokter Aron, Dokter Vireza dan Dokter Bimo berpraktik, diketahui telah berpengalaman menangani kasus serangan jantung melalui layanan Cardiac Emergency, dilengkapi dengan fasilitas Catheterization Laboratorium (Cath Lab) yang komprehensif serta didukung dengan tim multidisiplin.

Adapun prosedur Primary PCI ini dijelaskan oleh Dr.med.dr. Tike Hari Pratikto, SpJP(K) sebagai Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi dari Mayapada Hospital Kuningan. Menurutnya, prosedur dilakukan dengan memasukkan kateter melalui lengan hingga masuk ke pembuluh darah koroner jantung. Setelah kateter masuk, dilakukan pengembangan menggunakan balon pada daerah yang menyempit. "Ketika pembuluh darah sudah terbuka, maka dilanjutkan dengan pemasangan stent supaya pembuluh darah tetap terbuka," jelasnya.

Ada kalanya pemasangan stent/ring jantung pada Primary PCI terasa sulit untuk dilakukan. Jika kondisi ini terjadi, terdapat teknologi khusus untuk membantu dokter dalam pemasangan stent, yaitu dengan IVUS dan Rotablator. Dijelaskan oleh dr. Dendi Puji Wahyudi, SpJP (K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Mayapada Hospital Bandung, IVUS (Intravascular Ultrasound) adalah prosedur medis yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran detail pembuluh darah jantung sehingga dapat membantu dokter lebih presisi dalam menempatkan ring jantung.

Sedangkan Rotablator adalah alat yang digunakan dalam prosedur intervensi jantung koroner (aterektomi rotasi), yaituprosedur untuk mengikis plak yang menyumbat arteri koroner sebelum dilakukan pemasangan stent. "Rotablator dapat membuka sumbatan yang panjang, kaku, dan terletak di lokasi percabangan arteri koroner," terangnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore