
Penyebab Tinitus
JawaPos.com – Ngiiing... Suara itulah yang terdengar oleh telinga Sunarno, 49, beberapa minggu lalu. Sebelumnya, dia tidak pernah mengalaminya. Tiba-tiba telinganya berdenging.
Dia sangat terganggu oleh suara itu. Sampai-sampai susah tidur. ”Awalnya saya diamkan, tapi kok empat hari tidak sembuh,” tutur pria yang bekerja wiraswasta itu. Sunarno lantas memeriksakan diri ke puskesmas. Lalu, dia diminta untuk berobat ke dokter spesialis THT.
Dari pemeriksaan diketahui bahwa pria yang tinggal di Surabaya Barat itu mengalami tinitus (dengungan pada telinga). Penyebabnya adalah penumpukan kotoran di telinga. Dia sering membersihkan telinga dengan cotton bud. ”Setelah dibersihkan oleh dokter, sudah tidak berdenging lagi,” ujar Sunarno.
Tinitus bukan penyakit. Tapi, itu bisa menjadi gejala penyakit tertentu. Misalnya, infeksi telinga, masalah pada sistem sirkulasi tubuh, atau kehilangan pendengaran karena bertambahnya usia. Dokter Nyilo Purnami SpTHT-KL(K) menerjemahkan bahwa tinitus merupakan munculnya bunyi-bunyian tertentu pada telinga. Bukan hanya dengingan, melainkan juga bisa desisan atau siulan. ”Bisa terjadi pada salah satu atau dua telinga sekaligus,” bebernya.
Bunyi tinitus biasanya hanya didengar oleh pasien. Namun, pada beberapa kasus, suaranya bisa didengarkan oleh dokter yang memeriksa.
Tinitus acap kali diabaikan. Pasien biasanya datang dengan keluhan lain. Misalnya, menurunnya kemampuan mendengar. Meski demikian, dia termasuk dalam 15 besar pasien di poli rawat jalan Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSUD dr Soetomo.
Tinitus disebabkan banyak hal (lihat grafis). Pada penyebab yang ringan, tinitus dapat membaik dengan sendirinya. Namun, Nyilo tetap menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter.
Dokter akan meminta pasien mendeskripsikan apa yang didengarnya. Setelah itu, dokter akan menanyakan riwayat penyakit yang pernah diderita pasien. Kondisi telinga juga akan diperiksa. ”Dokter bisa juga menyarankan untuk pemeriksaan CT scan dan MRI untuk melihat kondisi di dalam kepala,” ucapnya.
Nah, pengobatan penderita tinitus satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Itu bergantung pada gejala atau penyebabnya. Kalau penyebabnya kotoran, telinga akan dibersihkan. Jika terkena infeksi, akan disembuhkan infeksinya. ”Karena itu, perlu ke dokter untuk mengetahui penyebabnya,” ujar Nyilo.
Pada beberapa kasus, penyebab tinitus tidak terdeteksi. Jika demikian, penanganan akan berbeda. Pengobatan dilakukan untuk menekan agar tidak semakin parah. Biasanya, dokter akan memberikan terapi suara. Mendengarkan musik juga merupakan langkah untuk mengendalikannya. Biasanya, mendengarkan musik akan memberi efek tenang dan terjadi relaksasi.
Ada juga bentuk tinnitus retraining therapy (TRT). Pada terapi tersebut, pasien akan dilatih untuk membiasakan diri dengan bunyi tinitus yang didengarnya. (lyn/c6/jan/sep/JPG)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
