
KRI Prabu Siliwangi-321 memasuki Perairan Indonesia. Kapal itu sudah menuntaskan pelayaran panjang dari Italia. (TNI AL)
JawaPos.com - Ancaman multidimensi terus berkembang di kawasan Indo-Pasifik. Untuk menghadapi kondisi tersebut, TNI AL butuh lebih banyak kapal fregat serbaguna seperti Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) Kelas Brawijaya. Kapal fregat serbaguna yang didatangkan dari Italia tersebut menegaskan perlunya transformasi armada Angkatan Laut Indonesia.
Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono sebagai purnawirawan TNI AL yang pernah menjadi asisten perencanaan umum panglima TNI menyampaikan bahwa satu platform kapal perang dengan berbagai kemampuan tempur lebih efisien dalam melaksanakan tugas menjaga wilayah laut Indonesia yang sangat luas. Karena itu, pengadaan kapal PPA menjadi momentum.
Menurut Agung, luas wilayah laut Indonesia menuntut pendekatan berbeda dibandingkan negara lain. Sehingga strategi pertahanan harus diterjemahkan dalam strategi militer dan selanjutnya menjadi dasar penentuan kebutuhan alutsista. Dalam konteks Indonesia, dia menyebutkan bahwa pengendalian wilayah laut, khususnya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), menjadi prioritas utama.
”Menurut saya ZEE itu harus kita kendalikan dan kita kuasai. Jangan sampai ada orang masuk tidak kita ketahui,” ucap Agung dikutip pada Kamis (6/8) dari siniar Ngobrolin Pertahanan Indonesia yang ditayangkan pada kanal YouTube Marapi Consulting & Advisory.
Dengan berkembangnya ancaman multidimensi yang bisa datang dari kapal permukaan, kapal selam, pesawat tempur, rudal jarak jauh, serta drone, ancaman terhadap ZEE saat ini lebih mungkin datang melalui serangan udara ketimbangan serangan laut konvensional. Karena itu, keberadaan kapal perang yang memiliki kemampuan pertahanan udara menjadi kebutuhan strategis.
”TNI AU maupun TNI AL, dua-duanya harus dilengkapi kemampuan antiudara yang efektif,” ucap dia.
Salah satu yang paling cocok adalah kapal fregat serbaguna berukuran sekitar 3.500–6.000 ton seperti KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kapal perang itu dinilai efektif mengimplementasikan strategi anti-access untuk mencegah pihak lain memasuki wilayah yurisdiksi Indonesia tanpa dapat dideteksi maupun direspons.
Dalam tayangan yang sama, pengamat pertahanan dari Marapi, Alman Helvas Ali menjelaskan bahwa PPA Kelas Brawijaya merupakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis yang bisa diandalkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia dan menjawab perubahan karakter ancaman di kawasan.
Alman tidak menampik, ada keterbatasan kemampuan pertahanan udara dari kapal-kapal perang Indonesia. Persoalan itu muncul sebagai ekses orientasi pembangunan armada TNI AL di masa lalu. Menurut dia, dulu fokus pembangunan Angkatan Laut lebih kepada penegakan hukum di laut. Peningkatan kemampuan pertahanan udara belum menjadi concern.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022