
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Titiek Puspa hadir dalam acara ulang tahun ke-10 Ciputra Artpreneur di Ciputra World 1, Jakarta Selatan. Dalam acara itu, Titiek sempat menyanyikan lagu ciptaannya, Jatuh Cinta, bersama penggawa band dan seluruh tamu. Dengan jenaka dan bersemangat Titiek berlagu.
TIGA minggu setelah acara itu, 10 April 2025, Titiek wafat dalam usia 87 tahun. Maka berkatalah sejumlah orang. ”Titiek Puspa adalah legenda dunia hiburan dan pahlawan kebudayaan dan kesenian. Ia tiada duanya sehingga sangat layak disemayamkan di Taman Makam Pahlawan. Bahkan sangat patut diabadikan sebagai nama jalan.” Semua perkataan itu benar adanya. Apalagi, selama ini nyaris tidak ada nama budayawan dan seniman yang dimonumenkan sebagai nama jalan raya.
Menyinggung soal nama seniman sebagai nama jalan, menarik apabila mengambil cerita dari mana-mana untuk diperbandingkan dengan realitas di Indonesia.
Di Belanda ada kota kecil bernama Vught, bagian dari ”kabupaten” z’Hertogenbosch. Vught memiliki sebuah kompleks perumahan yang cukup luas. Kompleks itu menamai beberapa area dan aneka jalannya dengan nama pelukis terkenal Belanda yang sezaman. Salah satu area di situ dinamai Rembrandtlaan. Kita tahu, Rembrandt adalah pelukis masyhur Belanda pencipta adikarya Nachtwacht. Di seputar Rembrandtlaan ada Jacob van Ruisdaelstraat, Adriaen van Ostadestraat, Gerrit Berckheydestraat, dan lain-lain. Hampir semua orang Belanda tahu, Ruisdael, Ostade, dan Berckheyde adalah pelukis-pelukis sohor Belanda abad 17. Di luar kompleks ada jalan dan hotel De Witte, yang menjunjung nama pelukis Emanuel de Witte.
Di St Petersburg, Rusia, terbentang wilayah yang jalan-jalannya bernama sastrawan. Jalan terbesar adalah Maxim Gorky. Lalu ada Alexander S. Puskin sampai Mikhail Y. Lermontow. Hal yang sama juga tampak di Oslo, Norwegia. Tak jauh dari museum sastrawan Henrik Ibsen, ada nama berjalur-jalur jalan yang diangkat dari reputasi budayawan dan seniman. Seperti sastrawan Bjorntjerne Bjorson dan Knut Hamsun. Ini mendampingi nama pematung dan pelukis seperti Gustav Vigeland dan Edvard Munch.
Di Paris ada taman luas yang dihiasi patung Komitas, nama alias dari Soghomon Soghomonian, tokoh kebudayaan asal Armenia. Apa jasa Komitas sehingga ia dijadikan maskot Taman Erevan? Pelukis dan penulis Hamid Nabhan dalam bukunya, Jelajah Eropa (2023), menjelaskan: ”Pada tengah abad ke-19, Komitas mengumpulkan banyak lagu rakyat Armenia, bahkan lagu rakyat Turki. Lagu itu dikemas bagus dan disosialisasikan di Prancis sehingga sangat mewarnai kebudayaan Prancis.”
Di kota ini ada Rue Michel Petrucciani. Kita tahu, dia adalah pianis hebat meski sejak lahir menderita osteogenesis imperfecta (penyakit tulang rapuh). Papan jalan Petrucciani ini menemani puluhan papan nama jalan seniman besar lain. Kita bertemu dengan Avenue Victor Hugo, Rue Alexander Dumas, dan seterusnya. Menariknya, di setiap nama tokoh itu, tertulis tahun kelahiran dan kematiannya.
Penamaan jalan yang terkonsep seperti di atas pernah diadopsi oleh Ir Ciputra, pengembang proyek perumahan di banyak kota. Sekitar 25 tahun lalu, ia berencana menamai jalan kompleks perumahannya dengan nama-nama besar perupa dan pemikir seni rupa Indonesia. Dari Jalan Raden Saleh, Jalan Affandi, Jalan Sudjojono, Jalan Basuki Resobowo, Jalan Hendra Gunawan, sampai Jalan Trubus.
Gagasan unik tersebut ternyata mendapat ”koreksi” dari penguasa perencanaan kota. Sang penguasa meminta agar pihak pengembang menghapus beberapa nama perupa yang dianggap bekas anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), yang berafiliasi di bawah PKI (Partai Komunis Indonesia). Seperti Basuki Resobowo, Hendra Gunawan, dan Trubus. Pihak Ciputra menolak. Lalu, daripada menganaktirikan beberapa perupa, gagasan itu pun dibuang sama sekali.
Penamaan jalan (termasuk penamaan taman, plaza, gedung) secara konseptual tentulah penting untuk sebuah kota modern. Karena nama-nama itu pada akhirnya bukan hanya tampil sebagai penanda tempat, tetapi juga menawarkan imajinasi, narasi, dan ingatan atas sebuah perjalanan peradaban. Namun, lantaran penamaan jalan itu harus disetujui serta disahkan oleh figur yang punya kekuasaan, kemunculannya akan selalu berhubungan dengan kepentingan (politik) penguasa. Sejarah kota Indonesia memberikan penjelasan gamblang.
Henk Ngantung, gubernur Jakarta 1964–1965, bercerita bahwa konsep penamaan jalan di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia masa silam acap dicetuskan oleh Presiden Soekarno, yang mendapat masukan dari Muhammad Jamin dan Bahder Djohan. Pada masa Soekarno, konsep itu diberangkatkan dari sikap penjunjungan sejarah kejayaan Nusantara serta kekayaan bumi Indonesia. Sejumlah jalan yang semula bernama Belanda lantas diganti.
Lalu, di Jakarta pun muncul Jl (Jalan) Majapahit, Jl Hayam Wuruk, Jl Sriwijaya, Jl Diponegoro, Jl Imam Bondjol, dan sebagainya. Sementara jalan-jalan yang relatif lebih kecil disemati nama segala sesuatu yang tumbuh di Nusantara. Seperti Jl Cendana, Jl Kamboja, dan Jl Jambu. Pada saat lain, Soekarno menyarankan agar setiap kota tak lupa mencantumkan nama pulau-pulau dan gunung-gunung yang tersebar di Nusantara. Lantas menjulurlah Jl Sulawesi, Jl Madura, Jl Maluku, Jl Muria, Jl Kelud, dan seterusnya. Konsep ini diusung dari hasrat untuk menggerakkan warga kota agar selalu cinta kepada negeri dan selalu memercayai kekukuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Era Soekarno akhirnya beralih ke masa Presiden Soeharto pada 1967. Peralihan segera membuat perubahan. Dalam urusan nama jalan, perubahan tersebut tertandai dengan munculnya nama-nama para jenderal tumbal revolusi korban kudeta G30S-1965. Sehingga di Jakarta dan seluruh kota besar di Indonesia, memasuki tahun 1970-an, ramai-ramai memampang Jl Ahmad Yani, Jl Katamso, Jl DI Panjaitan, Jl M.T. Harjono, Jl Karel Sadsuitubun, dan lain-lain.
Pada 1998 Orde Baru tamat dan diganti Orde Reformasi dan Pasca-Reformasi. Pada era ini, pemimpin kota juga punya otoritas penuh untuk memberi nama jalan. Dan seharusnya juga memiliki keluasan pemandangan soal siapa yang harus diangkat sebagai nama jalan. Sehingga kecenderungan (yang keterlaluan) mengangkat pahlawan militer dan pahlawan politik sebagai subjek utama bisa diimbangi dengan pengangkatan pahlawan dari profesi lain. Di antaranya dari dunia kebudayaan dan kesenian.
Di sini kita layak mengingatkan deretan nama-nama besar. Catat Sutan Takdir Alisyahbana dan Pramoedya Ananta Toer (sastra), Basoeki Abdullah (pelukis), Teguh Karya (film), Bagong Kussudiardja (koreografer), serta Ismail Marzuki dan Gesang (komposer). Lalu, Bing Slamet (penyanyi, komedian), W.S. Rendra (penyair), N. Riantiarno (dramator), sampai Titiek Puspa.
