Hardi melukis dengan spirit vibrasi vitae (spontan, ekspresif, dan kasar). Selalu ada simbol dan metafora yang diupayakan hadir sebagai penopang kekuatan seninya. ”Metafor itu harus,” tutur Hardi sejak dahulu kala. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan kurator Suwarno Wisetrotomo, bahwa metafor adalah cahaya seni yang tak tampak, tapi selalu memancar dari lubuk terdalam lukisan.
Realitas menarik dari pameran ini adalah, di balik kontroversi ”pemberedelan” pameran Yos Suprapto Desember 2024 lalu, GNI (ternyata) bersedia memamerkan karya Hardi yang ugal-ugalan. Mungkin GNI melihat, lukisan Hardi, walaupun sangat kritis, selalu menjauh dari vulgarisme dan sarkastisme. ”Hardi memang berkehendak jadi pelukis intelek,” tulis E.Z. Halim, kolektor besarnya, dalam katalog. (*)
---
AGUS DERMAWAN T., Kritikus seni, narasumber ahli koleksi benda seni Istana Presiden RI

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
