
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Prabowo Subianto, eks perwira yang pada akhirnya menjadi presiden itu, mungkin bukan orator ulung. Tapi, sepertinya ia berusaha lebih baik ketimbang mantan mertuanya yang pernah berkuasa tiga dasawarsa: Soeharto. Paling tidak, Prabowo kerap bermain-main dengan intonasi dan volume.
DUA fitur vokal yang penting dalam orasi tersebut merupakan modus verbal militer yang khas. Teriak dan gertak, misalnya, acap kita dengar dari instruksi seorang komandan pada demonstrasi baris-berbaris. Tujuannya tidak hanya untuk menciptakan harmoni dalam komposisi pasukan. Ia juga memiliki orientasi disiplin tubuh: bawahan yang tunduk kepada atasan.
Gaya ledak vokal Prabowo sukar kita jumpa pada sang Jenderal Mesem. Meski Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi mitra dominan dalam operasi politik Orde Baru, rezim Soeharto tak pernah disebut junta militer. Citra diri presiden yang hadir dari figur sipil ini relevan dengan langgam tuturnya yang datar.
Tapi, model militer wicara Prabowo tak bisa diterka dari karakter vokalnya belaka. Ia juga muncul dalam satuan wacana ketika rentetan kalimatnya merepetisi kata. Di pidato Investor Daily Summit, misalnya, Prabowo mengulang kata pertama dalam tiga kalimat beruntun, ”Hilirisasi untuk nilai tambah. Hilirisasi untuk lapangan kerja. Hilirisasi untuk menyelamatkan devisa kita.” Atau mengulang kata akhir, ”Kita harus berani mengakui kesulitan. Jangan lari dari kesulitan. Hadapi kesulitan dan selesaikan kesulitan.” Gaya repetisi tersebut mudah ditemukan dari pernyataan-pernyataan di debat capres hingga pidato pelantikannya sebagai presiden.
Repetisi itu mengingatkan kita pada rutinitas ketat para prajurit di barak. Dalam konteks model orasi Prabowo, kita boleh menyangka bahwa perulangan intens dari aktivitas militer telah menubuh, bahkan termanifestasi secara verbal. Konsistensi dan akurasi dalam tradisi militer adalah cara mangkus yang bisa mendorong seorang serdadu agar taat serta tertib.
Serak-garang suara militer Prabowo sesekali memang dicairkan humor spontan bapak-bapak generasi ledakan bayi. Namun, kejenakaan serta-merta tersebut tak berbanding lurus dengan kalimat-kalimatnya yang kerap patah-patah. Di satu momen, dagelan impulsif itu merupakan wujud dari nalar yang mengalir. Di momen lain, Prabowo sering kesulitan mengartikulasikan pikiran sehingga menyebabkan kata-katanya tersendat-sendat. Hambatan ini akan baik bila hadir di waktu yang tepat sehingga dapat mencegahnya dari humor kebablasan ”wajah Boyolali”.
Sayang, komedi dan watak paralinguistik sang presiden yang cenderung ”menyala abangku” tak diimbangi siasat menata konten wicara. Gaya deduktif berpotensi membosankan walau disampaikan dengan berapi-api. Mukadimah generik tentang kebangsaan, persatuan, dan kerukunan nan berlarat-larat sebagaimana kita simak pada beberapa orasinya –termasuk di pidato pelantikan presiden– terasa seperti pengantar indoktrinasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang menjemukan. Di kontes debat capres, pola deduktif ini acap membuatnya kehabisan waktu sebelum visi-misi digelontorkan secara teknis.
Meski begitu, gaya deduktif sang presiden masih diselamatkan ornamen retorika. Prabowo tak jarang menggunakan analogi, alegori, adagium, dan kembang-kembang retorika yang mengesankan bahwa ia cukup menguasai jagat pepatah-petitih serta pranata kebijaksanaan kuno. Di pidato pelantikan presiden, misalnya, ia menggunakan idiom ”sikap burung unta” yang ditujukan pada sikap lari dari masalah, slogan ”satu musuh, seribu kawan” untuk mengonsolidasikan seluruh elemen berlawanan, dan peribahasa ”ikan busuk mulai dari kepala” saat mengecam budaya korupsi. Di forum lain, untuk meyakinkan audiens bahwa pidatonya bukan retorika asal bunyi, ia menyitir hasil riset atau mengutip percikan permenungan Franklin Roosevelt.
Seni retorika Prabowo tak kita temukan pada tindak tutur wakilnya, Gibran Rakabuming Raka. Agaknya, ia memang tak punya keterampilan berbicara. Ia acap menghindar kejaran wartawan. Atau paling banter, pelit bicara saat dicecar jurnalis.
Ketika ditanya tentang formasi kabinet, misalnya, Gibran menanggap, ”Kalau susunan menteri dan lain-lain, sekali lagi saya serahkan kepada Pak Presiden terpilih ....” Saya serahkan kepada Pak Presiden terpilih menyiratkan bahwa ia tidak memiliki andil walau secuil. Kita boleh cemas, kelak, sepanjang masa kepemimpinannya, ia cuma sanggup menjadi orang-orangan yang tak berkontribusi apa pun pada tugas kenegaraan.
Gempuran pertanyaan itu diakhiri kalimat yang juga pernah ia ucapkan di lain waktu, ”Ya nanti.” Jawaban ya nanti sebelas-dua belas dengan kalimat terkenal bapaknya, ”Ya, ndak tahu. Kok nanya saya,” atau ”Sudah, tapi belum.” Jika improvisasi verbal untuk mengelak per0tanyaan wartawan tak bisa dilakukan Gibran, sulit menantikannya memberi jawaban filosofis sebagaimana yang pernah dilontarkan Soekarno saat ditanya jurnalis asing tentang siapa penggantinya: ”Suksesor tidak pernah ditunjuk. Ia tumbuh bersama bangsa.”
Membandingkan Gibran dengan Soekarno –yang dipuji Benedict Anderson telah mengadopsi gaya orasi dalang– memang bukan komparasi apple to apple. Kala belia, Soekarno sudah tenggelam dalam aneka literatur dunia. Ia mendaku bahwa gagasan kebangsaannya diramu dari berbagai filosofi para cendekiawan dari penjuru manca. Terkadang, kapasitas kognitif memang berelasi kuat dengan kapabilitas verbal.
”Berbicara baik, fasih, dengan cara menarik dan dapat dipahami, bukan ihwal alami,” tukas Susan Sontag. ”Kecakapan berpikir dalam kata-kata adalah produk sampingan dari kesunyian, kemerosotan, dan peningkatan individual yang menyakitkan.” Mengingat betapa jauhnya Gibran dari kultur buku dan berpikir, boleh diduga, wakil Prabowo tersebut tak pernah mengalami rasa sakit intelektual semacam itu. Dan absennya aktivitas olah akal budi yang soliter berefek pada cara ia berbicara.
Dengan aksen kakek-kakek, ia kerap mempromosikan diri sebagai pemimpin yang mewakili kawula muda. Di samping laku tutur yang nyaris menyalin rekat gestur verbal bapaknya, kita juga tak bisa dikibuli bahwa Gibran cuma perpanjangan lidah obsesi-obsesi si bapak. Epigonisme semacam ini tak selaras dengan etos darah muda yang kerap berambisi menjelajah kemungkinan-kemungkinan baru dengan gagasan-gagasan segar. Tapi, apa yang bisa diharapkan dari pribadi prematur yang kebetulan menjadi pemimpin? (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
