Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Agustus 2024 | 16.44 WIB

Dialah Vijay, tapi Dia Bukan Inspektur

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Tamil, dengan pasar lebih besar, menggabungkan kecenderungan-kecenderungan tersebut. Lewat sutradara-sutradara dar-der-dor seperti S. Shankar, A.R. Murugadoss, dan Lokesh Kanagaraj, mereka mencipta gambar penuh ledakan dengan mobil beterbangan. Tapi, mereka juga punya Vetrimaraan, sutradara dengan visi kelas dan ideologi yang gamblang. Dalam film seperti Visaranai (2015) dan Asuran (2019), ia bercerita tentang orang-orang tertindas dari tatapan yang suram.

Dalam industri yang disebut terakhir itulah, Vijay Sethupathi muncul dan bersinar.

***

Vijay Sethupathi tak punya hal yang kebanyakan dimiliki bintang-bintang film di sinema India. Untuk beberapa hal lebih khusus, ia jauh dari tipikal.

Jika sebagian besar bintang film Tamil muncul dari keluarga film (sebagaimana bintang-bintang dari industri sinema lainnya), Vijay berasal dari keluarga kebanyakan. Sejak muda ia mesti menghidupi adik-adiknya. Ia bekerja apa saja, dari sales, kasir toserba, hingga operator telepon. Setelah lulus kuliah, ia merantau ke Dubai, sebelum balik lagi ke India untuk menikah.

Seorang sutradara yang pernah menolaknya menyebut Vijay punya wajah ’’menarik”. Namun, itu jelas bukan modalnya untuk menjadi bintang. Dan tanpa harus menyebutnya jelek, ia jelas kalah menarik jika dibandingkan para sejawatnya di sinema Tamil. Namun, inilah menariknya.

Seperti yang terlihat di Maharaja, ia adalah bapak-bapak India biasa. Tak kurang, tak lebih. Barangkali karena itu ia dijuluki Makkal Selvan, bintangnya orang kebanyakan.

Ia mulai memasuki dunia peran setelah bergabung dengan sebuah kelompok teater di Chennai dan mengisi peran-peran figuran di film. Sutradara pemula Karthik Subaraj kemudian mengajaknya main beberapa film pendek. Ketika Subaraj berhasil memproduksi film panjang pertamanya, Pizza (2012), sebuah horor berbujet rendah, Vijay menjadi pemeran utamanya. Film itu sukses besar. Sejak itu kebintangannya tak terbendung.

Saya masih mengingat kali pertama menonton film Vijay Sethupathi, Soodhu Kavvum (2013), sebuah komedi hitam tentang penculik kecil-kecilan yang akhirnya menjadi penculik besar karena kotornya politik India. Saya pikir, banyak hal yang terlihat di film itu menjadi semacam gambaran umum aktor yang sedang kita bicarakan ini.

Kumuh, wajah berminyak, ketiak basah, dalam balutan baju army look kusam dan lengan digulung, atau hem kotak-kotak kekecilan, ia tak banyak berbeda dengan penjual makanan India di video-video pendek yang biasa kita tertawakan. Ketika kebanyakan bintang film India membentuk badannya seperti atlet binaraga, ia tambun dan berbulu. Ia juga tak bisa menari. Bicaranya yang selalu bernada rendah, juga mata yang sayu, khas seorang pemalu.

Barangkali gambaran itulah yang membuatnya cocok memerankan pria yang gagal move on dari pacar SMA-nya dalam drama romantis ’96 (2018). Atau, menjadi ayah perantau yang pulang ke keluarganya sebagai perempuan transgender yang kikuk dalam Super Deluxe (2019).

Dalam cara yang kurang lebih sama, Vijay adalah penjahat berwajah datar, yang menggorok atau membacok sesantai mengibas nyamuk. Anda akan menemukan itu di film-film penuh darah seperti Vikram Vedha (2017) atau Master (2021).

Di Maharaja, kita menemukan Vijay yang komplet: seorang bapak-bapak manis yang ketika keluarganya diganggu menjadi sangat bengis. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore