Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Agustus 2024 | 00.41 WIB

Melihat Sejarah Perampokan Bank Terbesar Usai Revolusi dari Geladak Suroboyo Bus

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

”De grote operatie ... grote strijd tegen de politie van Surabaya, het geeft de strijd op.”

W.W. Verrips, kepala rampok

Beberapa pekan sebelum esai ini terbit, saya terdampar di dermaga Tanjung Perak. Saat terang tanah, saya melihat bus dengan bodi berbentuk ”sangar” melintas. Pendek, tapi panjang. Inilah kali pertama saya naik bus Suroboyo berwarna merah itu. Bagi warga Surabaya, Suroboyo sudah biasa dan sehari-hari. Tetapi, tidak dengan saya.

Dengan lima ribu rupiah, dengan kabin penumpang yang lengang seperti petak pertapaan Prabu Airlangga di Gunung Penanggungan, saya menyusuri kembali Kota Surabaya.

Ajaib, hanya pada saat naik dan bertapa di Suroboyo R2, saya melihat (kembali) secara gamblang Jembatan Merah. Bukan sekadar Jembatan Merah-nya, bukan sekadar properti arsitektural kolonial dan old town yang menjadi landscape (pariwisata sejarah perang revolusi nasional), melainkan ujung Jalan Kasuari.

Di antara jalan dengan nama burung-burungan ini, Rajawali-Kasuari-Elang-Garuda, ada gedung Bank Indonesia. Dan, Bank Indonesia lebih memilih Jalan (”burung”) Garuda sebagai penanda alamatnya ketimbang Jalan (burung) Kasuari yang sebelumnya bernama Bankstraat. Bank sentral lebih memilih burung bertanda petik dan mitologi ketimbang burung yang secara fisik hadir dan masih ada.

Dengan mudah, di internet pembaca menemukan asal-usul gedung tua yang menjadi cagar budaya ini. Ringkasnya, gedung ini muasalnya adalah gedung De Javasche Bank. Saat Revolusi Agustus tergelar, De Javasche Bank dinasionalisasi. Jadilah republik memiliki bank sentral sendiri yang disebut Bank (Negara) Indonesia. Lho, kok, sama dengan BNI 46. Iya.

Tapi, bukan sejarah ”bank-bank-an” yang saya ulas di esai ini, bukan bagaimana Hatta menginisiasi bank sentral dan bank pertama republik (BNI) di Jogja pada 1946, melainkan kisah dari ujung Bankstraat (Kasuari) yang saya lihat sekilasan dari bingkai kaca Suroboyo Bus.

Untuk itulah, sebagai seorang dokumentator partikelir, saya memerlukan media bernama Java Post. Betul, koran yang memuat esai ini jauh semasa revolusi bernama Java Post. Jika koran Jawa Pos berulang tahun, atau 75 tahun lalu, itu adalah kalender terbit kali pertama Java Post.

Hanya pada saat berada di geladak Suroboyo Bus, kliping Java Post yang sudah lama saya baca dan simpan hadir kembali secara terang benderang. Kliping yang berkisah bagaimana komplotan perampok yang dipimpin W.W. Verrips merancang dan melakukan perampokan besar di De Javasche Bank pada 30 Desember 1950. Tujuh belas bulan setelah Java Post terbit dan tiga tahun sebelum perampok legendaris nasional, Kusni Kasdut, memulai sejarah pentingnya dari Surabaya; aksi rampok (culik-tebus) pertama (coba-coba).

Java Post merekonstruksi ulang bagaimana perampokan terbesar seusai Revolusi Agustus terjadi. Mulai perencanaan di Semarang, konsolidasi di Hotel Embong Ungu, simulasi atau ”latihan umum” sehari sebelum hari H, hingga aksi perampokan siang bolong.

Aksi yang dinamakan ”the grote operatie”, operasi besar, berhasil menggondol kas sebesar Rp 3,85 juta. Nilai rampokan itu setara dengan membangun empat gedung serbaguna Grha Sabha Pramana UGM.

Disebut ”operasi besar” karena melibatkan pegawai bank dan pembesar. Dalih Verrips, kelompoknya butuh dana untuk kembali ke Belanda. Sekaligus oleh-oleh terakhir yang bisa didapatkan dari Indonesia yang telah memperoleh kemerdekaannya. Saya kira, perampokan ”the grote operatie” ini sekaligus jadi momentum terakhir (orang) Belanda merampok Indonesia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore