
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
***
Kini TV ada di semua ruang tamu di seluruh rumah di dunia, termasuk di rumah saya. Tapi kini kita bahkan mulai terbiasa menonton sepak bola dari ponsel di saku kita. Dari layar setelapak tangan itu, kita bukan saja bisa menonton siaran langsung, tapi juga pertandingan yang telah lewat (entah siaran ulang utuh maupun highlight).
Di YouTube, Anda bahkan bisa menemukan pertandingan-pertandingan dari 30–40 tahun lalu. Dari sanalah saya bisa memeriksa lagi ingatan-ingatan saya akan USA ’94, memeriksa ulang peristiwa dan nama-nama yang saya ingat, termasuk nama dan sosok Miguel Rimba.
Tapi ponsel itu tak hanya memberi saya siaran langsung atau rekaman-rekaman pertandingan. Ia memberi semua hal, atau nyaris semua hal, termasuk di dalamnya sepak bola. Tak ada lagi informasi basi ala koran atau tabloid bekas yang dulu saya baca. Jika dalam satu pertandingan kita silap atas satu gol yang tercetak, kita tak perlu menunggu tayang ulang gol tersebut; cukup gulir laman di layar ponsel, dan Google atau LiveScore atau WhoScored atau bahkan akun-akun sembarang di X akan memberi kita info akurat detik itu juga.
Jika cukup telaten dengan bacaan, Anda juga bisa menemukan hal-hal yang lebih penting dari sekadar ”siapa yang cetak gol”. Ada data, ada statistik, dan tentu saja sejarah. Dari situlah, misalnya, saya bisa tahu bahwa Miguel Rimba adalah bek yang tak buruk-buruk amat, setidaknya di level Bolivia. Ia punya cap timnas cukup tinggi: 80 pertandingan. Itu membuatnya masuk 10 besar pemain dengan cap tertinggi dalam sejarah sepak bola Bolivia.
Tapi, di ponsel, ingat dan sedikit tahu tentang Miguel Rimba adalah perkara sepele. Apa istimewanya tahu tentang pemain yang pernah tampil di Piala Dunia, sementara beberapa akun acak di X menyajikan kepada Anda statistik sangat lengkap tentang pemain berumur 15 tahun asal Gambia di sebuah klub Lithuania yang bahkan belum pernah tampil di tim utama.
***
Barangkali yang sulit ditemukan di layar ponsel justru adalah ingatan kita sendiri. Orang-orang itu tak membiarkan kita memakainya; mereka telah menyediakannya, dan kita tinggal membelinya. Atau, kita mesti membelinya. Setelah bertahun-tahun demikian, kita akan terbiasa. Dan tampaknya kita memang telah terbiasa.
Apakah ingatan tak lagi menjadi penting? Saya tak tahu. Yang saya yakin, dalam banyak sekali kesempatan dan untuk banyak sekali hal, termasuk di dalamnya soal sepak bola, yang paling penting sekarang adalah seberapa daya dan paket data yang tersedia untuk ponsel kita. Tanpa keduanya, untuk hari ini, rasanya kita bukan hanya tak bisa menikmati sepak bola. Kita juga tak akan ingat apa-apa. (*)
*) Mahfud Ikhwan, Penulis asal Lamongan

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
