
ILUSTRASI
Pada era Orde Baru, banyak seniman yang masuk atau direkrut Golongan Karya (Golkar). Mereka terhimpun dalam Artis Safari. Tugas mereka ikut memenangkan Golkar dalam setiap pemilu. Para seniman lain, yang memilih jadi oposan, menyalurkan aspirasinya pada parpol. Ada yang mendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ada juga yang mendukung Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sangat kental nilai partisanisme para seniman pada era Orde Lama. Dengan kadar yang lebih ”ringan”, nilai partisanisme seniman pada era Orde Baru masih tampak. Terutama mereka yang gigih mendukung PPP dan PDI.
Ada beberapa hal khas dan bisa dibaca dari fenomena seniman mendukung parpol. Pada era Orde Lama, para seniman mendukung parpol tertentu atas kesadaran ideologis. Mereka rela jadi ”alat” perjuangan partai. Mereka pun militan.
Pada era Orde Baru, kebanyakan seniman yang mendukung Golkar punya pertimbangan praktis/pragmatis yang terkait dengan keselamatan karier, eksistensi, dan sumber penghasilan. Ini juga bertalian dengan dominasi dan hegemoni Golkar saat itu. Dengan mendukung Golkar, para seniman merasa aman dan sejahtera. Ini berbeda dengan para seniman yang mendukung PPP dan PDI. Mereka cenderung ideologis dan berani berhadapan dengan Orde Baru. Misalnya, Rhoma Irama yang waktu itu mendukung PPP dilarang tampil di TVRI. Begitu pula para seniman yang mendukung PDI. Karier mereka juga dihambat.
Pada era reformasi, banyak seniman yang mendukung dan masuk partai politik atas dasar pertimbangan ideologis. Namun, ketika parpol-parpol semakin pragmatis dan dirasakan semakin jauh dari cita-cita ideal politik, banyak seniman yang hengkang.
Kalau tetap ada seniman yang mendukung parpol, pertimbangannya adalah pragmatisme. Mereka menggunakan dalih profesionalisme (kerja dan mendapat imbalan layak). Ini yang sekarang terjadi. Parpol dipahami sebagai sumber uang yang cocok buat para seniman/pelaku seni untuk ”bercocok tanam”. Meskipun di antara mereka yang pragmatis, masih ada juga seniman yang mengaku ”ideologis”, seperti yang dikatakan pada wartawan.
Partisanisme Musiman
Bobot politik di dalam keterlibatan para pekerja seni atau seniman pada era reformasi bisa dikatakan sangat ringan atau tidak memiliki signifikansi tinggi. Partisanisme mereka sebatas musiman. Artinya, sikap partisan mereka tidak memiliki akar kuat ideologis, kecuali sentimentalitas politik sesaat. Begitu pemilu/pilpres selesai, sikap partisan mereka pun menguap. Ini terjadi pada diri para simpatisan, relawan baik yang tak berbayar maupun ”profesional”. Juga mereka yang menganggap pemilu/pilpres sebagai media aktualisasi diri demi mencari eksistensi. Misalnya, mejeng di medsos seolah jadi ”hero” politik.
Keterlibatan pekerja seni/seniman pada Pilpres 2024 sulit untuk diletakkan dalam kerangka ideologis seperti dalam kasus Lekra, LKN, Lesbumi, dan lainnya pada era Orde Lama. Saat itu para seniman benar-benar jadi underbow parpol. Adapun partisanisme seniman/pekerja seni dalam Pilpres 2024 lebih menyerupai ”ritus sosial-politik” lima tahunan. Posisi mereka tak jauh dari suporter politik yang cair karena tidak terikat secara ideologis dan kelembagaan dengan parpol. Hubungan antara mereka dan parpol bersifat psikologis: ada ”ikatan” emosional meskipun kadarnya biasa-biasa saja. Ini bisa karena faktor ”politik aliran” yang diturunkan dari orang tua, sentimentalitas agama, atau sistem keyakinan tertentu.
Pilpres bagi para pekerja seni/seniman di era reformasi tak lebih dari ”festival politik” lima tahunan yang diikuti dengan rileks. Yang membahayakan justru kehadiran para pendengung (buzzer) dan juru propaganda yang provokatif dan mampu menggiring cara berpikir mereka ke ranah konflik horizontal. Padahal, sejak awal pemilu/pilpres diidealisasi menjadi wahana kultural-politik untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan melahirkan para pemimpin masa depan. (*)
---
INDRA TRANGGONO, Praktisi budaya, cerpenis, dan esais

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
