
ILUSTRASI
Sejarah perempuan dipenuhi perbuatan-perbuatan mulia yang tidak pernah tercatat saking disepelekannya perbuatan-perbuatan itu.
KEBIASAAN buruk warisan para patriark ini, yang kurang berhasil digugat hingga sekarang, menghasilkan banyak perempuan yang kisah hidupnya menyempil di sela-sela lembar halaman buku biografi atau tersembunyi di balik bayang-bayang. Satu di antara perempuan yang terabaikan ini adalah seorang emban bernama Rami.
Sebagai abdi dalem, hari-hari Rami jelas diisi kegiatan mengurus rumah dan melayani sang ndoro, putri kesayangan pangeran bupati Jepara. Dia pun memelihara sikap patuh dan diam seperti patung agar segala sesuatu terasa lebih mudah dijalani.
Pada tahun 1929, Virginia Woolf menyuarakan keinginannya untuk mempunyai ”ruang sendiri”, yang diperjuangkan lewat karyanya, A Room of One’s Own. Tiga puluh delapan tahun sebelumnya, ndoro Rami sudah menyadari hal ini tepat ketika beliau memasuki masa pingitan pada usia 12 tahun. Dalam salah satu surat kepada sahabat penanya di Negeri Belanda, beliau mengeluhlah, ”Waktu aku berumur dua belas, aku dipulangkan ke rumah –aku harus masuk ke dalam ’kotak’; aku dikurung di dalam rumah dan sama sekali terputus hubungan dengan dunia luar...” Sementara itu, persis di depan pintu kamar sang ndoro setiap malam, Rami mesti berbaring kelelahan di dalam ”kotak”-nya sendiri yang hanya seukuran tikar rotan kasar tipis.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah ndoro Rami berusaha memperjuangkan ”ruang pribadinya” dengan membuka sekolah khusus untuk perempuan serta terus memperluas kawan dan wawasannya, hingga dikenallah namanya sebagai pejuang emansipasi perempuan Indonesia. Apa yang terjadi pada Rami adalah ”ruang pribadinya” tetap sesempit tikar rotan kasar tipis. Tersebab sekolah sang ndoro hanya untuk perempuan kaum bangsawan, kondisi Rami yang rakyat jelata jelas tidak berubah. Rami tidak bisa membaca dan menulis karena tidak pernah diperkenalkan pada huruf. Rami hanya mengenal pertanyaan ”bagaimana”, bukan ”kenapa”, karena tidak pernah diperkenalkan pada gugatan, apalagi perubahan, hanya perintah.
Lewat surat-suratnya yang belakangan dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, ndoro Rami lantas ditahbiskan sebagai pemberi inspirasi bagi perempuan Indonesia. Tentu saja, dalam surat-surat itu, nama Rami sebagai orang yang melayani sang ndoro dan menyalakan pelita demi menerangi malam-malam gelapnya, terutama kala menulis surat, tidak pernah disebutkan. Untung saja, penulis perempuan Belanda Marie C. van Zeggelen mau repot-repot meneliti kehidupan sang ndoro dan berbaik hati mencatat nama si emban. Kelak, Pramoedya Ananta Toer menemukan nama Rami dalam Kartini, een baanbreekster voor haar volk (1947) karya Marie, yang dibagikannya lewat Panggil Aku Kartini Saja (2000).
Inspirasi dan Konstruksi
Sebagaimana dikatakan Naomi Wolf dalam bukunya, Mitos Kecantikan, perempuan tidak hanya mesti bekerja berkali-kali lipat untuk bisa terlihat bahwa dia sedang bekerja, tapi juga harus menerima nilai-nilai maskulin dan menerapkannya demi mendapat pengakuan. Adapun untuk meraih pengakuan tertinggi, perempuan diharapkan menunjukkan peran-peran yang kolosal atau melakukan kebaikan-kebaikan heroik.
Bukti betapa sukanya masyarakat patriarkal pada kekolosalan dan keheroikan adalah lahirnya perempuan-perempuan pilihan berkategori tinggi, seperti si pengumpul medali, si sukses lulusan luar negeri, si paling humanis, atau si paling berani di bidang-bidang yang didominasi laki-laki, seperti politik, teknik, teknologi. Perempuan didorong untuk berani meninggalkan ranah domestik demi memenuhi ukuran-ukuran tertentu sebagai pembuktian bahwa perempuan telah sejajar dengan laki-laki. Ironisnya, tidak semua perempuan mendapat kemudahan akses ke hal-hal besar, termasuk Rami. Dia justru mengalami penindasan eksistensi meski berdiri tepat di belakang seorang perempuan inspiratif pilihan.
Filsuf Adorno meyakini bahwa realitas tidak bisa diringkas, apalagi dalam sebuah konsep yang tereduksi. Ketika masyarakat memberi label kepada seorang perempuan sebagai inspirator, akan ada banyak perempuan tak berlabel yang seolah tidak terlihat. Ketika sejumlah perempuan mengagumi seorang perempuan inspiratif dengan segala standar dan ukurannya yang serbatinggi, akan ada penurunan derajat penghargaan diri dari para perempuan pengagum, tanpa sadar.
Ketika Kartini berkata dalam suratnya bahwa gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya, jelas dia tidak memikirkan Rami. Memang, Rami tidak mungkin bisa menjadi apa pun, kecuali perempuan seadanya, tapi itu bukan berarti dia tidak memiliki peran besar bagi sekitarnya. Rami-lah yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan Kartini di ranah domestik. Dia menjalani peran yang diwariskan nenek moyangnya, yaitu sebagai perempuan pelaksana tugas-tugas domestik, hanya agar Kartini bisa terus belajar, menulis surat, dan mengejar cita-citanya.
Setiap perempuan terlahir dengan potensi masing-masing yang unik. Itulah mengapa semua perempuan bisa menjadi berdaya tanpa perlu melibatkan apa pun yang berasal dari luar dirinya, seperti tuntutan rasa hormat dari orang lain entah demi mendapat akses, kontrol, atau kuasa, sebab sesungguhnya kehormatan hadir dari legitimasi dominasi. Apa yang dibutuhkan perempuan hanyalah sedikit waktu luang untuk melihat ke dalam cermin diri demi menumbuhkan kesadaran bahwa dia memiliki kebebasan untuk menjadi apa adanya dirinya. Berani membebaskan diri dari ketersesatan standar-standar produk masyarakat patriarkal tentang perempuan idola yang sempurna. Sebab, setiap perempuan adalah pejuang yang gigih, pembawa perubahan yang penuh kasih, dan sumber kekuatan yang tidak kenal lelah. Bukan sekadar karakter yang disematkan, setiap perempuan adalah inspirator bagi sekitarnya dengan cara masing-masing. (*)
ANINDITA S. THAYF, Novelis dan esais

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
