Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 00.03 WIB

Taman Kata-Kata Nadin Amizah

Ada konteks di sana yang menjadikan sesuatu yang puitis sebagai bagian yang memang semestinya ada dan bukan diada-adakan. Meskipun, kita tahu, atas nama licencia poetica, diada-adakan itu sah-sah saja dilakukan siapa pun yang bergelut dalam penciptaan seni.

Tapi, Nadin, entah disengaja atau tidak, seperti berusaha menghindar dari langgam tersebut. Dia memang puitis, bermain-main dengan metafora di sana-sini, namun tidak berpretensi untuk berpuisi.

Biar aku yang mengemban cinta dalam ”Sorai” pun jadi terasa masih dalam konteks ketika sepanjang lagu si pelantun tak mengumbar kesedihan meskipun pangeran yang diidamkan batal jadi pasangan. Semacam ungkapan ”cinta tak harus memiliki”, yang tidak lantas jatuh jadi kecengengan yang berlarat-larat. Justru sesuatu yang pada akhirnya disyukuri: Mungkin akhirnya tak jadi satu//Namun bersorai pernah bertemu.

”Yogyakarta” dari KLa Project adalah contoh lain bagaimana lirik dan bagian-bagian puitis ditata sedemikian rupa sehingga Jogja hadir secara apa adanya. Dia ngangeni, tapi dia juga berselaras dengan kekangenan seseorang kepada seseorang lain.

Ini yang membedakan lirik-lirik pada Nadin dengan, misalnya, lagu-lagu di Badai Pasti Berlalu, salah satu album terbaik di sepanjang sejarah musik Indonesia. Pada ”Merpati Putih”, kita merasakan sekali Eros Djarot berpuisi sejak awal lirik.

”Merpati Putih” menjadi personifikasi seseorang atau suatu masa yang dirindukan. Eros menggunakan elemen, di antaranya, ”bunga”, ”pagi”, dan ”bintang” untuk menegaskan kekangenan pada ”hari bahagia seperti dulu”.

Dua band pengusung rock progresif, Pink Floyd dan Dream Theater, pun demikian. Semasa drumer Mike Portnoy masih bergabung di Dream Theater, dia biasa berbagi tugas dengan gitaris John Petrucci sebagai penulis lirik utama. Portnoy banyak mengulik tema kemanusiaan, Petrucci lebih sering mengupas spiritualitas.

Pada sebuah edisi publikasi Berkeley College of Music, Portnoy menyebut berpuisi memang strategi literer mereka. Itu yang membuat durasi lagu-lagu mereka jadi panjang, yang bertolak belakang dengan semangat era MTV yang rata-rata air time-nya cuma maksimal empat menit untuk tiap lagu.

Tapi, menurut Portnoy, justru itu yang membuat mereka bertahan melintas zaman. ”Because we were never fashionable (Karena kami tidak pernah mengikuti tren),” kata Portnoy.

Pilihan ”Rumpang”, ”Sorai”, dan ”Mendarah” sebagai judul karya-karyanya mungkin berada di semangat yang sama dengan Dream Theater. Diksi-diksi tersebut asing, jauh dari arus utama pemberian tajuk lagu dalam khazanah pop tanah air.

Tapi, saya kira pilihan itu bukan didasari pada kesadaran kepuitisan. Bagi Nadin, bisa jadi karena bentukan referensi bacaan atau dengarannya, memang demikianlah cara ujarannya dalam mengekspresikan sesuatu. Itulah strategi literernya.

Seperti Jamrud dengan lirik-lirik nakalnya, Efek Rumah Kaca dengan kritik-kritik sosialnya, atau Charly van Houten dengan syair-syair mendayu-dayunya. Tiap penyanyi atau band punya cara ujar, strategi kebahasaan, masing-masing dalam merespons ide yang melatari karya mereka. Referensi atau era di mana mereka berada tentu turut berperan di dalamnya.

Memasuki mayapada Nadin pun seperti memasuki taman kata-kata. Ada bunga-bunga (baca: objek, tema) yang dengan cepat kita kenali. Tapi, selalu ada pula tanaman-tanaman (baca: diksi) yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya.

Nadin mungkin tidak memaksudkannya demikian, tapi ”Rumpang”, ”Sorai”, dan ”Mendarah” ada pada bagian yang tak dikenali itu dan pada akhirnya mewujud menjadi tawaran pengayaan. Lewat ”Sorai”, dia memberi tahu kita bahwa ada cara lain untuk memaknai kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan ketika dunia saling membantu//lihat cinta mana yang tak jadi satu. Alumnus London School of Public Relations itu juga menyajikan opsi, melalui ”Mendarah”, bahwa berpulangnya seorang terkasih bisa dituturkan lewat ini cerita tentang rumah yang berbeda//jauh hanya tersentuh dalam jarak doa.

Tak biasa, tapi tetap terasa intim. Tak ubahnya seperti ketika menyentuhi bunga-bunga di taman yang kita tidak tahu jenisnya apa. Mereka ada, hanya kita belum tahu sebelumnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore