
TRANSFORMASI: David Behaeding Goliath berubah menjadi adegan dari cerita Arjuna Kills the Giant in Perang Kembang ketika disinari lampu UV. (EDDDY SUSANTO FOR JAWA POS)
Perupa Eddy Susanto konsisten memakai Jawa sebagai inspirasi karya-karyanya. Termasuk dalam pameran terkininya.
---
A DECADE Encounters with Eddy Susanto menjadi pembuka mata akan Jawa sebagai pusat konstelasi dunia. Pameran oleh Eddy Susanto di Lawangwangi Creative Space, Bandung, yang berlangsung sampai Januari 2021 menggelarkan hanya 24 di antara seratusan karya yang kini tersebar di berbagai tempat kolektor, museum, dan galeri pribadi.
Eddy Susanto kali pertama masuk radar perhatian dunia seni rupa kontemporer ketika karyanya, Java of Duerer, menjadi pemenang Anugerah Bandung Contemporary Art Awards edisi kedua pada 2012. Pasalnya, karya Eddy itu secara fenomenal menyatukan semangat renaisans Eropa dengan semangat yang sama yang terjadi di Jawa pada abad ke-14/15.
Menurut Eddy, momen semangat pembaruan renaisans Eropa yang terjadi abad ke-14/15 dan menggeser semangat sakral menjadi humanis serupa dengan semangat pembaru ’’renaisans Jawa’’ yang pada waktu yang sama dengan renaisans di Eropa masuk Jawa dengan Islam yang menggeser kegiatan ritus dan seremoni pada para dewa menjadi aktivitas sehari-hari yang produktif.
Eddy lalu mengapropriasi The Men’s Bath karya Albrecht Duerer yang dianggap mewakili seni rupa renaisans dan membentuk image-image pada karya itu tidak dengan kuas dan cat minyak, melainkan dengan pena tipis yang menuliskan kisah ’’renaisans Jawa’’ seperti tertera pada Babad Tanah Jawi di sekujur kontur image-image itu dengan aksara Jawa.
Cara Eddy menyatukan renaisans Eropa dengan renaisans Jawa dianggap fenomenal, yaitu memakai aksara Jawa yang dituliskan dengan pena tipis di sekujur kontur image-image yang terapropriasi mengisahkan seluruh kisah renaisans Jawa sebagaimana tertera pada buku Babad Tanah Jawi.
Eddy mengungkapkan bahwa dirinya tidak suka ikut-ikutan tren gaya lukisan yang justru digemari teman seangkatannya. Jadi, di tengah arus perupa yang berlomba-lomba untuk meniru tren yang dianggap terkini dalam dunia kontemporer internasional yang waktu itu sedang booming, Eddy melawan arus dengan karya yang gaya dan konsepnya lain sendiri. ’’Saya males mengikuti tren. Saya ingin membuat sesuatu yang lain,’’ kata perupa yang karyanya dikoleksi Singapore Art Museum, Temurun Museum, dan sejumlah kolektor di dalam dan luar negeri.
Eddy adalah seorang yang gemar membaca dan mengembara di dunia seni, sejarah, dan budaya. Ia merupakan perupa yang tidak hanya memiliki banyak gagasan artistik, tapi juga kemampuan untuk sekaligus melebarkan wawasan publik mengenai kejadian-kejadian di dunia luas yang sesungguhnya terjadi juga di Jawa pada saat atau periode yang sama.
Banyak cerita di dunia luar yang ada padanannya dengan cerita atau kisah Babad Tanah Jawi. Maka, sebagian besar karya Eddy berdasar pengamatan demikian dan caranya memvisualisasi hal-hal seperti itu menjadi penting untuk disimak karena ia menginisiasi suatu gaya baru pada seni rupa kontemporer Indonesia.
Dari ratusan karya yang tersebar di berbagai tempat kolektor, museum, dan galeri, salah satu karya terbarunya memperlihatkan bagaimana kedalaman konsep selalu terbuka untuk mengadaptasi teknologi dan media terkini. Pasalnya, karya terbarunya dipresentasikan dengan gaya ’’sulap’’ dengan memakai lampu UV: karya engraver zaman renaisans Marcantonio Raimondi mengenai cerita Alkitab David Beheading Goliath (David memenggal kepala raksasa Goliath) yang di-superimpose dengan teks aksara Latin dari Dead Sea Scrolls. Setelah menekan tombol UV, karya yang tampak realistis secara fantastis tersulap menjadi adegan dari cerita Babad Tanah Jawi di mana Arjuna menyudahi seorang raksasa di tengah Perang Kembang yang berkecamuk menurut cerita pada Babad Wayang Purwa dalam epos Mahabharata.
Photo
TRANSFORMASI: David Behaeding Goliath berubah menjadi adegan dari cerita Arjuna Kills the Giant in Perang Kembang ketika disinari lampu UV. (EDDDY SUSANTO FOR JAWA POS)
Terdapat juga karya Eddy berdasar lukisan 10 pelukis renaisans mengenai Adam and Eve. Pada karya-karya tersebut, gambar Adam dan Hawa mengikuti kosmologi religius, tapi teks yang dituliskan di atas image-image mewakilkan teori yang bertentangan yang dikembangkan Sir Thomas Burnet dengan pendekatan teologi, geologi, dan sains.
Bagi kita yang semakin terlibat dengan pemakaian komputer, karya yang dibuat Eddy Susanto lima tahun yang lalu sampai hari ini masih sangat relevan karena elemen kekinian walaupun situasi berubah-ubah dengan berlalunya waktu, budaya, dan kebutuhan. Misalnya, bahasa komputer yang namanya JavaScript. Konon ada anekdot yang mengisahkan bahwa para programmer itu sedang menikmati kopi di sebuah kafe di Italia ketika sedang mencari nama yang cocok untuk program komputer yang mereka buat. Kebetulan kopi yang diseruput adalah kopi jawa, maka jadilah nama JavaScript.
Baca juga: Cinta untuk Menghalau Depresi Akibat Pandemi
Sambil menjelaskan fenomena JavaScript dan Java Scripture (aksara Jawa) yang dua-duanya merupakan medium komunikasi yang muncul pada masing-masing merespons kebutuhan zaman, Eddy dengan agak kesal mengatakan seandainya saja orang Jawa cukup ’’smart’’, aksara Jawa-lah yang bisa menjadi bahasa computer programming.
Karya lukis perupa yang lahir di Jogja pada 1975 itu mengenai website pada 2015 di Galeri Nasional menggelarkan karya-karya dengan menuliskan dalam aksara Jawa program website seperti Google, Yahoo, Linkedln, dan Facebook di atas latar warna ikonik masing-masing website. Tak terkecuali website China seperti Baidu yang ditandai burung phoenix sebagai ikon China. Sebagai aksen khusus tak lupa ia letakkan alat kecil di bawah setiap lukisan yang melantunkan nada-nada dari tembang sinden.
Kini Eddy sedang mempersiapkan dua karya besar. Menurutnya, satu meliputi renaisans China dan hubungannya dengan Jawa, satunya lagi berkorelasi antara karya perupa besar Italia Dante Alighieri dan Candi Borobudur. (*)
---
CARLA BIANPOEN, Penulis seni rupa kontemporer
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=DOZC592WGjg

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
