
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Pada pengujung abad ke-15, Bartolomeu Dias, seorang penjelajah asal Portugal, berhasil mencapai ujung selatan Benua Afrika. Di sebuah tanjung, kapalnya diterjang badai. Ia dan para awak yang sudah kehabisan makanan pun mengurungkan petualangannya ke timur.
Perairan mengerikan tersebut kemudian ia namai Cabo das Tormentas, Tanjung Badai. Namun, ketika dia pulang dan melaporkan perjalanannya, Raja John II tak suka nama itu. Lantas, sang raja mengganti nama mengerikan tersebut menjadi Cabo da Boa Esperanca, Tanjung Harapan. Dan sebutan itu, terbukti, bukan nama belaka.
Berkat sang raja yang mengganti kata ”badai” menjadi ”harapan”, Vasco da Gama berhasil mencapai Kolkata satu dekade kemudian. Meski sederhana, nyatanya perubahan nama itu tak sekadar kosmetik. Ia telah menyulap rintangan menjadi semangat meraih tujuan. Raja John II tentu tak tahu apa-apa soal pemikiran Viktor Frankl, seorang penyintas kamp konsentrasi Nazi yang juga merupakan dokter jiwa –tentu saja, keduanya terpaut lima abad. Namun, agaknya ia paham betul bahwa harapan lebih kuat dari rasa takut.
Seperti harapan yang disematkan sang raja pada Tanjung Badai, Frankl menemukan konsep serupa saat ia menjadi tawanan Jerman semasa perang. Psikiater itu mendapati bahwa seseorang yang punya harapan dan alasan hidup lebih mampu bertahan ketimbang mereka yang tidak. Penderitaan, bagi dia, dapat menjadi wahana manusia menemukan arti eksistensinya. ”Kita tak boleh lupa bahwa makna hidup dapat ditemukan saat kita dihadapkan pada nasib yang tak bisa diubah,” tulis dia.
Layaknya Frankl yang menemukan makna di balik derita, kaum stoa punya pendekatan serupa dalam menanggapi tantangan hidup. Keduanya sepakat bahwa manusia punya kendali untuk menemukan makna walau situasi di luar kontrol mereka.
Kesadaran akan makna sangat penting bagi seseorang dalam mengarungi gejolak hidup. Lebih-lebih, dewasa ini ketika isu kesehatan mental mencuat. Makna menciptakan harapan, begitu pula sebaliknya. Tanpa keduanya, seseorang bisa jatuh dalam jurang depresi. Akan tetapi, sekalipun gratis, kita tak boleh asal berharap.
Sewaktu kuliah, saya ingat pernah membaca komik Naruto. Di salah satu edisi, Tobi, sang vilain, dengan sinis menyamakan harapan dengan menyerah, menyiratkan bahwa harapan adalah pelarian dari kenyataan. Nalar tersebut menekankan bahaya ”wish”, angan kosong, yang membelenggu seseorang dalam ilusi. Namun, harapan sejati, ”hope”, lain.
Hope, harapan sejati, disertai tindakan dan masuk akal. ”Pikirkan apa pun yang mungkin dicapai secara manusiawi dan cocok berada di dalam jangkauanmu juga,” kata Marcus Aurelius dalam Meditasi. Dengan tujuan dan makna, walau sengsara, seseorang mampu menjalani hidup. Seperti kata Friedrich Nietzsche, mereka yang memiliki alasan untuk hidup dapat menghadapi hampir segala hal.
Mari kita bayangkan seorang petani yang menanam benih di tengah kemarau. Ia tak tahu pasti kapan hujan turun dan apakah panennya bakal sukses. Namun, ia tetap menanam dan merawat ladangnya. Adakalanya, hasil tak sesuai harap; mungkin hama menyerang atau hujan terlambat datang. Akan tetapi, jika ia berhenti menanam, kemungkinan panen akan lenyap sepenuhnya. Harapan, bagi petani, bukanlah keyakinan buta bahwa semua akan berjalan mulus, melainkan keyakinan bahwa upayanya punya peluang.
Kebanyakan orang, seperti si petani, menjalani hidup di tengah ketakpastian, bertaruh pada usaha yang belum tentu berhasil. Tapi, dalam prosesnya, mereka mendapat kekuatan untuk tetap melangkah. Frankl percaya bahwa yang dibutuhkan manusia bukanlah kondisi tanpa tekanan, melainkan upaya dan perjuangan meraih tujuan.
Dan tujuan itu, barangkali, tak perlu muluk. Layaknya Sisifus, manusia masa kini tak bisa lolos dari rutinitas tak berujung yang tampak sia-sia. Namun, seperti Albert Camus yang memandang Sisifus pun bisa bahagia, kita juga dapat menemukan makna di tengah keseharian yang monoton. Camus benar, di dunia yang absurd ini, tampaknya tak ada cara lain untuk sintas selain menerima absurditas itu dan menciptakan makna sendiri.
Apa yang terjadi pada Dias di kaki benua agaknya membuktikan postulat Nietzsche yang berbunyi: apa yang tak membunuhmu, menjadikanmu lebih kuat. Dias beruntung telah selamat dari badai dan kelaparan di segara. Ia memang tak berhasil mencapai India, namun pelaut itu telah membukakan jalan bagi bangsanya ke tujuan mereka semula. Ia, meski tak melihatnya, telah menemukan harapan di ujung tanjung.
Kisah Tanjung Harapan, Viktor Frankl, Sisifus, hingga realitas manusia modern menunjukkan bahwa makna dan harapan tidak datang dari luar, tetapi diciptakan di dalam diri. Harapan sejati bukanlah ilusi, melainkan lentera yang membantu kita membaca situasi, menentukan langkah, dan mantap pada tujuan.
Seperti Dias yang memilih pulang demi membuka jalan bagi penjelajah berikutnya, harapan juga mengajarkan kita kapan harus melangkah, kapan harus berhenti, dan kapan harus berputar arah. Dalam samudra kehidupan, harapan tidak melulu berarti terus berlayar, tapi juga kesabaran untuk menunggu badai reda, mengubah cara pandang, dan menemukan jalan ke tujuan.
Pada akhirnya, tantangan dan absurditas dunia adalah bagian dari perjalanan manusia. Harapan memberi kekuatan untuk bertahan, menerima, dan menciptakan makna di tengah keterbatasan. Dengan begitu, kita tak cuma bertahan, tapi juga merangkai arti yang membuat hidup layak dijalani. Jadi, apa harapan Anda tahun ini? (*)
