
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Menjelang berakhirnya pameran seni kontemporer terbesar di Surabaya, ARTSUBS, pemandangan pengunjung yang sibuk berswafoto di depan instalasi seni semakin menegaskan terjadinya pergeseran dalam cara seni diapresiasi di era digital. Alih-alih menjadi ruang untuk berkontemplasi dan kritik sosial, galeri seni kini kerap berfungsi sebagai latar belakang estetis untuk membangun citra diri di media sosial.
SALAH satu momen menarik di ARTSUBS adalah antrean panjang pengunjung yang ingin berswafoto di depan instalasi Seanergy. Karya berupa seni rajutan berbagai makhluk laut berwarna merah jambu itu merupakan karya kolaborasi seniman Arkiv dan Mulyana (Mang Moel).
Mang Moel yang dikenal dengan eksplorasi dalam seni rajut menghadirkan Seanergy sebagai kritik terhadap isu lingkungan. Terutama pencemaran laut sekaligus simbol kolaborasi manusia dengan alam. Ironisnya, karya yang bertujuan menggugah kesadaran akan keberlanjutan lingkungan hidup itu kerap hanya dilihat sebagai latar belakang estetis untuk swafoto tanpa memperhatikan esensi pesan yang ingin disampaikan sang seniman.
Dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman, fenomena itu mencerminkan bagaimana individu memanfaatkan galeri seni sebagai front stage untuk memproyeksikan identitas ideal kepada audiens online. Seni yang seharusnya menjadi pusat perhatian direduksi menjadi background. Pengunjung yang menjadi subjek swafoto mengambil posisi foreground.
Pergeseran itu menciptakan paradoks berupa karya seni diperlakukan sebagai alat pendukung, bukan lagi medium refleksi atau pemicu dialog sosial. Thorstein Veblen dalam teori konsumsi mencatat bahwa perilaku seperti itu dapat dimaknai sebagai upaya menunjukkan status sosial. Di era digital, validasi sosial melalui jumlah likes dan comment menjadi simbol prestise baru. Kehadirannya menggantikan pemahaman dan apresiasi terhadap karya seni itu sendiri.
Lebih jauh, perilaku tersebut juga mencerminkan konsep kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan yang berada di puncak piramida Maslow kini sering diwujudkan melalui swafoto yang berfungsi sebagai alat memperoleh validasi digital. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang di mana individu berlomba-lomba berupaya memenuhi kebutuhan eksistensial mereka untuk terlihat, diterima, dan dihargai. Seni, dalam hal ini, hanya menjadi pelengkap untuk menciptakan citra diri yang diakui komunitas virtual.
Lantas, bagaimana galeri seni merespons tren itu? Beberapa institusi seni justru memanfaatkan tren swafoto sebagai peluang menarik pengunjung yang lebih luas, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan terhadap seni. Desain ruang pameran yang Instagrammable menjadi strategi baru yang mendorong interaksi antara pengunjung dan seni. Meskipun sering kali mengorbankan makna intrinsik karya tersebut. Pendekatan itu berhasil meningkatkan kunjungan sekaligus tantangan baru. Yakni, bagaimana menjaga otonomi seni dalam menghadapi komersialisasi dan tekanan pasar digital?
Di sisi lain, budaya swafoto juga menciptakan peluang ekonomi bagi berbagai pihak. Galeri seni mendapat publisitas gratis melalui unggahan media sosial, sementara seniman kerap meraih eksposur lebih besar. Bahkan, seniman kontemporer kini merancang karya yang secara eksplisit mengundang partisipasi pengunjung sebagai bagian dari seni itu sendiri. Namun, pendekatan itu dapat mereduksi hubungan antara seniman dan pengamat menjadi transaksi visual yang dangkal, di mana karya seni lebih dihargai karena daya tarik visualnya daripada kedalaman maknanya.
Meski demikian, potensi positif budaya swafoto di dunia seni tidak boleh diabaikan. Budaya itu telah meningkatkan aksesibilitas terhadap seni, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan media digital. Seni tidak lagi eksklusif untuk kalangan tertentu. Galeri seni kini menjadi ruang yang lebih inklusif dan demokratis. Swafoto dapat digunakan sebagai cara menciptakan interaksi yang lebih bermakna dengan seni. Dengan mengarahkan narasi dalam unggahan mereka, pengunjung dapat merefleksikan karya seni dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi atau isu sosial yang relevan.
Perkembangan teknologi ponsel pintar dan platform media sosial memfasilitasi budaya itu. Kamera berkualitas tinggi dalam ponsel pintar memungkinkan siapa saja menangkap momen dengan mudah, sementara algoritma media sosial mendorong pengguna terus membagikan pengalaman visual. Di era globalisasi, tren tersebut tidak hanya mencerminkan homogenisasi budaya visual, tetapi bagaimana seni menjadi bagian dari budaya konsumsi global. Pengalaman seni yang dulu bersifat lokal dan personal kini menjadi fenomena global yang distandardisasi melalui lensa media sosial.
Pada akhirnya, dominasi swafoto sebagai foreground dan seni sebagai background mencerminkan hubungan kompleks antara seni, identitas, dan teknologi di dunia kontemporer. Fenomena itu menghadirkan paradoks antara ironi sekaligus peluang. Yakni, seni kehilangan sebagian makna intrinsik, namun menemukan audiens baru yang lebih luas. Tantangan bagi institusi seni adalah menemukan cara untuk memanfaatkan tren itu tanpa mengorbankan nilai-nilai seni.
Di era di mana validasi digital mendominasi, ARTSUBS menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara apresiasi seni yang otentik dan tuntutan pasar digital yang terus berkembang. ARTSUBS, dengan segala daya tarik kontemporernya, menjadi cerminan kondisi paradoks antara kebutuhan manusia untuk berekspresi, mengonsumsi seni, dan pengaruh teknologi digital yang semakin mengubah cara kita berinteraksi dengan seni. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
