Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 November 2024 | 17.18 WIB

Pentingnya Sesi Nonkompetisi dalam Sebuah Festival Film

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Oleh AKBAR YUMNI

---

Salah satu agenda terpenting dari UU Pemajuan Kebudayaan 2017 adalah perihal inklusivitas. Secara umum, inklusivitas bisa diandaikan pengakuan akan perbedaan atau pengakuan terhadap yang liyan. Namun, berbeda dengan toleransi yang mengakui perbedaan dan keragaman, di dalam inklusivitas mengandaikan bagaimana bersama yang liyan bisa tumbuh bersama-sama.

KATA kunci tumbuh bersama-sama dengan yang liyan inilah yang kemudian keragaman budaya bukan sekadar bentuk pengakuan dan terbuka terhadap keragaman itu sendiri, namun juga bagaimana mendorong kebudayaan yang liyan juga sebagai sebuah ekosistem sebagai sebuah dialog di antara entitas yang beragam.

FFD (Festival Film Dokumenter) Jogjakarta 2024 (berlangsung 2–9 November) adalah sebuah perjalanan panjang festival film berbasis dokumenter yang sejak lama berusaha membangun keragaman sebagai sebuah ekosistem yang diperlihatkan dari sesi kompetisi dan sesi program sayap yang nonkompetisi. Pada sesi kompetisi di ekosistem FFD memperlihatkan bagaimana keragaman kompetisi dibangun. Mulai tingkat pelajar hingga tingkat nasional dan internasional yang di dalamnya mencoba mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan lain di dalam bahasa sinema dari beragam ekosistem yang berlangsung di Indonesia.

Sesi nonkompetisi di dalam FFD menjadi cukup menarik karena memuat banyak program, seperti Restropektif, Landskap, Utopia/Distopia, dan seterusnya, di mana selain film-film yang tidak lolos dari sesi kompetisi juga dihadirkan sebagai sebuah pembacaan dari keragaman bahasa sinema di dalam sebuah festival. Ini juga menghadirkan karya-karya film yang bersifat wacana dan eksperimentatif sebagai andaian sebuah festival film juga produksi dan pertukaran pengetahuan.

Festival film sering kali dianggap sebagai penanda pencapaian sebuah karya ”terbaik”. Kecenderungan inilah yang kemudian membuat sering kali juga sebuah festival menjadi eksklusif ketimbang inklusif karena membangun semacam hierarki kebudayaan di dalam sebuah perhelatan dalam ekosistem kompetisi. Namun, jauh lebih penting bagaimana sebuah festival film adalah sebuah semangat inklusi, di mana mengandaikan festival sebagai sebuah forum pertukaran dan pengetahuan yang di dalamnya juga mengakomodasi ruang-ruang keragaman bahasa sinema.

Program sayap menjadi ukuran yang sangat penting di dalam festival, yang menghadirkan karya-karya nonkompetisi, atau karya yang tidak lolos sesi kompetisi, sebagai sebuah pemetaan dan pembacaan kecenderungan bahasa sinema yang berlangsung pada sebuah festival film. Program sayap ini juga usaha membangun ekosistem keragaman, dengan memperbanyak ruang putar sebagai memperbanyak ruang keragaman.

Tentu saja keragaman sesuatu yang diandaikan secara terus-menerus karena selalu saja ada yang liyan yang lain yang terus-menerus bermunculan. Pengalaman membaca karya-karya nonkompetisi di FFD membuka ruang terhadap spekulasi-spekulasi terhadap pembacaan karya-karya film yang masuk, untuk kemudian membawanya sebagai peluang kemungkinan segar dari bahasa sinema yang lebih luas.

Keberpihakan menjadi kata kunci penting di dalam pembacaan film-film di festival, umumnya keberpihakan terhadap keragaman dan khususnya adalah karya-karya yang sangat personal, atau karya-karya dokumenter yang berangkat dari hal-hal yang tidak kasatmata seperti mimpi, trauma, mitos, dan sebagainya. Bahan baku yang tidak kasatmata tersebut justru memberikan peluang baru bagi bahasa sinema dokumenter. Ketika film dokumenter bekerja dengan bahan baku hal yang tidak kasatmata, tentu saja eksperimentasi dan juga membutuhkan hal-hal yang fiksional, atau penggunaan medium seni yang lain dalam mencapai hal yang tidak kasatmata tersebut.

Kata kunci penggunaan hal-hal fiksional bagian dari agenda perluasan pengertian film dokumenter itu sendiri. Khususnya bagaimana film dokumenter bekerja hari ini, yang dalam konteks tertentu pengertian awalnya dari John Grierson, sebagai treatment kreatif terhadap hal yang aktual sudah tidak memadai lagi. Atau distingsi hal yang fiksi dan nonfiksi sebagai langgam yang justru membatas bagaimana film dokumenter bekerja dalam pengalaman kontemporer. Dalam konteks ”lokalitas” masyarakat Indonesia, hal-hal yang tak kasatmata, masa lalu, seperti mimpi, trauma, mitos, dan sebagainya, adalah bahan baku yang sangat kaya dan justru dalam konteks tertentu, masyarakat kita juga sangat dekat dengan hal yang sangat tidak kasatmata ketimbang yang kasatmata. Ini kemudian bagaimana film dokumenter berusaha menangkap yang ”riil” ketimbang realitas (kasatmata) itu sendiri.

Karya-karya yang tidak lolos kompetisi sering kali tidak mendapatkan tempat di dalam sebuah festival film, dan bagaimana pembacaan dan keberpihakan menjadi kata kunci penting dari karya-karya yang tidak lolos sesi kompetisi dalam sebuah festival film. Di dalam program-program sayap FFD ini, banyak memuat ruang karya-karya yang tidak lolos festival, sebagai ekosistem menjaga keragaman dan inklusivitas bahasa sinema.

Nah, ketika membaca karya-karya nonkompetisi ini, justru kita bisa melihat peta kecenderungan bahasa sinema yang berlangsung di Indonesia. Sekaligus kepekaan membaca kemungkinan-kemungkinan bahasa sinema eksperimentatif yang patut dijadikan eksemplar bagi kemungkinan segar perkembangan bahasa sinema Indonesia. Momen-momen para karya nonkompetisi ini juga momen para sinefilia, yang tidak lagi memandang film sebagai budaya-budaya tinggi atau rendah, atau budaya film yang justifikasi oleh para juri dan pengamat film ternama. Program sayap nonkompetisi pada dasarnya adalah festival yang festive itu sendiri, merayakan keragaman dan keasyikan menonton secara personal tanpa pretensi yang terinstitusikan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore