
ILUSTRASI. (BAGUSJAWA POS)
Hirayama adalah Sisifus yang menjalani kutukan sambil bernyanyi, ”I see trees of green, red roses too. I see them bloom for me and you. And I think to myself, What a wonderful world.” Bujangan paro baya di film Perfect Days (2023) karya Wim Wenders itu menanggung hari-harinya dengan khidmat sebagai juru bersih toilet umum yang tak lupa menikmati musik, fotografi, ramen, dan novel. Di ”abad yang berlari”, masihkah kita mampu mengemban kutukan kerja dengan bahagia?
Jika bekerja ditunaikan sebagai ikhtiar untuk ”menunjang hidup”, sebaiknya kita memperluas klausa tersebut. Sebab, hidup bukan soal makan-minum belaka. Hidup, bagi makhluk berakal budi, juga menyangkut perkara nirragawi. Orientasi kerja sungguh tak cuma tentang bisnis perut. Bekerja merupakan wujud aktualisasi diri ketika individu hendak mencapai eksistensi optimumnya sebagai manusia –ucapkan amin untuk Abraham Maslow.
Yang tak kalah urgen, bekerja memberi makna atas kehadiran seseorang di dunia. Menjadi penganggur kerap menekan seseorang bukan karena ia tak bisa memenuhi nafkah biologis. Tunakarya acap mendesak seseorang mengutuk hari kelahirannya lantaran keberadaannya di bumi tak memiliki arti. Pertanyaan, ”Ngapain masih kerja, padahal sudah kaya?” mentah di hadapan mereka yang memahami esensi bekerja sebagai pemisah sifat insaninya dengan makhluk lain.
Tapi, di zaman judi daring, ”aktualisasi diri” agaknya terdengar so yesterday. Kini, gimana caranya aku tajir dan tenar tanpa memeras keringat. Dulu, cuma mereka yang cakap berakting dan bernyanyi yang layak berlaga di televisi. Di era YouTube dan TikTok, bahkan si medioker pun keranjingan jadi seleb.
Mental ngepet tersebut menyangkal bahwa membanting tulang dan konsistensi seteguh karang merupakan syarat keberhasilan. Kita sering menyaksikan, tanpa kemampuan memadai, ”artis” instan yang cepat meledak di jagat hiburan, singkat pula gema ledaknya. Lompatan trayektori semacam ini memang tak selaras dengan hukum alam yang berdenyut lembut dan anggun. Mungkin benar kata orang, shortcuts will never work.
Bisa saja kita menodong telunjuk pada seluruh kegaduhan flexing di media sosial yang diam-diam membikin diri merasa paling kerdil: vlog norak bani OKB, properti mehong tetangga sebelah, dan status WhatsApp bulan madu pengantin baru di Pulau Hindia Molek. Rayuan maut layar gawai bahkan boleh jadi faktor paling bertanggung jawab yang menyebabkan pewaris generasi emas sukar menemukan kapabilitas diri sehingga dicap ”kutu loncat” karena doyan gonta-ganti pencaharian.
Latah, kepengin seperti orang lain, berpotensi mengubur kesempatan bahwa sebenarnya aku berbakat besar jadi joki tong edan. Kesetiaan pada tugas keaparatan seharusnya membuatku tekun melayani darma kepolisian dengan menepis godaan alih profesi meski dihujani tepuk gemuruh karena geboy berjoget ”Chaiyya Chaiyya” –kecuali memang salah lubang sejak awal. Seluruh statemen ini terdengar seperti klaim status quo kaku mengingat dunia telah kehilangan watak ortodoksnya. Tapi, jika semua orang berpaling dari jalan ninjanya, planet bumi bakal sesak oleh kesemenjanaan. ”Ah, mana ada di negeri ini yang tidak tiba-tiba, May. Ingat si Mamat, teman kita itu, pengusaha jadi penyair. Si Jendul yang pelatih sepak bola, tiba-tiba jadi raja kapal. Dan si Mimin, dari pengusaha real estat, jadi budayawan dia sekarang,” sindir film Cinta dalam Sepotong Roti (1991) karya Garin Nugroho melalui tokoh Topan.
Diakui atau tidak, memang sulit mengabdi pada ”kasta diri” di panggung yang memberi lampu sorot terlampau silau pada gengsi. Agar teguh posisi, pertama-tama kita mesti memeluk iman sapere aude dan yakin bahwa ”neraka adalah orang lain”. Pencerahan hanya memancar kepada mereka yang berdikari dalam menentukan hidup tanpa bertumpu di pundak otoritas liyan. Di dunia nyata, sesungguhnya kita memiliki figur bonek seperti Hirayama.
Sosok itu bernama Maharlikha, pria Banjarnegara yang sepotong riwayatnya dibingkai Mahatma Putra dalam film dokumenter Terpejam untuk Melihat (2024). Ia berani hidup dalam ukuran ”miskin” ala statistik. Mulanya, ia karyawan kantoran di kota. Tapi, sebuah kelokan nasib menggiring Maharlikha untuk membelot sepenuhnya dari sistem ekonomi, sistem negara. Hidup dalam anarkisme tanpa jargon, ia mendaku bahwa uang kehilangan arti ketika manusia benar-benar menggantungkan hayat pada alam dan mengenali pola-polanya yang sulit ditebak.
Ketika banyak orang berlomba-lomba mengejar kehidupan kota, Maharlikha ”mundur” ke desa. Kemerdekaan adalah kata lain melawan arus ”normal” yang baginya absurd. Dan dengan melankolia Sapardian, ia berkata bahwa tanpa memilih wakil rakyat, kita masih mampu bertahan hidup, ”tapi tanpa hujan, kita tak bisa hidup.”
Manifesto kealaman juga dihayati Dicky Senda ketika melepaskan pekerjaan sebagai pegawai di kota dan memilih tinggal di kampung halamannya. Berbeda dengan Maharlikha yang soliter, Dicky membangun hidup komunal untuk menegakkan kedaulatan pangan lokal, kearifan adat, dan ketakziman mutlak pada lingkungan fisik.
Pemuda Mollo itu kerap mengecam paradigma penyeragaman sebagai residu sistem negara bangsa yang menyingkirkan pengetahuan tradisional. Padahal, khazanah kultur lama justru lebih teruji dalam menyokong daya sintas masyarakat etnis. Sebab, angin kebudayaan orang-orang suku telah mengarungi waktu relatif panjang untuk ”bertukar tangkap” dengan atmosfer dan perangai geografis setempat.
Tentu, laku ora umum ketiga tokoh kita bertabrakan dengan kaum karbitan yang kini memboyong batu Sisifus dengan buldoser. Di gunung seberang, Hirayama, Maharlikha, dan Senda mendorong batu Sisifusnya sambil bersiul bersama Louis Armstrong, ”Kutatap langit biru, awan putih, hari cerah, serta malam suci nan legam. Lalu, kuberbisik pada diri, Betapa indahnya dunia.”
Di bawah tekanan yang dipicu hasrat untuk menggenapi standar dunia orang lain, kita memang perlu heran bahwa hidup boleh seindah itu. (*)
---

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
