
ILUSTRASI. (NANA/JAWA POS)
Bagaimana nasib Bung Karno pada masa depan ketika semua orang sudah meninggalkan sistem pembayaran dengan duit (cashless)? Mungkin ada yang bingung dengan pertanyaan ini mengingat Bung Karno sudah wafat pada 21 Juni 1970. Artinya, beliau sudah meninggalkan kita semua sejak 54 tahun yang lalu.
KITA memasuki zaman yang serbamodern, di mana penggunaan uang tunai (cash) mulai tergantikan dengan pembayaran digital. Kita sedang berevolusi menuju cashless society atau masyarakat yang lebih memilih transaksi memakai kartu debit, kartu kredit, sistem QRIS, atau berbagai aplikasi dompet digital yang ada di ponsel kita.
Sisi positifnya, transaksi digital akan makin praktis karena pembeli bisa mentransfer berapa pun nominal uangnya secara pas. Sementara di level makro, sistem pembayaran nontunai terbukti membuat bisnis dan investasi berjalan lebih efisien. Roda perekonomian bergerak lebih cepat. Transaksi nontunai juga konon dinilai lebih aman.
Namun, di balik kelebihan-kelebihan, ada satu hal yang menggelitik sejarawan seperti saya. Bayangkan jika ke depan sistem nontunai mendominasi transaksi jual beli, apakah generasi muda akan semakin tidak mengenal para pahlawan yang gambarnya terpampang dalam uang rupiah kita?
Beberapa orang akan menilai kekhawatiran ini berlebihan. Namun, faktanya uang rupiah dicetak pemerintah tidak hanya untuk kepentingan transaksi. Uang rupiah juga dimaksudkan sebagai sarana memperkenalkan para tokoh yang pernah berjasa bagi kemerdekaan Indonesia.
Mula-mula kita harus membedah dasar hukum dan alasan kenapa ada gambar pahlawan dalam uang tunai kita. Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang disebutkan, Pasal 7 ayat 1 menyebutkan ”Gambar pahlawan nasional dan/atau presiden dicantumkan sebagai gambar utama pada bagian depan rupiah”.
Pertanyaannya, apa urgensinya? Bagi saya setidaknya ada dua. Pertama, memperkenalkan para pahlawan nasional. Kedua, mendorong konstruksi nasionalisme.
Terkait kepentingan yang pertama, kita bisa mengutip Agus Martowardojo dalam bukunya, Pembawa Perubahan (2019). Mantan gubernur Bank Indonesia itu mengemukakan gambar muka pahlawan nasional atau presiden yang sudah wafat adalah bentuk penghormatan sekaligus cara memperkenalkan tokoh-tokoh nasional kepada masyarakat luas.
Pahlawan nasional adalah pejuang kemerdekaan dan pejuang kebudayaan yang berjasa dalam memerdekakan Nusantara dari cengkeraman penjajah. Mereka juga berjasa dalam membangun fondasi bangsa dalam berbagai aspek, seperti ideologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Karena itu, profil mereka patut diabadikan dalam berbagai format, salah satunya lewat foto pada mata uang rupiah kita. Dengan melihat wajahnya tiap kali melakukan transaksi, orang-orang diharapkan akan penasaran, siapakah dia? Kenapa wajahnya muncul dalam uang yang ia pegang?
Harapannya, orang tersebut kemudian ingat, tokoh yang sama pernah ia baca di buku sejarah sekolah. Lebih lanjut, ia akan mencari info terkait rekam jejaknya, seperti apa pemikirannya, apa yang ia lakukan di masa-masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Pengetahuan semacam ini bisa menjadi sumber teladan dan inspirasi, khususnya bagi generasi muda yang akan menerima ”tongkat estafet” pembangunan.
Nah, dalam konteks itulah saya menanyakan nasib Bung Karno kelak, ketika semua orang meninggalkan uang kertas sebagai alat pembayaran dan beralih menggunakan aplikasi. Sudah bisa dipastikan nasib beliau beserta pahlawan lain yang selama ini tercetak di uang kertas perlahan-lahan akan dilupakan.
Terkait kepentingan kedua, yakni konstruksi nasionalisme, kita bisa mengutip pendapat Emily Gilbert dan Eric Helleiner dalam tulisan mereka yang berjudul Nation-States and Money: The Past, Present and Future of National Currencies (2005).
”Mata uang dalam sebuah teritorial mampu membangun kesepahaman, kesatuan, dan nasionalisme melalui penyampaian simbol-simbol kedaulatan negara di dalam mata uang tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadikan mata uang sebagai media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan nasionalisme ketimbang bendera atau lagu kebangsaan.”
Mengapa efektif? Sebab, uang adalah alat pembayaran yang dipakai secara seragam oleh ratusan juta orang yang tinggal di seluruh wilayah Indonesia. Selain gambar pahlawan, simbol-simbol kenegaraan yang terpampang dalam uang bisa tersampaikan secara efektif kepada seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, di desa hingga perkotaan, sebab semua orang memegang uang yang sama.
Dengan demikian, jika kita hubungkan dengan disiplin ilmu semiotika, uang mengandung fungsi komunikasi yang efisien antara pemerintah dan rakyat.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
