
ILUSTRASI
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Idul Fitri selalu memiliki segmen tersendiri di berbagai sektor Indonesia. Banyak orang datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli barang-barang berkaitan dengan hari raya tersebut. Memanfaatkan momen itu, berbagai perusahaan produksi pun mengeluarkan produk-produk bertema Idul Fitri. Pakaian menjadi salah satu barang yang paling banyak dibeli.
MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan seperti mal akan semakin ramai. Beragam model pakaian dijual di sana. Bagi toko-toko di dalam mal, kehadiran manekin bagai barang yang wajib untuk mendukung visualisasi pakaian yang mereka jual ketika dikenakan. Manekin sebagai alat memajang pakaian hadir sebagai budaya di tengah masyarakat yang tidak lagi menjahit pakaiannya sendiri. Sayangnya, manekin-manekin yang dipajang di toko memiliki fitur yang sama: tinggi, putih, dan langsing. Padahal, bentuk fisik manusia sangat beragam, baik dari warna maupun ukuran.
Barbie Versi Besar
Berbicara mengenai manekin membawa ingatan kita pada Barbie. Bentuk manekin tampak seperti Barbie di awal kemunculannya, hanya ukuran manekin lebih besar menyerupai ukuran manusia. Pada paro kedua tahun 2023, film Barbie menjadi topik yang hangat dibicarakan oleh masyarakat dunia. Selain mengangkat isu gender, Barbie mampu menunjukkan bahwa mereka berprogres dalam menciptakan dunia yang lebih inklusif. Hal itu tecermin dari berbagai model dan warna tubuh karakter yang ditampilkan. Selain melalui film, saat ini dalam versi mainan, Barbie telah meluncurkan berbagai tipe tubuh, warna kulit, warna mata, hingga gaya rambut.
Apa yang dilakukan perusahaan Barbie menarik respons positif dari berbagai konsumen di dunia. Banyak orang merasa lebih dihargai dan diwakili dengan munculnya berbagai jenis Barbie. Hal itu patut diaplikasikan pada manekin-manekin di toko pakaian.
Penciptaan Standar
Manekin-manekin di toko pakaian umumnya memiliki tinggi 165 cm. Padahal, survei menurut World Population Review, secara keseluruhan rata-rata tinggi badan orang Indonesia adalah 157,9 cm. Tinggi badan manekin tentu kurang mewakili kebanyakan orang Indonesia. Selain itu, warna kulit hingga bentuk rambut manekin yang saat ini terdapat di mal-mal Indonesia secara umum masih terbatas mewakili sebagian dari masyarakat yang benar-benar ada.
Manekin juga berkontribusi dalam menciptakan kerangka berpikir mengenai bagaimana standar bentuk tubuh pasangan laki-laki dan perempuan yang ideal. Tidak jarang, dua manekin yang memvisualisasikan pasangan laki-laki dan perempuan selalu menunjukkan bahwa manekin laki-laki memiliki tubuh yang lebih tinggi dibanding manekin perempuan. Padahal, realitas yang ada di dalam masyarakat, terdapat pasangan di mana perempuan memiliki tubuh yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Secara tidak langsung, manekin berpengaruh dalam membangun selera masyarakat dalam memilih bentuk tubuh orang yang ingin dijadikan pasangan. Konsep yang dibangun melalui manekin-manekin tersebut dapat menjadi standar beracun.
Pusat perbelanjaan seharusnya bisa menjadi tempat yang lebih inklusif. Salah satu prinsip inklusi menurut UNESCO adalah aksesibilitas, yaitu semua orang harus memiliki akses yang sama ke semua layanan dan sumber daya. Istilah inklusif baiknya tidak hanya dimaknai sebagai kesetaraan akses bagi para penyandang disabilitas. Lebih dari itu, inklusif adalah kesetaraan bagi semua orang. Manekin yang lebih bervariasi akan meningkatkan citra tubuh yang positif sehingga tidak akan ada perasaan tidak nyaman karena merasa memiliki tubuh yang dianggap tidak ideal.
Pendekatan Emosional
Sebenarnya terdapat berbagai ukuran baju yang diproduksi oleh sebuah brand. Namun, ukuran yang senantiasa dipajang menggunakan manekin adalah ukuran yang sama yang hanya bisa dikenakan pemilik tubuh ramping. Jika para pekerja di sektor pakaian mau melihat lebih jauh, dibanding mempertahankan kemapanan konsep bentuk tubuh ideal yang sudah terkonstruksi saat ini, akan lebih baik untuk merangkul konsumen secara luas.
Ketika calon pembeli melihat manekin dengan bentuk yang mendekati tubuh mereka, mereka akan lebih mudah memperkirakan bagaimana jika pakaian tersebut mereka kenakan. Kedekatan emosional antara konsumen kepada produk pakaian akan tercipta didasari suatu persamaan latar belakang. Dampak positif yang akan dirasakan oleh produsen pakaian adalah meningkatnya penjualan.
Selain menciptakan inklusivitas di tengah dunia fashion, menarik konsumen menggunakan pendekatan emosional bisa dilakukan sebagai salah satu upaya strategi di dunia pemasaran (marketing). Kusuma dan Suwitho (2015) mengatakan bahwa indikator dan faktor emosional meliputi rasa senang, rasa bangga, rasa percaya diri, dan rasa nyaman. Menghargai bentuk tubuh konsumen dan membuat mereka mencintai diri sendiri jauh lebih elok dibandingkan menciptakan standar yang tidak bisa diikuti semua orang.
Secara etika, menampilkan manekin yang beragam di toko pakaian adalah hal penting untuk menghindari kegiatan mempromosikan standar kecantikan yang tidak sehat. Pada akhirnya, penggunaan manekin yang lebih realistis dapat membantu meningkatkan citra tubuh yang positif, meningkatkan penjualan, dan membuat toko lebih inklusif. (*)
---

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
Tempat Kuliner Bakmi Jawa Terenak di Jogja: Dimasak Pakai Arang, Rasanya Semakin Nendang
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Prediksi Skor Bayern Munich vs Real Madrid! Dua Raksasa Berjibaku Demi Tiket Semifinal Liga Champions, Siapa Bakal Melaju?
