Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Februari 2024, 13.30 WIB

Musik, Hujan, dan Kenangan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Musim hujan datang! Hujan, dengan segala keunikan dan dinamikanya, telah menjadi sumber inspirasi tak terputus dalam dunia musik. Musisi, melalui penggunaan elemen hujan, mampu menciptakan narasi yang menggambarkan spektrum emosional mendalam.

PADA banyak karya musik, hujan bukan sekadar latar belakang auditif, tetapi menjadi bahasa simbolis yang memperkaya makna. Hujan dalam musik memiliki kemampuan untuk membangun atmosfer unik. Suara hujan yang diintegrasikan dalam karya musik menciptakan pengalaman audiovisual memikat. Efek suara tetesan air atau gemercik hujan dapat memberikan dimensi taktile pada pengalaman mendengarkan, membuat pendengar terlibat secara langsung dalam komposisi. Hujan dalam musik tidak hanya menggambarkan emosi, tetapi juga menciptakan lingkungan imersif, memperdalam pengalaman mendengarkan dan meningkatkan daya ungkap musik itu sendiri. Terlepas dari itu, tentulah hujan banyak berkisah tentang kenangan, mantan, sakit hati, dan air mata.

Sebagaimana dalam lagu Rhythm of the Rain (1962) dari The Cascades. Dalam lagu itu, hujan bukan sekadar fenomena alam, namun simbol kehilangan dan kesedihan. Lirik-lirik seperti ”Listen to the rhythm of the falling rain, Telling me just what a fool I’ve been” menciptakan gambaran emosional kuat di mana hujan menjadi penafsir perasaan atas kecewa dan kesedihan akut. Ada nuansa melankolis, membawa pendengar masuk ke dalam perasaan yang sangat personal. Begitu juga dengan Set Fire to the Rain (2011) dari Adele, menggambarkan perasaan kompleks pada hubungan cinta yang telah berakhir. Hujan digunakan sebagai metafora (selayaknya dalam puisi) untuk melukiskan intensitas emosi dan kepedihan. Dalam lirik ”But I set fire to the rain, watched it pour as I touched your face”, Adele menciptakan citra dramatis di mana hujan mengisahkan konflik asmara yang tak lekas reda.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa lagu berkisah tentang hujan. Ada Desember (2007) karya Efek Rumah Kaca, menciptakan gambaran visual dan emosional tentang keindahan dan nostalgia musim hujan. Begitu juga dengan Hujan Bulan Juni (1989) dari Ari Reda, dengan lembut merangkul pendengar dalam melodi melankolis, memancarkan nuansa hujan pada bulan Juni yang penuh kenangan atas kerinduan. Ada juga Musim Hujan (2019) dari Hivi!, Pelangi dan Hujan (2020) dari Fatin Shidqia. Suara hujan dalam lagu menjadi metafora, menggambarkan perasaan babak belur dilanda rasa kangen atas mantan, masa lalu, dan sakit hati karena ditinggalkan. Hujan dengan demikian adalah nostalgia, monumen pengekalan atas ingatan. Lagu seperti Hujan Turun (2011) dari Sheila On 7 membuktikan bahwa hujan mampu melempar imaji pendengar pada perjalanan kenangan masa lalu, mengajak pendengar merenung dan mengenang dengan senyum atau sebaliknya, tangis dan air mata.

Puncak monumental dari hujan dan rintihan tentulah lagu berjudul Antara Benci dan Rindu (1986), karya Obbie Messakh, dipopulerkan oleh Ratih Purwasih. Dengan lirik nostalgik, ”Yang, hujan turun lagi, Di bawah payung hitam kuberlindung. Yang, ingatkah kau padaku? Di jalan ini dulu kita berdua”, membawa generasi Orde Baru memasuki episode pemuda cengeng di tahun ’80-an dan ’90-an. Lirik lagu membuat sebagian anak muda Indonesia di zamannya membenci sekaligus merindukan hujan. Sayup-sayup ingatan tentang mantan hadir, meneror, dan menjebak di tengah gemuruh suara tetesan air di genting, jalan, dan tubuh yang basah. Hujan memang beraninya hanya keroyokan, membuat seseorang tak mampu menghindar, setidaknya dari kenangan. Ah!

Bunyi dan Hujan

Mari kita bergerak agak lebih ilmiah, meninggalkan sedikit jebakan kenangan atas mantan di musim hujan. Hujan adalah asosiasi emosional. Penelitian oleh Denissen et al berjudul The Effects of Weather on Daily Mood: A Multilevel Approach (2008) menunjukkan bahwa kondisi cuaca tertentu, termasuk hujan, dapat berdampak pada perasaan subjektif dan aktivitas harian. Studi ini menyoroti bahwa cuaca yang kurang menyenangkan seperti hujan dapat memengaruhi respons emosional, sering kali mengarah pada perasaan melankolis. Karena itu, ada dasar empiris pada asumsi bahwa hujan memang dapat menciptakan pengaruh emosional signifikan dalam pikiran manusia. Pada gejala demikian itulah musik sengaja diciptakan, membuat penikmat kenangan pada hujan semakin babak belur dilanda asmara berlarat-larat.

Sebaliknya, musik memiliki kekuatan luar biasa untuk merangsang dan memengaruhi aktivitas otak manusia. Dengan melibatkan berbagai elemen seperti melodi, harmoni, dan ritme, musik mampu mengakses berbagai area otak yang terlibat dalam pengolahan emosi, memori, dan persepsi sensorik. Khususnya, suara atau kisah tentang hujan memiliki dampak neurologis menarik. Suara hujan, yang semua orang mengenalnya, dapat berfungsi sebagai stimulus auditif. Dengan sekadar menyebut ”hujan” dalam lirik lagu, otak manusia cenderung merespons, memicu pelepasan neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin yang terkait dengan perasaan relaksasi, kebahagiaan, dan tentu saja kesedihan (Tiffany Field et al, 2005).

Efek pelepasan (relaksasi) yang dihasilkan oleh suara hujan dalam musik membantu menciptakan suasana tepat untuk menyampaikan kisah cinta atau kerinduan. Penelitian neurologis menunjukkan bahwa kombinasi melodi dengan suara hujan menciptakan pengalaman mendengarkan yang lebih emosional dan mendalam. Dengan merangsang aktivitas otak terkait dengan emosi, musik bertema hujan dapat memberikan dimensi ekstra pada naratif kisah cinta, memungkinkan pendengar lebih terhubung dengan lirik dan melodi secara emosional. Hujan barangkali sekadar air, tapi lewat musik, darinya membawa timbunan kenangan yang sering kali datang secara tiba-tiba, tak terduga, dan merobek pada hati yang pernah terluka. Aduh! (*)

---

ARIS SETIAWAN, Etnomusikolog dan pengajar di ISI Solo

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore