
seseorang yang sulit didekati./Freepik/drobotdean
JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu seseorang yang kehadirannya menyenangkan. Mereka ramah, hangat, mudah diajak ngobrol, bahkan sering jadi pusat perhatian karena auranya yang positif.
Anehnya, ketika hubungan mulai mengarah lebih dalam—baik itu pertemanan dekat atau hubungan romantis—mereka justru tampak menjaga jarak.
Banyak orang buru-buru melabeli mereka sebagai “takut komitmen”. Namun, psikologi melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang jauh lebih dalam.
Bukan semata-mata ketakutan terhadap komitmen, melainkan hasil dari pengalaman emosional di masa kecil yang membentuk cara mereka membangun hubungan.
Baca Juga:Rahasia 4 Zodiak Paling Berpotensi Mendapat Uang Kaget di Akhir Maret 2026 Ini Terbukti Akurat
Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/3), terdapat enam kenangan atau pola pengalaman masa kecil yang sering ditemukan pada orang yang “mudah disukai tetapi sulit didekati”.
1. Kedekatan yang Tidak Konsisten dari Orang Tua
Salah satu pola paling umum adalah pengalaman dengan figur orang tua yang tidak konsisten—kadang hangat, kadang dingin. Anak tumbuh dengan kebingungan: kapan mereka akan diterima sepenuhnya, dan kapan mereka akan diabaikan.
Akibatnya, saat dewasa mereka belajar satu hal penting: kedekatan itu tidak selalu aman. Mereka bisa terlihat ramah dan menyenangkan di permukaan, tetapi ketika hubungan mulai lebih dekat, alarm emosional mereka aktif.
Mereka tidak menjauh karena tidak peduli—justru karena mereka terlalu peka terhadap kemungkinan terluka.
2. Terbiasa Menjadi “Anak Baik” atau People Pleaser
Beberapa orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus “didapatkan” dengan cara menyenangkan orang lain. Mereka belajar membaca situasi, menyesuaikan diri, dan membuat orang lain nyaman.
Hasilnya? Mereka menjadi pribadi yang sangat disukai banyak orang.
Namun di balik itu, ada jarak emosional. Mereka terbiasa menunjukkan versi diri yang “diterima”, bukan diri yang sepenuhnya autentik. Ketika seseorang mencoba mengenal mereka lebih dalam, mereka bisa merasa tidak aman—karena kedekatan berarti membuka sisi yang selama ini mereka sembunyikan.
3. Pengalaman Penolakan Emosional yang Halus
Tidak semua luka masa kecil datang dari kejadian besar. Kadang, yang paling membekas justru penolakan kecil yang berulang: perasaan tidak didengarkan, emosi yang diremehkan, atau kebutuhan yang diabaikan.
Anak belajar bahwa mengekspresikan diri secara emosional tidak selalu berujung baik. Maka, mereka mulai membangun “filter”.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
